INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Masa pengabdian seorang prajurit tidak hanya diukur dari pangkat dan jabatan. Lebih dari itu, ia diukur dari kesediaan untuk tetap hadir ketika negara memanggil.
Prinsip itu yang dipegang Kolonel Kav Edward Sitorus. Lulusan Akademi Militer 1990 ini dijadwalkan purna tugas pada awal November 2026. Namun di ujung masa dinasnya, ia justru memilih tetap turun ke lapangan, bergabung dalam Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) di Kalimantan.
Keterlibatannya berawal dari cerita sederhana. Sejumlah perwira junior mengaku sungkan memintanya bergabung dalam satgas penyuluhan dari Mabes TNI. Sebagai perwira senior yang akan segera pensiun, permintaan itu terasa tidak pantas.
Jawaban Edward lugas: ia tidak pernah menolak tugas. Bagi dia, senioritas bukan jarak untuk menghindar dari pekerjaan.
Selama masih dipercaya dan mampu, pengabdian tetap harus dijalankan.
Di Kalimantan, tugas Edward tidak berhenti memadamkan api. Ia mengajak masyarakat memahami karakter kebakaran gambut yang berbahaya.
Melalui media sosialnya, ia mengingatkan bahwa api yang terlihat padam di permukaan belum tentu selesai. Bara bisa bertahan di lapisan gambut bawah tanah dan kembali menyala sewaktu-waktu.
"Di permukaan padam, di dalam bisa masih membara," kata pria yang akrab disapa Edo itu dalam unggahannya, Rabu (14/10/2026).
Ia pun mengimbau warga untuk segera melapor jika menemukan titik api kepada aparat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, atau petugas pemadam. Ia juga mengingatkan agar warga tidak memadamkan api sendirian jika situasi membahayakan.
"Jangan jadi pahlawan sendirian," ujarnya.
Menurut Edward, dampak karhutla tidak hanya dirasakan di lokasi kebakaran. Asap dapat terbawa angin, mengganggu kesehatan, menghambat perjalanan, menyulitkan anak sekolah, hingga memengaruhi mata pencaharian.
Karena itu, pencegahan harus dimulai dari hal sederhana: tidak membakar lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan saling mengingatkan untuk menjaga gambut tetap basah.
"Menjaga gambut berarti menjaga udara yang kita hirup dan kehidupan keluarga yang kita sayangi," kata dia.
Mendekatkan TNI Lewat Media Sosial
Nama Kolonel Edward Sitorus cukup dikenal di ruang digital. Melalui akun TikTok @edwardsitorus70 dan kanal YouTube Edward Sitorus Papua Channel, ia membagikan pengalaman dinas, aktivitas TNI, hingga motivasi untuk generasi muda.
Pengalaman bertugas di Papua sejak 2010 menjadi salah satu materi yang paling banyak ia dokumentasikan. Dengan gaya komunikasi lugas, ramah, dan kebapakan, ia menjelaskan kehidupan prajurit hingga tips persiapan rekrutmen TNI.
Di tengah konten hiburan yang mendominasi media sosial, Edward memilih jalur edukasi. Ia menjadikan media sosial sebagai jembatan untuk mendekatkan TNI dengan masyarakat.
Warisan Pengabdian dalam Keluarga
Di balik seragamnya, Edward adalah ayah dari tiga anak. Putri pertamanya berkarier sebagai karyawati, sementara dua putranya mengikuti jejak pengabdian di dunia militer.
Putra keduanya merupakan lulusan Akmil dan kini berdinas sebagai perwira Kavaleri berkuda di Paspampres dengan pangkat Letnan Satu. Ia tengah menempuh pendidikan 10 bulan di Perancis sebagai pelatih kuda.
Putra bungsunya merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara dan berkarier sebagai penerbang dengan pangkat Letnan Dua.
Bagi Edward, warisan prajurit bukan sekadar profesi yang diturunkan, melainkan nilai tentang tanggung jawab, disiplin, dan kesediaan untuk menjalankan tugas.
Purna Tugas Bukan Akhir
Awal November 2026 akan menjadi penanda baru bagi Edward Sitorus. Setelah puluhan tahun mengabdi, ia akan memasuki babak kehidupan yang berbeda.
Bagi sebagian orang, masa menjelang purna tugas adalah waktu untuk bersiap meninggalkan rutinitas. Namun keterlibatan Edward di Satgas Karhutla menunjukkan hal sebaliknya: semangat mengabdi tidak berhenti hanya karena kalender dinas akan berakhir.
Dari Papua hingga Kalimantan, dari lapangan hingga media sosial, perjalanannya menggambarkan beragam wajah pengabdian seorang prajurit.
Ketika masa dinasnya selesai nanti, seragam itu mungkin akan disimpan. Jabatan akan berganti. Namun kepedulian terhadap masyarakat, lingkungan, dan generasi penerus, tidak harus ikut selesai.
Sebab, purna tugas adalah akhir dari satu babak pengabdian, bukan akhir dari kesempatan untuk memberi manfaat.