INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Pemerintah Singapura resmi mengambil tindakan terhadap tujuh perusahaan di Indonesia yang diduga menjadi sumber kebakaran hutan dan lahan (karhutla) penyebab kabut asap lintas batas yang menyelimuti Singapura dalam sepekan terakhir.

Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura, Grace Fu, mengumumkan pada Jumat (16/10/2026) bahwa Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) akan menerbitkan preventive measure notices atau pemberitahuan pencegahan kepada tujuh perusahaan tersebut berdasarkan Undang-Undang Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas (Transboundary Haze Pollution Act).

"Investigasi kami sejauh ini menunjukkan bahwa sebagian kabut asap yang dialami di Singapura berasal dari kebakaran di lahan milik tujuh perusahaan di Indonesia," kata Grace Fu seperti dilansir Channel News Asia, Sabtu (17/10/2026).

Adapun tujuh perusahaan yang diidentifikasi berada di Pulau Sumatera tersebut adalah:

1. PT Bumi Andalas Permai

2. PT Bumi Mekar Hijau

3. PT Paramitra Mulia Langgeng

4. PT Sumatera Alam Anugerah

5. PT SBA Wood Industries

6. PT Hutan Lestari Raya

7. PT Bangkanesia

Berdasarkan aturan NEA, ketujuh perusahaan diwajibkan untuk mengerahkan personel pemadam kebakaran untuk memadamkan atau mencegah penyebaran api di lahan yang mereka miliki atau kuasai.

Perusahaan juga diwajibkan menghentikan segala aktivitas pembakaran dan tidak memulai pembakaran baru di lahan tersebut, serta menyerahkan rencana aksi kepada NEA terkait langkah pemadaman dan pencegahan kebakaran berulang.

Grace Fu menegaskan, NEA akan terus menyelidiki perusahaan yang terbukti bertanggung jawab atas kabut asap lintas batas dan tidak menutup kemungkinan menerbitkan pemberitahuan kepada lebih banyak perusahaan.

"Kami akan terus memantau situasi serta respons perusahaan-perusahaan tersebut terhadap pemberitahuan ini," ujar Grace.

Ia menambahkan, opsi pemberian denda hingga tuntutan pidana masih dalam pertimbangan jika perusahaan tidak mematuhi ketentuan.

Pemerintah Singapura menyebut telah berkomunikasi dengan pemerintah Indonesia selama beberapa bulan terakhir dan menawarkan dukungan pemadaman, termasuk upaya modifikasi cuaca.

"Kami memahami bahwa kondisi yang mereka hadapi cukup rumit, dan kami siap membantu sebisa mungkin," tandas Grace.