Highlights

  • LPG bersubsidi 3 kg tetap Rp19.000/tabung di pangkalan resmi, ESDM pastikan tidak naik hingga akhir 2026
  • Bright Gas 5,5 kg Rp107.000 dan 12 kg Rp230.000/tabung, belum ada penyesuaian harga baru
  • JKM Asia melonjak ke US$30,01/MMBtu, naik sekitar 12,8% dan menjadi level tertinggi dalam 12 bulan terakhir
  • TTF Eropa bertahan di €88,47/MWh, tertinggi sejak Desember 2022, didorong kekhawatiran pasokan musim dingin
  • Henry Hub turun ke US$3,11/MMBtu, level terendah dalam lebih dari sepekan karena produksi shale gas AS melimpah
  • Aramco CP Oktober tetap tinggi: propana US$680/MT dan butana US$730/MT, CP November belum diumumkan

Daftar Isi: Harga LPG Indonesia | Bright Gas | Per Wilayah | Henry Hub | TTF & JKM | Aramco CP | Faktor Harga | FAQ

Harga LPG Subsidi Hari Ini 18 Oktober 2026

Harga LPG 3 kg hari ini, Minggu (18/10/2026), tetap tidak mengalami perubahan. Kementerian ESDM memastikan harga LPG bersubsidi tabung 3 kg tidak naik hingga akhir 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menyampaikan stok LPG bersubsidi nasional masih terjaga di atas standar minimum, sejalan dengan komitmen pemerintah menjaga stabilitas harga energi bersubsidi di tengah gejolak harga energi global yang masih berlangsung.

Jenis LPG Harga di Pangkalan Harga di Pengecer Keterangan
LPG 3 kg (Subsidi) Rp19.000 Rp22.000 Tetap (HET)

Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 kg di pangkalan resmi Pertamina tetap Rp19.000 per tabung. Di tingkat pengecer, harga mencapai Rp22.000 per tabung sudah termasuk ongkos kirim. Pemerintah mengimbau masyarakat membeli di pangkalan resmi untuk mendapatkan harga sesuai HET dan jaminan takaran. LPG bersubsidi tersedia di lebih dari 259.000 pangkalan resmi Pertamina seluruh Indonesia.

Harga LPG Non-Subsidi (Bright Gas)

PT Pertamina Patra Niaga belum melakukan penyesuaian harga Bright Gas baru. Harga yang berlaku saat ini merupakan hasil penyesuaian terakhir yang berlaku sejak awal Oktober 2026. Berikut harga agen yang berlaku untuk wilayah Pulau Jawa:

Produk Harga per 5 Oktober Harga per 18 Oktober Perubahan
Bright Gas 5,5 kg Rp107.000 Rp107.000 Tidak berubah
Bright Gas 12 kg Rp230.000 Rp230.000 Tidak berubah

Harga di atas merupakan Harga Jual Agen Bright Gas untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, dan NTB. Harga di tingkat pangkalan biasanya lebih mahal Rp15.000-20.000 per tabung.

Harga Bright Gas per Wilayah Indonesia

Harga Bright Gas bervariasi di setiap wilayah karena faktor ongkos distribusi. Berikut rincian harga agen per Oktober 2026:

Wilayah Bright Gas 5,5 kg Bright Gas 12 kg
Jawa, Bali, NTB Rp107.000 Rp230.000
Sumatera, Kalimantan Rp111.000 Rp232.000
Sulawesi, Maluku Rp100.000 Rp209.000
Papua Rp124.000 Rp267.000
Kepulauan Riau Rp134.000 Rp287.000

Kepulauan Riau menjadi wilayah termahal untuk Bright Gas karena biaya distribusi yang tinggi dan status Free Trade Zone. Sebaliknya, Sulawesi dan Maluku justru lebih murah dari Jawa karena faktor subsidi distribusi regional.

Harga Gas Alam Dunia: Henry Hub

Henry Hub, benchmark gas alam untuk pasar Amerika Utara, ditutup di level US$3,11 per MMBtu pada perdagangan terakhir, Jumat (16/10/2026), turun lebih dari 3% dalam sehari dan menjadi level terendah dalam lebih dari sepekan. Sepanjang pekan lalu harga turun sekitar 3%, tertekan oleh produksi shale gas AS yang melimpah: rata-rata produksi Lower 48 mencapai 110,8 miliar kaki kubik per hari (bcfd) sepanjang Oktober, meski turun dari rekor 113,67 bcfd pada Agustus-September. Pasar juga mencatat injeksi stok mingguan hanya 67 bcf untuk pekan yang berakhir 9 Oktober, di bawah perkiraan analis 76 bcf dan rata-rata lima tahun 90 bcf.

Indikator Nilai Keterangan
Henry Hub (16 Oktober) US$3,11/MMBtu Turun tajam
Perubahan Harian -US$0,11 -3,42%
Proyeksi EIA 2026 US$3,67/MMBtu Rata-rata tahunan

Penurunan Henry Hub dipicu oleh produksi gas alam AS yang mendekati level rekor sehingga pasokan melimpah meski permintaan menjelang musim dingin mulai naik. EIA tetap memproyeksikan rata-rata harga Henry Hub 2026 di US$3,67/MMBtu, lebih tinggi dari rata-rata 2025. Pelaku pasar kini menunggu data inventaris mingguan EIA pekan depan untuk arah pergerakan selanjutnya. Sebagai catatan, pasar berjangka AS baru beroperasi kembali pada perdagangan Senin setelah libur akhir pekan.

TTF Eropa dan JKM Asia

Title Transfer Facility (TTF) di Belanda bertahan di level €88,47 per MWh per 16 Oktober 2026, naik 3,09% dalam sehari dan merupakan level tertinggi sejak Desember 2022. Kabar terbesar pekan ini datang dari Asia: Japan Korea Marker (JKM) melonjak ke US$30,01 per MMBtu, naik sekitar 12,8% dari US$26,60 dan menandai level tertinggi dalam 12 bulan terakhir. Pembeli LNG di Jepang, Korea Selatan, dan China berlomba mengamankan kargo menjelang musim dingin, sementara Eropa juga terus menarik kargo global ke Eropa Barat.

Benchmark Gas Alam Harga Perubahan Kawasan
Henry Hub US$3,11/MMBtu -3,42% Amerika Utara
TTF €88,47/MWh +3,09% Eropa (Belanda)
JKM US$30,01/MMBtu +12,82% Asia (Jepang-Korea)

Lonjakan JKM sekitar 13% dalam sepekan terakhir (naik 15,2% secara mingguan) dipicu kompetisi LNG antara Eropa dan Asia untuk memperebutkan kargo yang sama, di tengah pasokan global yang ketat dan level penyimpanan gas Eropa yang lebih rendah dari rata-rata lima tahun. Dalam 12 bulan terakhir, harga JKM sudah melonjak lebih dari 168%. Spread JKM-TTF yang kembali melebar menunjukkan Asia kini rela membayar lebih mahal untuk memenangkan kargo spot. BMI Research sebelumnya menaikkan proyeksi JKM 2026 dari US$12,5 menjadi US$15,5/MMBtu akibat ketegangan di Selat Hormuz, dan perkembangan pekan ini menunjukkan harga spot jauh melampaui proyeksi tersebut.

Harga LPG Internasional: Saudi Aramco CP

Saudi Aramco menetapkan Contract Price (CP) untuk Oktober 2026 lebih tinggi dari bulan sebelumnya, mencerminkan permintaan kuat dari sektor petrokimia Asia dan kenaikan harga minyak mentah. CP November 2026 belum diumumkan dan diperkirakan akan dirilis akhir Oktober 2026.

Produk CP September 2026 CP Oktober 2026 Perubahan
Propana (C3) US$625/MT US$680/MT +US$55 (+8,8%)
Butana (C4) US$660/MT US$730/MT +US$70 (+10,6%)

Kenaikan CP Oktober didorong oleh permintaan kuat dari sektor petrokimia Asia, terutama China dan Korea Selatan, serta kenaikan harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan pricing LPG. Butana naik lebih tinggi (+10,6%) dibanding propana (+8,8%) karena permintaan dari sektor gasoline blending yang meningkat menjelang akhir tahun. Dengan harga minyak mentah Brent yang kembali menguat ke atas US$109 per barel, pasar bersiap menghadapi potensi kenaikan CP November yang akan diumumkan akhir Oktober.

Faktor yang Mempengaruhi Harga Gas Alam

Beberapa faktor utama yang menggerakkan harga gas alam global minggu ini:

  • Permintaan musim dingin Asia: Pembeli LNG Jepang, Korea Selatan, dan China masuk ke pasar spot lebih awal untuk mengamankan kargo menjelang musim dingin, mendorong JKM melonjak sekitar 13% ke tertinggi 12 bulan.
  • Musim dingin belahan bumi utara: Level penyimpanan gas Eropa yang lebih rendah dari rata-rata lima tahun menjaga harga TTF di level tertinggi sejak Desember 2022. Cuaca ekstrem tetap menjadi risiko utama pasar.
  • Ketegangan Selat Hormuz: Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mengancam jalur pengiriman LNG, mendorong premium risiko pada harga spot Asia dan menaikkan harga minyak mentah Brent ke atas US$109 per barel.
  • Produksi shale gas AS: Produksi gas alam AS bertahan di 110,8 bcfd sepanjang Oktober, menekan Henry Hub turun ke US$3,11 meski permintaan menjelang musim dingin mulai naik.
  • Kebijakan energi Indonesia: Pemerintah tetap mempertahankan subsidi LPG 3 kg melalui APBN dan memastikan stok aman di atas standar minimum nasional, menjaga harga konsumen tetap terkendali meski harga internasional naik.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Harga LPG dan Gas Alam

Mengapa harga LPG subsidi 3 kg tidak pernah naik?

Harga LPG 3 kg disubsidi pemerintah melalui APBN dan penyaluran dijamin oleh Pertamina. Meski harga LPG internasional (Aramco CP) naik signifikan, harga di pangkalan tetap Rp19.000 karena perbedaan harga ditanggung oleh negara. Kementerian ESDM memastikan subsidi ini berlanjut hingga akhir 2026 dengan stok yang aman.

Mengapa harga Bright Gas tetap sama di Oktober?

Pertamina Patra Niaga belum melakukan penyesuaian harga Bright Gas setelah penyesuaian terakhir yang berlaku sejak awal Oktober 2026. Meski Aramco CP naik, dampaknya belum diteruskan ke harga ritel karena Pertamina masih menyerap kenaikan dari margin internal.

Mengapa harga JKM Asia melonjak tajam pekan ini?

JKM melonjak sekitar 12,8% ke US$30,01/MMBtu karena pembeli LNG di Jepang, Korea Selatan, dan China masuk ke pasar spot lebih awal untuk mengamankan kargo menjelang musim dingin. Kondisi diperparah oleh persaingan dengan Eropa yang juga membutuhkan kargo tambahan, pasokan global yang ketat, serta ketegangan di Selat Hormuz yang mengganggu jalur pengiriman.

Apa bedanya Henry Hub, TTF, dan JKM?

Henry Hub adalah benchmark gas alam Amerika Utara, TTF untuk Eropa, dan JKM untuk Asia. Harga berbeda karena perbedaan pasokan, permintaan, dan biaya pengiriman LNG antar kawasan. Henry Hub lebih murah karena AS memiliki produksi shale gas yang melimpah, sementara Asia membayar premium tertinggi untuk kargo spot.

Apakah musim dingin 2026 akan membuat harga gas naik tajam?

Tergantung cuaca. Jika musim dingin lebih dingin dari normal, harga gas bisa naik 30-50%. Level penyimpanan Eropa saat ini di bawah rata-rata lima tahun dan harga JKM yang sudah di tertinggi 12 bulan membuat pasar sangat sensitif terhadap setiap sinyal cuaca dingin. Prediksi NOAA dan ECMWF menjadi acuan utama trader.

Key Takeaways

  • LPG 3 kg subsidi tetap Rp19.000 di pangkalan, dijamin tidak naik hingga akhir 2026 dengan stok aman
  • Bright Gas tidak berubah: Rp107.000 (5,5 kg) dan Rp230.000 (12 kg) untuk wilayah Jawa
  • JKM Asia melonjak ke US$30,01 (tertinggi 12 bulan), TTF bertahan di €88,47 (tertinggi sejak Desember 2022)
  • Henry Hub turun ke US$3,11 karena produksi shale gas AS melimpah; Aramco CP Oktober tetap tinggi
  • Beli LPG subsidi di pangkalan resmi untuk harga terbaik dan jaminan takaran

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual komoditas energi. Harga dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi pasar. Selalu verifikasi harga terkini dari sumber resmi sebelum melakukan transaksi.

Sumber data: Pertamina Patra Niaga, Kementerian ESDM, TradingEconomics, EnergyRiskIQ, Tindex, BMI Research, Reuters | Penulis: Dana Putra