INDUSTRY.co.id - Yogyakarta – Dukungan dana bergulir sebesar Rp750 juta dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi membantu Koperasi Desa/Kalurahan Merah Putih (KDKMP) Tamanmartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengembangkan enam unit usaha untuk menggerakkan ekonomi masyarakat desa.
Ketua KDKMP Tamanmartani, Mawardi mengatakan, dana yang diterima pada Desember 2025 tersebut menjadi modal penting bagi koperasi yang tengah merintis usaha. Pembiayaan itu merupakan bagian dari pengajuan sebesar Rp1,5 miliar.
“Modal kami berasal dari LPDB Rp750 juta, penyertaan modal Badan Usaha Milik Kalurahan (Bumkal), serta iuran pokok dan wajib anggota,” ujar Mawardi.
Saat ini, KDKMP Tamanmartani menjalankan enam unit usaha, yakni gerai sembako, gerai sarana produksi pertanian, budidaya ikan nila dengan sistem bioflok, klinik kesehatan, pemasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta agen BNI 46.
Ke depan, koperasi berencana memperluas usaha dengan menjadi offtaker atau pembeli hasil pertanian warga. Koperasi juga menargetkan peningkatan pasokan kebutuhan SPPG agar dapat menjadi pemasok tetap.
“Kami berharap bisa memasok minimal 35 persen kebutuhan SPPG. Dengan begitu, kami yakin koperasi ini bisa semakin eksis,” kata Mawardi.
Pengelolaan dana bergulir tersebut, lanjut dia, berjalan tertib dengan pengembalian pinjaman yang disiplin. LPDB juga melakukan monitoring dan evaluasi setiap tiga bulan untuk memastikan kondisi keuangan koperasi tetap sehat.
Meski demikian, pengurus masih berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memperkuat tata kelola keuangan. Koperasi juga berencana menyiapkan sertifikasi kompetensi bagi bendahara sebelum menjalankan unit usaha simpan pinjam secara penuh.
Lurah Tamanmartani, R. Gandang Hardjanata menilai, koperasi memiliki peran strategis dalam meningkatkan perekonomian sekitar 17.400 penduduk yang tersebar di 22 pedukuhan.
Menurut dia, dukungan pemerintah dan komunikasi dengan berbagai pihak diperlukan agar koperasi dapat menjalankan perannya secara optimal, terutama dalam memasok kebutuhan masyarakat.
“Kunci utamanya adalah komunikasi. Saya berharap ruang komunikasi dengan berbagai pihak terkait dibuka selebar-lebarnya oleh pemerintah pusat,” ujar Gandang.
Dana LPDB juga membantu UMKM
Manfaat pembiayaan LPDB Koperasi juga dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Salah satunya Ardi Suhami, pemilik usaha Arumanis Haji Ardi di Sleman, yang memproduksi jajanan tradisional rambut nenek atau arbanat.
Sebagai anggota Koperasi Bina Ihsanul Fikri Yogyakarta, Ardi memperoleh akses pembiayaan melalui koperasi tersebut. Ia menilai biaya pinjaman yang lebih rendah membantu pelaku usaha menjaga keberlangsungan bisnis.
“Kehadiran LPDB memberikan manfaat bagi UMKM karena bunganya kami anggap rendah. Dengan beban biaya yang murah tentu berdampak bagi usaha seperti kami,” kata Ardi.
Ia menyebut permintaan produknya dari sejumlah negara mulai meningkat. Namun, tingginya biaya pengiriman masih menjadi kendala untuk memperluas pasar ekspor.
Sementara itu, LPDB Koperasi mencatat penyaluran dana bergulir kepada delapan KDKMP dengan total pencairan Rp6,38 miliar. Pembiayaan tersebut diberikan melalui skema syariah kepada dua koperasi dan skema konvensional kepada enam koperasi.
Dukungan pembiayaan tersebut diharapkan dapat memperkuat koperasi desa sekaligus membuka akses permodalan yang lebih terjangkau bagi UMKM, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat semakin berkembang.