INDUSTRY.co.id - JAKARTA – PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI memperluas daya tarik instrumen utangnya di pasar keuangan setelah obligasi dan sukuk perseroan masuk dalam daftar underlying transaksi repurchase agreement (repo) investor perbankan ke Bank Indonesia (BI). Langkah ini membuka akses likuiditas bagi perbankan sekaligus berpotensi meningkatkan permintaan terhadap surat utang PT SMI di pasar sekunder.
Pencapaian tersebut menambah nilai strategis obligasi dan sukuk PT SMI di tengah kebutuhan perbankan mengelola likuiditas dan mendiversifikasi portofolio investasi. Respons awal investor juga terbilang positif. Dalam lelang repo perdana pada 28 September 2026, obligasi PT SMI senilai Rp60 miliar terserap seluruhnya.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan, perluasan instrumen keuangan menjadi salah satu faktor penting dalam memperdalam pasar keuangan domestik. Kehadiran instrumen PT SMI juga dinilai dapat memperluas cakupan pembiayaan yang bisa diakses melalui pasar keuangan.
“Pendalaman pasar keuangan membutuhkan instrumen-instrumen keuangan baru. Dengan adanya nanti SMF, apalagi SMI, cakupannya akan lebih luas. Kalau SMF fokus di perumahan, SMI bisa infrastruktur dan macam-macam jenisnya,” ujar Destry dalam acara peluncuran perluasan operasi moneter di Bank Indonesia pada 1 Oktober 2026.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai perluasan underlying transaksi tersebut turut memperkuat pembiayaan pembangunan nasional, mengingat sektor yang dibiayai PT SMI cukup beragam.
“Perluasan underlying ini memperkuat pembiayaan pembangunan yang lintas sektor, karena PT SMI pembiayaannya itu sangat-sangat beragam,” tutur Suahasil.
Daya tarik obligasi dan sukuk PT SMI juga diperkuat oleh peningkatan klasifikasi aset likuid berkualitas tinggi atau High-Quality Liquid Assets (HQLA) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dari Level 2B menjadi Level 2A.
Kenaikan klasifikasi tersebut membuat obligasi dan sukuk PT SMI memiliki kontribusi lebih besar dalam perhitungan rasio kecukupan likuiditas perbankan. Dengan status tersebut, perbankan memiliki tambahan pilihan instrumen untuk memenuhi kebutuhan likuiditas sekaligus memperoleh akses pendanaan melalui transaksi repo dengan BI.
Perubahan ini berpotensi meningkatkan minat bank terhadap surat utang PT SMI sebagai alternatif diversifikasi portofolio di luar Surat Utang Negara (SUN). Bagi PT SMI, bertambahnya basis investor dapat mendukung likuiditas perdagangan surat utang perseroan di pasar sekunder dan memperluas akses pendanaan.
Direktur Utama PT SMI Reynaldi Hermansjah mengatakan, perluasan akses likuiditas memberikan fleksibilitas lebih besar bagi perbankan, sekaligus membuka peluang bagi perseroan untuk memperkuat pembiayaan pembangunan.
“Perbankan kini punya ruang lebih fleksibel dalam mengelola likuiditas dengan menambah pilihan instrumen di pasar keuangan, namun sekaligus mendukung pembangunan nasional,” ujar Reynaldi.
Ia menambahkan, status baru obligasi dan sukuk PT SMI akan membantu perseroan meningkatkan kapasitas pembiayaan infrastruktur dan layanan publik.
Sejak menerbitkan obligasi perdana pada 2014, PT SMI telah menerbitkan 76 seri obligasi dan sukuk dengan akumulasi nilai Rp58,2 triliun. Hingga 30 September 2026, nilai outstanding obligasi dan sukuk perseroan tercatat Rp19,2 triliun.
PT SMI juga memiliki peringkat kredit domestik tertinggi, yakni idAAA dari PEFINDO dan AAA(idn) dari Fitch Ratings. Instrumen yang diterbitkan mencakup obligasi konvensional, obligasi hijau (green bond), obligasi keberlanjutan (sustainability bond), sukuk mudharabah, hingga Obligasi Ritel Infrastruktur PT SMI (ORIS) untuk menjangkau investor ritel.
Masuknya obligasi dan sukuk PT SMI sebagai underlying repo BI menjadi tambahan katalis bagi pengembangan pasar surat utang perseroan. Selain memperluas pilihan pengelolaan likuiditas bagi perbankan, langkah ini berpotensi memperkuat peran pasar modal dalam mendukung pembiayaan pembangunan infrastruktur nasional.