INDUSTRY.co.id - JAKARTA – SoftwareOne dan Crayon menyatukan bisnis kanal mereka di kawasan Asia Pasifik (APAC) di bawah merek SoftwareOne. Integrasi ini menjadi strategi kedua perusahaan untuk memperluas layanan teknologi bagi mitra bisnis di tengah meningkatnya investasi perusahaan pada komputasi awan (cloud), keamanan siber, data, dan kecerdasan buatan (AI).
Penyelesaian integrasi yang diumumkan pada 13 Oktober 2026 tersebut menggabungkan jaringan mitra, hubungan dengan vendor teknologi, serta kapabilitas kedua perusahaan dalam manajemen aset perangkat lunak, cloud, keamanan siber, data dan AI, hingga layanan teknis dan terkelola.
Langkah ini dilakukan ketika belanja teknologi di kawasan APAC terus berkembang. International Data Corporation (IDC) memperkirakan belanja teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di kawasan tersebut mencapai US$647 miliar pada 2026. Sementara itu, belanja AI dan AI generatif diproyeksikan mencapai US$370 miliar pada 2029, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 38,4%.
Presiden APAC SoftwareOne Varun Paliwal mengatakan, penggabungan tersebut bertujuan memperluas kemampuan perusahaan dalam mendukung mitra menghadapi kebutuhan pelanggan yang semakin kompleks.
“Dengan menyatukan kekuatan tersebut, kami dapat menawarkan kepada para mitra cakupan layanan dan peluang yang lebih luas, sekaligus tetap mempertahankan keahlian lokal dan hubungan yang menjadikan kanal ini berhasil,” ujar Paliwal.
Menurut dia, keberhasilan integrasi tidak hanya diukur dari besarnya bisnis gabungan, tetapi juga dari kemampuan perusahaan menciptakan peluang pertumbuhan bagi mitra dan membantu mereka merespons perubahan kebutuhan pelanggan.
Dalam integrasi ini, SoftwareOne membawa skala operasional global, jaringan vendor teknologi, serta keahlian dalam perangkat lunak, cloud, dan manajemen portofolio teknologi informasi. Sementara itu, Crayon memperkuat jaringan kanal dan kompetensi di bidang cloud, perangkat lunak, data, serta AI di kawasan APAC.
Kombinasi tersebut memungkinkan mitra memperoleh akses ke tenaga ahli, arsitek solusi, spesialis keamanan, dukungan penawaran, serta keahlian teknis tanpa harus membangun seluruh kemampuan itu secara mandiri.
Kepala Bisnis Kanal APAC SoftwareOne Vikas Bhonsle mengatakan, penggabungan tersebut diharapkan memperluas kemampuan mitra dalam mengejar peluang bisnis yang sebelumnya sulit dijangkau.
“Dampak terpenting dari penggabungan ini adalah semakin besarnya peluang yang tercipta bagi para mitra kami. Kami dapat menghadirkan lebih banyak keahlian dalam setiap kolaborasi, lebih banyak layanan ke dalam portofolio mereka, serta koneksi yang lebih kuat ke dalam ekosistem mereka,” kata Bhonsle.
Peluang tersebut semakin relevan ketika perusahaan mulai beralih dari tahap eksperimen AI menuju penerapan dalam skala lebih luas. Kebutuhan pelanggan tidak lagi terbatas pada pengadaan teknologi, tetapi juga mencakup konsultasi, integrasi sistem, keamanan, pengelolaan biaya, hingga dukungan operasional.
SoftwareOne dan Crayon menilai kondisi tersebut membuka ruang bagi mitra teknologi untuk memperluas portofolio layanan sekaligus meningkatkan nilai bisnis dari setiap proyek pelanggan.
Melalui model layanan yang ditawarkan, SoftwareOne dapat memberikan dukungan dengan menggunakan merek mitra maupun berkolaborasi langsung dalam menangani proyek yang lebih besar dan kompleks. Pendekatan ini memungkinkan mitra memperluas layanan tanpa harus merekrut seluruh tenaga spesialis atau membangun fungsi operasional baru.
Perusahaan juga mempertahankan prinsip bahwa mitra tetap memegang kendali atas hubungan dengan pelanggan mereka. Dengan demikian, integrasi bisnis kanal ini dirancang untuk melengkapi bisnis mitra, bukan mengambil alih peran mereka dalam melayani pelanggan.
Dari sisi jangkauan pasar, SoftwareOne beroperasi di lebih dari 70 negara dengan sekitar 12.000 tenaga profesional dan memiliki akses ke lebih dari 7.500 vendor perangkat lunak melalui marketplace globalnya. Jaringan tersebut menjadi modal untuk memperluas akses mitra terhadap program vendor, keahlian spesialis, dan peluang bisnis lintas pasar.
Perusahaan turut mengandalkan program Partner Connections untuk menghubungkan reseller dengan mitra penyedia layanan spesialis. Sementara itu, ISV Innovation Hub mendukung mitra yang ingin mengomersialkan kekayaan intelektual melalui marketplace vendor, insentif, dan dukungan pengembangan.
SoftwareOne juga menyediakan platform Cloud-IQ untuk membantu pengelolaan langganan cloud dan perangkat lunak, termasuk melalui penagihan otomatis, analitik penggunaan, dan wawasan bisnis.
Meski demikian, implementasi bisnis kanal terpadu di APAC tetap perlu menyesuaikan karakteristik setiap negara. Perbedaan regulasi, tingkat kematangan teknologi, kebutuhan pelanggan, dan pola distribusi menuntut perusahaan mempertahankan keahlian lokal di tengah perluasan skala operasional.
Paliwal menegaskan, pemahaman terhadap pasar lokal tetap menjadi faktor penting dalam strategi perusahaan di kawasan tersebut. “Para mitra membutuhkan akses terhadap teknologi dan keahlian global, tetapi mereka juga membutuhkan orang-orang yang memahami pasar, pelanggan, serta cara mereka menjalankan bisnis,” ujarnya.
Dengan penyatuan bisnis kanal Crayon ke dalam SoftwareOne, perusahaan menargetkan penguatan ekosistem mitra untuk menangkap peluang dari meningkatnya belanja teknologi, terutama di sektor AI dan cloud. Di tengah kompleksitas implementasi teknologi yang semakin tinggi, kemampuan menyediakan layanan terintegrasi dan dukungan spesialis menjadi salah satu faktor penting untuk memperluas bisnis di pasar APAC.