INDUSTRY.co.id - Tangerang – Pelemahan pasar otomotif domestik menjadi perhatian PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Di tengah upaya memperluas ekspor kendaraan, Toyota menilai penguatan daya beli masyarakat tetap menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan industri otomotif nasional.

Presiden Direktur PT TMMIN, Nandi Julyanto mengatakan, pasar domestik memiliki peran strategis dalam mendukung kegiatan produksi kendaraan di Indonesia. 
 
"Karena itu, pemerintah perlu menjaga iklim usaha yang kondusif agar industri otomotif dapat terus berkembang, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperluas penetrasi pasar ekspor," ungkap Nandi di sela-sela gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD, Tangerang (14/10/2026).
 
Indonesia selama ini menjadi basis produksi kendaraan completely knocked down (CKD), termasuk berbagai model di segmen A dan B. Perkembangan pasar dalam negeri turut memengaruhi kesinambungan produksi serta kemampuan industri memenuhi permintaan dari pasar global.
 
Kondisi tersebut membuat perlambatan penjualan mobil di Indonesia perlu mendapat perhatian, terutama ketika daya beli masyarakat menghadapi tekanan.
 
Nandi menilai penguatan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong pemulihan pasar otomotif domestik.
 
Dukungan dari sektor perbankan dan kebijakan ekonomi yang tepat dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kemampuan masyarakat dalam membeli kendaraan.
 
Penguatan daya beli tidak hanya berpengaruh terhadap penjualan mobil, tetapi juga berdampak pada kegiatan produksi, industri komponen, rantai pasok, hingga penyerapan tenaga kerja.
 
Bagi industri otomotif, permintaan domestik yang terjaga dapat membantu perusahaan mengoptimalkan kapasitas pabrik sekaligus mempertahankan kesinambungan produksi.
 
Sebaliknya, apabila pasar domestik terus melemah, industri akan menghadapi tantangan lebih besar dalam menjaga tingkat produksi dan memanfaatkan kapasitas manufaktur yang telah dibangun.
 
Toyota juga melihat pengalaman pemerintah dalam menjaga aktivitas ekonomi selama pandemi Covid-19 sebagai salah satu bahan evaluasi untuk menghadapi kondisi pasar saat ini.
 
Pada masa pandemi, kebijakan yang mendukung kegiatan ekonomi membantu industri mempertahankan aktivitas produksi di tengah tekanan yang luar biasa.
 
Menurut Nandi, pengalaman tersebut dapat menjadi referensi bagi pemerintah dan pelaku industri untuk mencari terobosan kebijakan yang sesuai dengan tantangan ekonomi saat ini.
 
Meski demikian, upaya memperkuat pasar otomotif tidak harus selalu bergantung pada pemberian insentif khusus kepada perusahaan.
 
"Pendekatan yang lebih luas, termasuk kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat dan menciptakan iklim usaha yang adil dapat membantu menggerakkan permintaan kendaraan secara berkelanjutan," katanya.
 
Pasar Domestik Kuat, Ekspor Bisa Meningkat
 
Di tengah tantangan perdagangan global, Toyota menilai penguatan pasar domestik perlu berjalan beriringan dengan strategi perluasan ekspor.
 
Pasar dalam negeri yang sehat dapat menjadi penopang kegiatan manufaktur, sementara ekspor membuka peluang bagi kendaraan produksi Indonesia untuk menjangkau lebih banyak negara.
 
Keseimbangan kedua pasar tersebut penting untuk menjaga kesinambungan produksi, meningkatkan pemanfaatan kapasitas pabrik, serta mempertahankan penyerapan tenaga kerja.
 
Dengan dukungan kebijakan yang tepat, industri otomotif nasional diharapkan dapat terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan penerimaan negara.
 
Karena itu, penguatan daya beli masyarakat dan penciptaan iklim usaha yang kondusif menjadi bagian penting dalam menjaga daya saing industri otomotif Indonesia di tengah persaingan global.