INDUSTRY.co.id - Jakarta – Pembatasan pasokan gas bumi harian bagi industri mulai menekan aktivitas produksi pabrik. Asosiasi Produsen Gelas Kaca industri (APGI) memperingatkan, kondisi tersebut dapat memaksa perusahaan mengurangi produksi hingga merumahkan karyawan. Jika pembatasan terus berlanjut, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal pun semakin nyata.

Ketua APGI, Henry Susanto mengatakan, pembatasan pemakaian gas membuat anggota asosiasi tidak dapat menjalankan kegiatan produksi secara normal. Padahal, pasokan gas merupakan faktor penting untuk menjaga kesinambungan operasional pabrik, terutama bagi industri yang sangat bergantung pada gas bumi.
 
“Dengan adanya pembatasan harian gas, anggota kami tidak bisa berproduksi secara normal. Akibatnya, perusahaan terpaksa menurunkan produksi dan merumahkan karyawan. Kalau pembatasan ini terus berlangsung, kami khawatir dampaknya akan mengarah pada PHK massal,” ujar Henry di Jakarta (14/10/2026).
 
Selain mengganggu produksi, kebijakan pembatasan gas juga dinilai menimbulkan persoalan biaya energi bagi industri. 
 
APGI menyebut anggotanya hanya memperoleh gas dengan harga US$7 per MMBTU untuk sekitar 50–60% dari kebutuhan, sedangkan sisa pemakaian dikenakan biaya tambahan atau surcharge.
 
Dengan skema tersebut, harga gas untuk sebagian kebutuhan industri mencapai US$15,60 per MMBTU. Kondisi ini dinilai memberatkan pelaku industri karena anggota APGI tidak mendapatkan harga gas US$13 per MMBTU sebagaimana skema yang disebut diberikan pemerintah kepada pengguna tertentu.
 
“Anggota kami mendapatkan harga US$7 per MMBTU hanya untuk sekitar 50–60% kebutuhan. Sementara itu, sisanya dikenakan surcharge sehingga harga yang harus dibayar mencapai US$15,60 per MMBTU. Anggota kami tidak mendapatkan harga US$13 per MMBTU seperti yang diberikan pemerintah,” katanya.
 
APGI menilai ketidakpastian pasokan dan tingginya biaya gas dapat semakin menekan daya saing industri nasional. Pasalnya, kenaikan biaya energi berpotensi meningkatkan biaya produksi di tengah tuntutan agar industri tetap efisien dan kompetitif.
 
Di tengah keterbatasan pasokan, APGI juga meminta agar tidak terjadi penghentian pasokan gas secara total atau shut down di wilayah Jawa Bagian Timur. Penghentian operasional secara mendadak berisiko menimbulkan kerusakan pada peralatan produksi dan memicu kerugian yang lebih besar bagi perusahaan.
 
Menurut Henry, pasokan gas yang tidak mencukupi memang dapat memaksa pabrik mengurangi kapasitas produksi. Namun, penghentian pasokan secara total harus dihindari karena dapat mengganggu keselamatan operasional serta keberlangsungan fasilitas industri.
 
“Industri mengharapkan tidak ada shut down total di Jawa Bagian Timur karena kondisi tersebut dapat merusak alat produksi,” ujarnya.
 
APGI berharap pemerintah dan pihak terkait segera mencari solusi atas persoalan pembatasan pasokan gas, termasuk memastikan ketersediaan gas sesuai kebutuhan industri dan memberikan kepastian harga yang lebih terjangkau.
 
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan produksi, melindungi tenaga kerja, serta mencegah dampak yang lebih luas terhadap aktivitas industri nasional.