INDUSTRY.co.id - JAKARTA – PT Pertamina (Persero) menjajaki pemanfaatan limbah lemak, minyak, dan gemuk atau Fat, Oil, and Grease (FOG) sebagai bahan baku alternatif biofuel, termasuk Sustainable Aviation Fuel (SAF). Langkah ini membuka peluang pengembangan energi rendah karbon melalui pemanfaatan limbah dari sektor pengelolaan air limbah.
Penjajakan tersebut dilakukan bersama Perusahaan Umum Daerah Pengelolaan Air Limbah Jaya (PAL Jaya) melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) oleh Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza dan Direktur Utama PAL Jaya Untung Suryadi di Balai Agung, Balai Kota Provinsi DKI Jakarta, Senin (12/10/2026).
Kerja sama ini menjadi tahap awal bagi kedua perusahaan untuk mengkaji potensi FOG yang dihasilkan dan/atau dikelola PAL Jaya sebagai sumber bahan baku alternatif dalam pengembangan biofuel. Namun, pemanfaatan limbah tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut sebelum peluang kerja sama memasuki tahap pengembangan berikutnya.
Bagi Pertamina, penjajakan ini merupakan bagian dari strategi pengembangan bisnis rendah karbon atau low-carbon business dengan mengoptimalkan sumber daya alternatif. Pendekatan waste to energy dinilai membuka peluang untuk meningkatkan nilai guna limbah sekaligus mendukung upaya pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan.
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza mengatakan, kerja sama dengan PAL Jaya menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam mendorong transisi energi dan menekan emisi karbon secara berkelanjutan.
“Penandatanganan nota kesepahaman ini merupakan bagian dari inisiatif Pertamina menuju transisi energi bersih, sekaligus mendukung upaya pencapaian target emisi rendah karbon secara berkelanjutan,” ujar Oki.
Potensi pemanfaatan FOG menjadi bahan baku biofuel juga mencerminkan peluang sinergi antara sektor energi dan pengelolaan air limbah melalui penerapan ekonomi sirkular. Dalam pendekatan ini, limbah tidak hanya dipandang sebagai material yang harus dikelola, tetapi juga sebagai sumber daya yang berpotensi menghasilkan nilai ekonomi baru.
Termasuk untuk pengembangan SAF, pemanfaatan bahan baku alternatif menjadi salah satu aspek yang perlu dikaji dalam upaya mendorong penggunaan energi yang lebih rendah karbon di sektor penerbangan. Meski demikian, kelayakan teknis, ketersediaan bahan baku, serta potensi pengembangan lebih lanjut masih menjadi bagian dari proses penjajakan kedua pihak.
Pertamina dan PAL Jaya akan melanjutkan kajian untuk mengidentifikasi potensi pemanfaatan FOG serta peluang pengembangan kerja sama yang dapat dilakukan. Hasil kajian tersebut diharapkan menjadi landasan bagi kedua perusahaan dalam menentukan tahapan selanjutnya.
Jika dapat dikembangkan secara berkelanjutan, inisiatif ini berpotensi menciptakan nilai tambah dari limbah sekaligus memperluas opsi bahan baku alternatif bagi industri energi. Namun, realisasi manfaat ekonomi dan kontribusinya terhadap transisi energi akan bergantung pada hasil kajian serta kelayakan implementasi kerja sama tersebut.