INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Industri kosmetik dan perawatan kulit tidak lagi hanya soal formula di laboratorium. Di balik satu produk skincare, ada persilangan antara sains, riset konsumen, tren pasar, hingga strategi bisnis.

Di persimpangan itulah empat alumni i3L University membangun jalannya. Mereka adalah Shakila Angjaya Adiyanto yang kini menjabat sebagai Junior Online Brand Manager di L'Oréal, Aurelly Rose Krisli sebagai Senior Product Development di Skintific, Elizabeth Chrestella Wibowo sebagai Brand Portfolio and Innovation Manager di PT Barclay Products, serta Cecilia Ashley Chung yang berkarier sebagai Product Development Senior Associate di DECA Group.

Kisah mereka menegaskan satu hal, yakni peluang karier di industri kecantikan tidak terbatas pada research and development (R&D).

Lulusan dengan latar belakang sains juga dapat berkiprah dalam pengembangan konsep produk, inovasi, pengelolaan portofolio merek, hingga pemasaran digital.

Belajar Bisnis Lewat Skinovation

Shakila Angjaya Adiyanto, misalnya, mengawali perjalanan kariernya di L'Oréal melalui program High Flyer Internship pada Maret-Agustus 2022. Setelah menyelesaikan program magang tersebut, ia kembali bergabung sebagai Management Trainee pada November 2022.

Melalui program ini, Shakila memperoleh kesempatan menjalani rotasi di sejumlah divisi sebelum menempati posisi Junior Online Brand Manager untuk merek Matrix dan Biolage di divisi L'Oréal Professional Products.

Menurut Shakila, pengalaman selama kuliah menjadi salah satu bekal penting dalam memahami keterkaitan antara pengembangan produk dan strategi bisnis. Ia pernah terlibat dalam berbagai proyek laboratorium, termasuk penelitian keratin dan pektin serta pembuatan krim berbahan kayu merbau.

Namun, pengalaman yang paling berkesan baginya adalah mengikuti Skinovation, program yang mempertemukan proses pengembangan produk perawatan kulit dengan aspek pemasaran dan bisnis.

"Dalam program ini, kami terlibat dalam seluruh proses pengembangan produk perawatan kulit, mulai dari tahap awal hingga produk siap dipasarkan, termasuk aspek pemasaran dan bisnisnya," kata Shakila.

Di dunia kerja, ia menilai kemampuan mengelola hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan atau stakeholder management menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan proyek berjalan sesuai rencana. Pengetahuan teknis perlu diimbangi kemampuan berkoordinasi agar berbagai fungsi bisnis dapat bekerja secara selaras.

Memahami Sains di Balik Tren Viral

Sementara itu, Aurelly Rose Krisli menekuni jalur pengembangan produk secara lebih langsung. Ketertarikannya terhadap kimia dan skincare mendorongnya memilih Farmasi, terutama karena ingin memahami bagaimana bahan aktif dapat diformulasikan menjadi produk yang memberikan manfaat bagi kulit.

Saat ini, Aurelly berkarier sebagai Senior Product Development di Skintific. Tanggung jawabnya mencakup pengembangan produk dan konsep, pengujian, riset pasar, pengelolaan tim, serta pemahaman mengenai bahan dan teknologi yang digunakan dalam suatu produk.

Menurut Aurelly, pengalaman praktis selama kuliah membantunya menghadapi kebutuhan industri yang menuntut perpaduan antara ketepatan ilmiah dan relevansi pasar. Ia pernah mengikuti berbagai proyek formulasi kosmetik bersama dosennya, apt. Pietradewi Hartrianti, M.Farm., Ph.D., serta menjalani penelitian terkait kosmetik dan evaluasi sensori.

Ia juga mendapatkan pengalaman dalam pengujian antibakteri, Quantitative Descriptive Analysis (QDA), dan pengujian hedonik melalui tugas akhir serta proyek kolaborasi bersama PT Bina Karya Prima dan Skinproof. Dalam praktikum, ia mempelajari formulasi beragam produk, mulai dari serum, foundation, lipstik, toner, hingga pelembap.

Pengalaman tersebut menjadi fondasi untuk memahami karakteristik bahan, mengevaluasi produk, dan mengambil keputusan berdasarkan data.

"Latar belakang sains dari i3L membantu saya melihat tren bukan hanya dari sisi 'apa yang sedang viral', tetapi juga memahami science di baliknya," ujar Aurelly.

Ia menilai tantangan utama seorang pengembang produk adalah menemukan keseimbangan antara sains, inovasi, kebutuhan konsumen, dan penerimaan pasar. Produk dengan teknologi canggih belum tentu berhasil apabila manfaatnya sulit dipahami atau tidak menjawab kebutuhan konsumen.

Karena itu, pengembangan produk harus mampu menerjemahkan kompleksitas formulasi dan teknologi menjadi konsep yang relevan serta mudah dipahami oleh pasar. Efikasi, inovasi, kebutuhan konsumen, dan komunikasi menjadi faktor yang saling melengkapi dalam membangun daya saing produk skincare.

Menerjemahkan Sains Menjadi Value

Perspektif yang menggabungkan ilmu sains dan strategi bisnis juga menjadi perhatian Elizabeth Chrestella Wibowo (Cresa), Brand Portfolio and Innovation Manager di PT Barclay Products.

Menurut Cresa, ilmu farmasi memberikan dasar teknis untuk memilih bahan, merancang formulasi yang tepat dan aman, serta memastikan produk memiliki fungsi sesuai kebutuhan konsumen. Namun, pemahaman tersebut perlu dilengkapi kemampuan membaca pasar agar produk yang dikembangkan memiliki nilai komersial.

"Pemahaman secara ilmiah bisa diterjemahkan menjadi produk yang tidak hanya baik secara teknis, tetapi juga relevan dan memiliki value bagi konsumen," kata Cresa.

Dalam pekerjaannya, ia menghadapi tantangan untuk mempertemukan keinginan konsumen, kemampuan pengembangan produk, dan kelayakan bisnis.

Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan fungsi produk, tetapi juga pengalaman penggunaan, identitas merek, kemasan, hingga nilai yang diperoleh dari pembelian.

Pada kategori wewangian atau fragrance, misalnya, konsumen tidak hanya mencari aroma yang menarik.

Keunikan, ketahanan, kenyamanan, manfaat tambahan, dan kemampuan produk merepresentasikan karakter penggunanya turut menjadi pertimbangan.

Kondisi tersebut membuat inovasi tidak cukup dilakukan dengan mengikuti tren yang sedang populer. Perusahaan perlu memastikan produk baru memiliki diferensiasi yang jelas, sesuai dengan posisi merek di pasar, serta mampu memperkuat portofolio bisnis dalam jangka panjang.

Cresa menilai kemampuan berpikir analitis, pemecahan masalah, rasa ingin tahu, dan komunikasi menjadi keterampilan penting untuk menghadapi tantangan tersebut.

"Pengembangan produk membutuhkan kemampuan untuk menganalisis tren dan kebutuhan konsumen, menemukan solusi yang tepat, serta berkolaborasi dengan berbagai tim lintas divisi agar setiap proses dapat direalisasikan dengan baik dan lancar," tandasnya.

Menyelaraskan Riset dan Kebutuhan Bisnis

Adapun Cecilia Ashley Chung, Product Development Senior Associate di DECA Group, menekankan pentingnya mengintegrasikan riset, pengembangan produk, koordinasi, dan pelaksanaan peluncuran dalam satu alur kerja yang terhubung.

Sejak awal, Cecilia memang menargetkan karier di industri kosmetik. Ia memilih program Farmasi di i3L karena mencari lingkungan pembelajaran berbahasa Inggris, paparan internasional, dan penguatan kompetensi riset.

Selama kuliah, ia memanfaatkan mata kuliah pilihan untuk memperdalam minat pada formulasi kosmetik, pengembangan produk, dan kewirausahaan. Pengalaman laboratorium, kompetisi, magang, serta tugas akhir turut membentuk kemampuan analitis dan fleksibilitasnya dalam menyelesaikan persoalan.

Menurut Cecilia, pekerjaan di bidang pengembangan produk membutuhkan komunikasi yang efektif untuk menyelaraskan ide sejak tahap konsep hingga peluncuran. Kemampuan tersebut digunakan dalam koordinasi dengan tim internal, pemasok, dan mitra eksternal.

Ia juga menyoroti pentingnya memahami kebutuhan konsumen dan regulasi pasar, bukan hanya menguasai formulasi serta pengujian laboratorium. Pengembangan produk harus menjembatani hasil riset dengan kebutuhan bisnis sekaligus memastikan aspek kepatuhan regulasi diperhatikan.

"Tantangan terbesarnya adalah menyelaraskan riset akademis dengan kebutuhan bisnis," ujar Cecilia.

Ia menambahkan, kompetensi teknis seperti ilmu kosmetik, toksikologi, dan regulasi merupakan fondasi penting dalam R&D. Namun, kemampuan mengelola keseluruhan proses pengembangan produk, mulai dari riset, koordinasi, hingga eksekusi peluncuran, juga menjadi faktor krusial dalam pekerjaannya.

Pengalaman keempat alumni i3L University tersebut memperlihatkan beragam jalur karier yang dapat ditempuh lulusan Farmasi di industri kecantikan.

Kompetensi sains dapat menjadi modal untuk memasuki fungsi pengembangan produk, sementara pemahaman konsumen dan bisnis membuka peluang di bidang inovasi serta pengelolaan merek.

Pada akhirnya, perusahaan membutuhkan profesional yang mampu menghubungkan sains dengan kebutuhan konsumen dan strategi bisnis agar inovasi dapat berkembang menjadi produk yang relevan serta memiliki daya saing di pasar.