INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Karya sastra memiliki potensi lebih luas dari sekadar bacaan. Di balik cerita yang tertuang dalam buku, terdapat peluang untuk melahirkan berbagai produk kreatif, mulai dari film, animasi, gim, hingga pertunjukan. Potensi inilah yang menjadi salah satu fokus penyelenggaraan LITERAIA 2026 di Museum Nasional, Jakarta, melalui kolaborasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) bersama Negeri Elok.

Mengusung tema “Literasi Sumatera”, festival ini mempertemukan penulis, penerbit, komunitas literasi, dan pelaku industri kreatif dalam sebuah ruang kolaborasi. LITERAIA 2026 tidak hanya mendorong tumbuhnya minat baca, tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) Indonesia agar memiliki nilai tambah dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan, sastra merupakan salah satu fondasi penting bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis penceritaan atau storynomics. Menurutnya, karya tulis dapat menjadi titik awal bagi lahirnya beragam produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperluas jangkauan cerita Indonesia.

“Sastra adalah fondasi dari ekonomi kreatif berbasis penceritaan atau storynomics. Karena itu, hilirisasi dan komersialisasi kekayaan intelektual menjadi penting agar karya para penulis Indonesia terus berkembang, menjangkau pasar yang lebih luas, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi para kreatornya,” ujar Menteri Ekraf.

Melalui rangkaian diskusi, lokakarya, dan instalasi seni literasi, LITERAIA 2026 menghadirkan beragam perspektif mengenai pengembangan karya sastra ke berbagai medium kreatif. Pertemuan antara penulis, penerbit, komunitas, dan industri diharapkan dapat membuka peluang kerja sama, memperkuat pengelolaan kekayaan intelektual, serta memperluas akses pasar bagi karya-karya sastra Indonesia.

Upaya memperkuat ekosistem sastra juga dilakukan melalui dukungan terhadap industri penerbitan. Kementerian Ekraf bersama Kementerian Keuangan serta kementerian dan lembaga terkait tengah mendorong perubahan kebijakan perpajakan royalti buku menjadi Pajak Penghasilan (PPh) Final sebesar 1,5 persen. Kebijakan tersebut saat ini memasuki tahap harmonisasi.

Perubahan kebijakan ini diharapkan dapat memberikan kepastian perpajakan bagi penulis, meningkatkan kesejahteraan kreator, serta menjaga keberlanjutan industri penerbitan nasional. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem yang tidak hanya mendorong lahirnya karya, tetapi juga memastikan adanya peluang pengembangan dan pemanfaatan karya secara berkelanjutan.

“Kami terus memperkuat ekosistem penerbitan melalui perlindungan hak cipta, komersialisasi kekayaan intelektual, serta perluasan akses pembiayaan dan pasar. Harapan kami, semakin banyak karya sastra Indonesia yang berkembang menjadi IP unggulan dan mampu menjangkau pasar nasional maupun global,” tambah Menteri Ekraf.

Pembukaan LITERAIA 2026 ditandai dengan pembacaan dramatik (dramatic reading) novel Laskar Pelangi. Menteri Ekraf tampil bersama penulis Ratih Kumala, Valerie Patkar, Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin, serta perwakilan Negeri Elok. Momen tersebut menegaskan bahwa karya sastra dapat terus hidup melampaui halaman buku, menyampaikan pesan lintas generasi, dan membuka kemungkinan adaptasi ke berbagai medium kreatif.

Selain pertunjukan tersebut, festival ini menghadirkan instalasi seni karya Dedy Sufriadi yang menggunakan buku-buku sastra Sumatera sebagai material utama. Program Membaca Bersama Anak-Anak Indonesia turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan untuk memperkenalkan literasi kepada generasi muda sekaligus menumbuhkan kedekatan anak-anak dengan buku.

Negeri Elok juga menggandeng komunitas kreatif untuk menyumbangkan dan merekomendasikan karya literasi sebagai koleksi Perpustakaan Museum Nasional. Inisiatif ini menjadi langkah untuk memperluas akses masyarakat terhadap karya sastra Indonesia sekaligus memperkuat peran ruang publik dan institusi budaya dalam menjaga keberlanjutan ekosistem literasi.