INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Pengakuan dunia merupakan sebuah kebanggaan. Namun, mempertahankannya membutuhkan komitmen yang berkelanjutan, kerja sama lintas sektor, serta konsistensi dalam menjaga nilai-nilai yang menjadi dasar pengakuan tersebut.
Prinsip inilah yang menjadi landasan Kementerian Pariwisata dalam memperkuat keberlanjutan status UNESCO Global Geopark (UGGp) di Indonesia. Dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Kemenpar terus mendorong pendampingan bagi geopark yang menjalani proses revalidasi sekaligus mempersiapkan calon geopark Indonesia untuk memenuhi standar internasional.
Bagi Indonesia, status UNESCO Global Geopark bukan sekadar pengakuan internasional atau label destinasi wisata. Lebih dari itu, status tersebut merupakan amanah untuk menjaga warisan geologi yang memiliki nilai penting bagi dunia.
Amanah itu dijalankan melalui tiga pilar utama, yakni konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan. Ketiganya menjadi fondasi agar kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta nilai budaya masyarakat di kawasan geopark dapat terus terjaga dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
2025, Tahun Pembuktian bagi Tiga Geopark Indonesia
Upaya mempertahankan pengakuan internasional tersebut terlihat dalam proses revalidasi tiga geopark Indonesia sepanjang 2025.
Kemenpar mendampingi Toba Caldera UNESCO Global Geopark dalam proses revalidasi pada 21–25 Juli 2025. Setelah menerima yellow card pada 2023, Toba Caldera berhasil kembali memperoleh _green card_. Hasil ini menjadi momentum penting bagi penguatan pengelolaan geopark tersebut.
Sementara itu, Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark menjalani revalidasi pada 30 Juni–4 Juli 2025 dan berhasil mempertahankan green card. Capaian serupa diraih Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark setelah menjalani proses revalidasi pada 28 Juni–2 Juli 2025.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan status geopark dunia bukanlah proses yang berhenti setelah pengakuan diperoleh. Pengelolaannya harus terus diperkuat melalui pemenuhan rekomendasi UNESCO, peningkatan kualitas interpretasi, pengembangan edukasi, serta keterlibatan masyarakat setempat.
Lima Geopark Kembali Menjalani Revalidasi pada 2026
Tantangan berlanjut pada 2026. Lima UNESCO Global Geopark Indonesia dijadwalkan menjalani proses revalidasi untuk memastikan konsistensi pengelolaan dan pemenuhan standar internasional.
Kelima geopark tersebut meliputi Maros-Pangkep pada 27–31 Juli 2026, Ijen dan Belitong pada 3–7 Agustus 2026, Merangin pada 10–14 Agustus 2026, serta Raja Ampat pada 18–22 Agustus 2026.
Dalam proses ini, pendampingan dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing kawasan, mulai dari penguatan interpretasi warisan geologi hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan bahwa pengelolaan geopark tidak hanya memenuhi standar administratif, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Hasil revalidasi dijadwalkan diumumkan pada November 2026 di Paris. Pengumuman tersebut akan menjadi salah satu penanda penting bagi keberlanjutan pengakuan internasional geopark Indonesia.
Kolaborasi Lintas Negara, Menguatkan Jejaring Geopark Dunia
Selain memperkuat pengelolaan di tingkat kawasan, kolaborasi dan pertukaran pengetahuan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan geopark.
Dalam rangkaian pendampingan revalidasi Raja Ampat, Kemenpar mendukung pre-event The 7th Geoturism Festival & International Conference (GeoFest) 2026 yang diselenggarakan pada 8–9 Juni 2026 di Waisai, Raja Ampat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung pemenuhan rekomendasi UNESCO, khususnya dalam aspek jejaring dan kolaborasi antargeopark. Kolaborasi yang melibatkan Raja Ampat, Toba Caldera, dan Lenggong di Malaysia diharapkan memperkuat pertukaran pengalaman serta mendorong pengembangan geowisata yang berkelanjutan.
Melalui jejaring tersebut, geopark tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengetahuan, penguatan kapasitas, dan pengembangan praktik pengelolaan yang dapat memberikan manfaat lebih luas.
Menyiapkan Generasi Geopark Indonesia Berikutnya
Di saat menjaga geopark yang telah memperoleh pengakuan dunia, Indonesia juga mempersiapkan calon-calon geopark baru atau Aspiring UNESCO Global Geopark agar mampu memenuhi persyaratan internasional.
Dua kawasan yang mendapat pendampingan pada 2026 adalah Bojonegoro Aspiring UGGp pada 27–31 Juli 2026 dan Silokek Aspiring UGGp pada 16–21 Agustus 2026.
Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan kawasan, baik dalam aspek pengelolaan warisan geologi, edukasi, konservasi, maupun pembangunan berkelanjutan. Dengan persiapan yang terarah, calon geopark diharapkan mampu membangun fondasi pengelolaan yang kuat sebelum melangkah ke tingkat global.
Hasil proses pengembangan calon geopark tersebut juga dinantikan pada November 2026.
Menjaga yang Ada, Menyiapkan yang Berikutnya
Perjalanan geopark Indonesia menunjukkan bahwa pengakuan internasional bukanlah garis akhir. Status tersebut justru menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga kekayaan alam, memperkuat pengetahuan, dan memastikan masyarakat memperoleh manfaat dari pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.
Melalui pendampingan revalidasi, penguatan jejaring internasional, dan persiapan calon geopark baru, Kementerian Pariwisata berupaya memastikan bahwa warisan geologi Nusantara tetap terjaga sekaligus relevan bagi pembangunan masa depan.
Sebab, kebanggaan atas pengakuan dunia tidak cukup dirayakan. Ia harus dirawat melalui komitmen bersama, konsistensi pengelolaan, dan kerja nyata agar warisan Indonesia dapat terus memberikan nilai bagi dunia.