INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Pergerakan pasar valuta asing global pada Senin (12/10/2026) masih dibayangi tarik-menarik sentimen antara pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), ketidakpastian geopolitik, dan prospek kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia. Pound sterling dan euro menguat pada awal perdagangan, sedangkan dolar Selandia Baru tertekan di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat ketegangan di Timur Tengah.
Pasar kini menempatkan data inflasi AS sebagai salah satu katalis utama yang berpotensi menentukan arah pergerakan mata uang dalam jangka pendek. Data Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) akan menjadi perhatian investor untuk mengukur peluang perubahan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Pelemahan indeks sentimen konsumen AS turut menekan dolar. Indeks Sentimen Konsumen University of Michigan turun menjadi 46,3 pada Oktober 2026 dari 48,1 pada September, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 47,6. Meski demikian, kenaikan ekspektasi inflasi AS justru membuka peluang bagi The Fed untuk mempertahankan sikap ketat, termasuk kemungkinan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan mendatang.
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, mendorong permintaan terhadap dolar sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Kondisi ini membuat pelemahan dolar berpotensi tidak berlangsung secara konsisten.
Pada perdagangan awal pekan, pasangan pound sterling terhadap dolar AS (GBPUSD) menguat ke level 1,3250, memperpanjang kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Penguatan tersebut ditopang penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dari level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Namun, GBPUSD masih bergerak dalam rentang terbatas yang telah berlangsung sekitar tiga pekan.
Dari Inggris, komitmen Menteri Keuangan John Healey untuk menjaga disiplin fiskal menjelang penyampaian anggaran pertamanya pada 28 Oktober menjadi sentimen pendukung pound sterling. Pasar menilai pengelolaan anggaran yang kredibel dapat membantu menjaga kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal dan perekonomian Inggris.
Secara teknikal, GBPUSD memiliki support di 1,3200 dan resistance di 1,3300. Penembusan resistance berpotensi membuka ruang penguatan lanjutan, tetapi ketidakpastian geopolitik dan terbatasnya likuiditas perdagangan selama libur di AS dapat menahan pergerakan pasangan mata uang tersebut.
Sementara itu, euro terhadap dolar AS (EURUSD) naik ke 1,1214 pada awal perdagangan Asia. Selain memperoleh dukungan dari pelemahan dolar, pergerakan euro juga dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan The Fed. Namun, mata uang tunggal Eropa masih menghadapi tekanan dari persoalan fiskal di kawasan tersebut.
Kekhawatiran terhadap kondisi anggaran Prancis meningkat seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintahnya ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Investor juga mencermati rencana belanja pemerintah Italia yang berpotensi memperlebar defisit anggaran. Kedua faktor tersebut dapat membatasi penguatan euro meskipun dolar AS sedang melemah.
Pelaku pasar turut menantikan pernyataan Wakil Presiden European Central Bank (ECB), Boris Vujčić, untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter kawasan euro. EURUSD memiliki support di 1,1180 dan resistance di 1,1250.
Dolar Australia juga bergerak menguat tipis terhadap dolar AS. AUDUSD berada di 0,6990, ditopang data sentimen konsumen AS yang lebih rendah dari perkiraan. Kendati demikian, peluang pengetatan kebijakan moneter The Fed masih menjadi risiko bagi mata uang Australia.
Fokus investor kini beralih ke risalah rapat Reserve Bank of Australia (RBA) yang dijadwalkan terbit pada Selasa. Dokumen tersebut akan menjadi acuan untuk membaca arah kebijakan suku bunga setelah peluang kenaikan pada November menurun menyusul data inflasi Australia yang sesuai ekspektasi. Pasar cenderung memperkirakan RBA mempertahankan suku bunga, meskipun peluang kenaikan lanjutan pada tahun ini belum sepenuhnya tertutup.
AUDUSD tercatat memiliki support di 0,6950 dan resistance di 0,7020. Pergerakannya akan sangat dipengaruhi oleh perbedaan prospek suku bunga Australia dan AS, terutama apabila data inflasi AS kembali memperkuat ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat.
Berbeda dengan tiga mata uang tersebut, dolar Selandia Baru masih menghadapi tekanan. NZDUSD bergerak di sekitar 0,5616, melanjutkan pelemahan selama dua hari berturut-turut. Ketegangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan membebani sentimen pasar terhadap mata uang Selandia Baru.
Investor juga mencermati data inflasi pangan dan indeks aktivitas bisnis atau Purchasing Managers' Index (PMI) Selandia Baru, serta data inflasi China. Perkembangan ekonomi China menjadi perhatian karena dapat memengaruhi prospek permintaan ekspor Selandia Baru. NZDUSD memiliki support di 0,5580 dan resistance di 0,5640.
Di Asia, dolar AS melemah terhadap yen Jepang dengan USDJPY bergerak ke 158,17. Aktivitas perdagangan relatif sepi karena pasar Jepang tutup untuk memperingati Sports Day. Selain itu, penurunan indeks sentimen konsumen AS turut memberikan tekanan terhadap dolar.
Investor juga mengamati prospek kebijakan Bank of Japan (BoJ) menjelang pertemuan pada 29–30 Oktober. Kenaikan suku bunga dalam waktu dekat belum menjadi skenario utama, meskipun pasar memperkirakan peluang pengetatan kembali terbuka pada Desember atau Januari. USDJPY memiliki support di 157,70 dan resistance di 158,80.
Adapun dolar AS terhadap franc Swiss (USDCHF) bergerak di level 0,8296. Dolar masih mendapat dukungan dari meningkatnya ketegangan geopolitik dan posisi indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) yang berada di sekitar 102,14, mendekati level tertinggi dalam 18 bulan.
Dari Swiss, Wakil Ketua Swiss National Bank (SNB) Antoine Martin menyatakan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat belum diperlukan karena inflasi masih berada dalam rentang stabilitas harga. SNB mempertahankan suku bunga kebijakan pada 0% pada September dan menyatakan kesediaannya melakukan intervensi di pasar valuta asing jika diperlukan.
Sikap SNB yang relatif longgar berpotensi menekan franc Swiss dan menopang USDCHF. Namun, permintaan terhadap aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik dapat membatasi kenaikan pasangan mata uang tersebut. Level support USDCHF berada di 0,8260 dan resistance di 0,8330.
Sementara itu, dolar AS terhadap dolar Kanada (USDCAD) bergerak di level 1,4256. Penurunan tipis imbal hasil obligasi pemerintah AS menahan penguatan pasangan mata uang tersebut. Di sisi lain, pelemahan harga minyak mentah akibat harapan peningkatan pasokan energi seiring potensi gencatan senjata Rusia-Ukraina berpotensi menekan dolar Kanada.
Sebagai negara produsen energi, Kanada memiliki mata uang yang sensitif terhadap pergerakan harga minyak. Karena itu, perubahan ekspektasi pasokan minyak global dapat memengaruhi arah dolar Kanada, meskipun perkembangan kebijakan moneter Bank of Canada (BoC) dan The Fed tetap menjadi faktor utama.
USDCAD berpotensi memperoleh dukungan dari ketegangan geopolitik AS-Iran dan ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih hawkish dibandingkan BoC. Investor akan mencermati data PPI dan CPI AS serta pernyataan pejabat kedua bank sentral. Secara teknikal, USDCAD memiliki support di 1,4200 dan resistance di 1,4300.
Secara keseluruhan, pasar valuta asing memasuki pekan yang sarat katalis ekonomi dan geopolitik. Pelemahan data sentimen konsumen AS belum cukup untuk memastikan tren penurunan dolar berlanjut karena ekspektasi inflasi dan risiko konflik masih menopang permintaan terhadap mata uang AS.
Arah perdagangan selanjutnya akan ditentukan oleh kemampuan data inflasi AS mengubah ekspektasi suku bunga The Fed, disertai perkembangan kebijakan bank sentral Inggris, Eropa, Australia, Jepang, Swiss, Kanada, dan Selandia Baru. Bagi investor, perbedaan prospek suku bunga antarnegara dan perubahan sentimen risiko menjadi faktor penting dalam menentukan arah pergerakan mata uang global.