INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Jumlah investor reksa dana di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencapai 375.672 Single Investor Identification (SID) pada Agustus 2026. Angka tersebut melonjak 40,16% secara tahunan atau year-on-year (YoY) dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 268.050 SID.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam instrumen investasi reksa dana. Namun, kenaikan jumlah investor juga perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai karakteristik produk, risiko investasi, serta perlindungan investor.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Daerah Istimewa Yogyakarta Eko Yunianto mengatakan, peningkatan jumlah investor menunjukkan bahwa reksa dana semakin dipertimbangkan masyarakat sebagai alternatif instrumen investasi.
“Perkembangan jumlah investor reksa dana secara nasional dan di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan meningkatnya pertimbangan masyarakat terhadap instrumen investasi ini. Hal tersebut tentunya menjadi salah satu tanda bahwa optimisme reksa dana mulai dipertimbangkan sebagai alternatif instrumen investasi, khususnya bagi masyarakat di DIY,” ujar Eko dalam keterangan resmi, Senin (12/10/2026).
Sejalan dengan perkembangan tersebut, OJK mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 32,17 juta pada akhir September 2026, meningkat lebih dari 50% sejak awal tahun atau year-to-date (YtD). Pada bulan yang sama, jumlah investor baru bertambah sebanyak 1,03 juta.
Besarnya pertumbuhan basis investor tersebut membuka peluang bagi industri pengelolaan investasi untuk memperluas jangkauan produk. Di sisi lain, peningkatan literasi menjadi tantangan agar pertumbuhan investor tidak sekadar tercermin dari pembukaan rekening, tetapi juga diikuti kemampuan mengambil keputusan investasi secara tepat.
Untuk mendorong hal tersebut, PT Bibit Tumbuh Bersama, perusahaan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang berizin dan diawasi OJK, berpartisipasi dalam Sosialisasi dan Edukasi (SOSEDU) Program PINTAR (Program Investasi Terencana dan Berkala) Reksa Dana di Yogyakarta pada 8–9 Oktober 2026.
Program yang diselenggarakan OJK bersama Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) itu mengusung tema “Dari Paham Jadi Pilihan, Tumbuh & Berkah Bersama”. Kegiatan tersebut berfokus pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai reksa dana syariah, akses terhadap produk investasi, serta pentingnya perlindungan investor.
Yogyakarta menjadi kota pertama dalam rangkaian SOSEDU Reksa Dana Syariah semester II/2026. Program edukasi ini direncanakan berlanjut ke Cirebon, Kendari, Palembang, dan Balikpapan, sebelum ditutup di Jakarta.
Rangkaian kegiatan di Yogyakarta menyasar berbagai kelompok masyarakat. Pada 8 Oktober 2026, edukasi digelar bagi wartawan di Kantor OJK DIY. Kegiatan berlanjut pada 9 Oktober 2026 dengan menyasar mahasiswa dan komunitas, serta mencakup edukasi bagi pelajar sekolah.
Head of PR & Corporate Communication Bibit.id, William, menilai pertumbuhan jumlah investor pasar modal perlu diikuti peningkatan pemahaman masyarakat agar perluasan inklusi keuangan menghasilkan keputusan investasi yang lebih berkualitas.
“Pertumbuhan jumlah investor Pasar Modal merupakan momentum penting untuk memperluas partisipasi masyarakat. Namun, inklusi tidak berhenti pada kemudahan membuka akses investasi. Masyarakat juga perlu memahami produk yang dipilih, risiko yang menyertainya, dan bagaimana investasi tersebut dapat mendukung tujuan keuangan mereka,” ujar William.
Menurutnya, edukasi berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi digital dapat saling melengkapi untuk memperluas akses masyarakat terhadap instrumen investasi. Meski teknologi mempermudah transaksi, investor tetap perlu menyesuaikan pilihan produk dengan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, dan profil risiko masing-masing.
“Melalui partisipasi dalam Program PINTAR Reksa Dana, Bibit ingin berkontribusi memperluas pemahaman masyarakat mengenai investasi, termasuk reksa dana syariah. Kami percaya bahwa investasi sebaiknya dimulai dari pemahaman yang baik, tujuan yang jelas, dan kebiasaan yang konsisten. Teknologi dapat mempermudah akses, tetapi keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada kebutuhan dan profil risiko masing-masing investor,” tambah William.
Selain edukasi, Bibit mendorong kebiasaan investasi berkala melalui metode Systematic Investment Plan (SIP) atau investasi rutin. Metode ini memungkinkan investor menyisihkan dana secara terjadwal sesuai kemampuan dan tujuan keuangan, tanpa harus menunggu memiliki modal besar.
Strategi tersebut menggabungkan konsep Dollar Cost Averaging (DCA), yakni investasi secara berkala dengan nominal yang relatif tetap, dan power of compounding, yaitu potensi pertumbuhan nilai investasi melalui akumulasi hasil dalam jangka panjang.
Melalui fitur autodebit, setoran investasi dapat dilakukan secara otomatis sesuai jadwal yang ditetapkan. Pendekatan ini diharapkan membantu investor membangun disiplin keuangan dan menjaga konsistensi investasi.
Meski demikian, investasi berkala tidak menghilangkan risiko pasar maupun menjamin keuntungan. Pemilihan produk, penetapan target, serta penyesuaian nominal investasi dengan kemampuan keuangan tetap menjadi faktor penting dalam membangun kebiasaan investasi yang berkelanjutan.