INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Founder dan Presiden Direktur PT Jababeka Tbk S.D. Darmono, mengungkap keajaiban transformasi Kota Shenzhen, China, dari kawasan perbatasan menjadi pusat industri, teknologi, dan peradaban modern dunia.
Pelajaran itu ia petik dari 46 tahun perjalanan Shenzhen pada periode 1980-2026.
"Pada tahun 1980, Shenzhen belum menjadi kota metropolitan yang kita kenal sekarang. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Hong Kong ini masih didominasi permukiman sederhana, desa-desa pertanian, kegiatan perikanan, dan perdagangan lokal," ujar Darmono dalam keterangannya Sabtu (11/10/2026).
Darmono menjelaskan, titik balik terjadi pada Agustus 1980 ketika pemerintah China di bawah Deng Xiaoping menetapkan Shenzhen sebagai salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (SEZ) pertama. Kebijakan keterbukaan berupa kemudahan investasi asing, insentif perpajakan, industri berorientasi ekspor, dan reformasi pemanfaatan tanah menjadi fondasi.
Letaknya yang berbatasan dengan Hong Kong, kata dia, menjadi keuntungan strategis. Banyak perusahaan Hong Kong memindahkan manufakturnya ke Shenzhen karena ketersediaan lahan dan tenaga kerja, sehingga Shenzhen menjadi pintu masuk modal, teknologi, dan jaringan perdagangan internasional.
Menurut Pendiri President University ini, transformasi Shenzhen terjadi dalam empat tahap. Tahap pertama 1980-1990 membangun pusat manufaktur padat karya seperti pakaian dan mainan. Tahap kedua 1990-2000 mengembangkan industri dan kota dengan tumbuhnya perumahan, perkantoran, dan pusat perdagangan.
Tahap ketiga 2000-2015 menjadi peralihan ke teknologi dan inovasi di sektor telekomunikasi, elektronik, dan IT. Tahap keempat 2015-2026 menuju metropolitan teknologi dan kota hijau dengan pengembangan kendaraan listrik, robotika, AI, dan infrastruktur rendah karbon.
"Setiap tahap industrialisasi menghasilkan kebutuhan baru, dan kebutuhan tersebut menciptakan peluang ekonomi berikutnya," katanya.
Data resmi Pemerintah Shenzhen menunjukkan hasilnya. Pada 2025, PDB Shenzhen mencapai 3,87 triliun yuan atau tumbuh 5,5 persen, dengan penduduk tetap 18,25 juta jiwa. Komposisi ekonomi bergeser, sektor industri dan konstruksi 37,4 persen dan sektor jasa 62,5 persen.
Perdagangan barang internasional mencapai 4,55 triliun yuan dan pelabuhannya menangani 35,4 juta TEU peti kemas. Kota ini kini menjadi rumah bagi Huawei, Tencent, BYD, DJI, dan ZTE.
Darmono menyebut, keunggulan Shenzhen adalah kemampuannya naik kelas dari sekadar perakitan menjadi pemilik teknologi dan merek global. Hal itu ditopang belanja riset dan pengembangan sebesar 6,67 persen dari PDB pada 2024, dengan kontribusi dunia usaha lebih dari 90 persen.
Transformasi juga terlihat dari gaya hidup. Dari kota pekerja, kini Shenzhen memiliki pusat perbelanjaan modern seperti The MixC di Luohu, MixC Shenzhen Bay, COCO Park di Futian, MixC World di Nanshan, dan K11 ECOAST yang menjadi pusat sosial dan ekonomi baru.
"Pabrik menciptakan lapangan kerja. Lapangan kerja meningkatkan daya beli. Daya beli menciptakan pasar untuk perdagangan dan jasa," ujarnya.
Di tengah industrialisasi, Shenzhen tetap membangun kota hijau. Hingga akhir 2025 terdapat 1.350 taman dengan cakupan vegetasi hijau 45,7 persen dan jalur hijau 4.019 kilometer, seperti Shenzhen Bay Park dan Lianhuashan Park. Pada 2017, seluruh 16.000 armada bus kota dialihkan menjadi bus listrik.
Dari sisi konektivitas, jaringan metro mencapai 634,5 kilometer dengan 18 jalur pada akhir 2025, didukung jalan raya, kereta cepat, pelabuhan, dan bandara internasional.
Untuk menopang SDM, Shenzhen memiliki 2.996 sekolah dan 171 rumah sakit serta universitas seperti Shenzhen University dan Southern University of Science and Technology (SUSTech).
Darmono merangkum tujuh faktor kunci keberhasilan Shenzhen: visi jangka panjang, kebijakan investasi terbuka, infrastruktur yang mengikuti kebutuhan industri, reformasi tanah, kewirausahaan dan inovasi, pengembangan SDM, serta pembangunan fasilitas kehidupan perkotaan.
Namun, ia mengingatkan tantangan masih ada, seperti mahalnya harga tanah dan perumahan, keberadaan urban villages, kemacetan, dan tekanan sumber daya air serta energi.
Bagi Indonesia, Darmono menilai pengalaman Shenzhen sangat relevan. Kawasan industri tidak boleh hanya dipandang sebagai kumpulan pabrik, melainkan titik awal kota baru yang melahirkan kebutuhan perumahan, perdagangan, pendidikan, hingga kesehatan.
"Indonesia perlu membangun kawasan industri yang tidak hanya mengandalkan keunggulan biaya tenaga kerja dan tanah, tetapi juga mampu menumbuhkan penelitian, teknologi, dan kewirausahaan," ucapnya.
Ia menutup, "Membangun industri berarti membangun kota. Membangun kota berarti membangun peradaban."