INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Singkong-APP, formulasi retardan api berbasis pati singkong dan amonium polifosfat (APP), sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung penanganan kebakaran lahan gambut. Teknologi ini dirancang untuk membantu mengatasi pembakaran residual yang dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan memicu munculnya kembali api setelah kebakaran di permukaan terlihat padam.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Julinton Sianturi, menjelaskan bahwa pengembangan teknologi tersebut didasarkan pada pemahaman terhadap karakteristik kebakaran gambut hingga tingkat molekuler. Menurutnya, tantangan utama dalam penanganan kebakaran gambut tidak hanya terletak pada pemadaman api yang terlihat, tetapi juga pada upaya mengendalikan panas dan bara yang masih tersimpan di bawah permukaan.

“Kebakaran pada lahan gambut dapat merambat di bawah permukaan dan menyisakan panas. Ketika terdapat celah masuk oksigen, pembakaran dapat kembali muncul di permukaan. Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pengembangan pendekatan pemadaman,” jelas Julinton dalam Media Lounge Discussion (MELODI) bertema “Sains di Balik Karhutla Gambut dan Teknologi” di Gedung B.J. Habibie BRIN, Jakarta, Selasa (6/10).

Salah satu inovasi yang dikembangkan untuk menjawab tantangan tersebut adalah Singkong-APP. Sesuai namanya, formulasi ini memanfaatkan pati (starch) dari singkong yang dikombinasikan dengan APP. Formulasi tersebut juga menggunakan alkyl polyglucoside (APG) untuk membantu menurunkan viskositas cairan sehingga lebih mudah diaplikasikan melalui penyemprotan dan diharapkan mampu menjangkau bagian bawah material yang terbakar.

Secara mekanistik, APP akan terdekomposisi ketika terkena panas dan menghasilkan asam fosfat serta amonia. Asam fosfat kemudian berinteraksi dengan pati singkong untuk membentuk Pati-APP. Ketika mengalami pemanasan lebih lanjut, material ini menghasilkan lapisan arang atau char yang berfungsi sebagai penghalang perpindahan panas, membatasi akses terhadap bahan bakar, dan menghambat masuknya oksigen.

Pembentukan lapisan tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pendekatan pemadaman Singkong-APP. Ketika api dari bagian bawah bergerak menuju permukaan, lapisan char diharapkan dapat menyelimuti material yang terbakar sehingga membantu menekan keberlanjutan pembakaran.

Berbeda dengan air yang terutama bekerja melalui mekanisme pendinginan, Singkong-APP menggabungkan sejumlah mekanisme, meliputi pendinginan, pembasahan, retensi cairan, dan pembentukan lapisan char. Kombinasi tersebut dikembangkan untuk membantu mengendalikan pembakaran residual yang berpotensi memicu munculnya kembali api.

Pengujian awal dilakukan menggunakan media simulasi yang dirancang menyerupai karakteristik bahan terbakar pada kebakaran gambut. Media tersebut terdiri atas daun kering, ranting, sekam padi, dan serbuk gergaji. Tahapan pengujian mencakup pembentukan bara atau smouldering, penyemprotan pada permukaan, penetrasi cairan ke bagian bawah media, pemadaman pembakaran residual, serta pemantauan kondisi setelah pemadaman.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan Singkong-APP membutuhkan 65 liter cairan dengan waktu aplikasi 15 menit. Sebagai pembanding, penggunaan air membutuhkan 120 liter dengan waktu aplikasi 23 menit 35 detik.

Perbedaan juga terlihat pada pengukuran suhu setelah tahap kedua atau penetrasi ke bagian bawah media. Pada pengujian menggunakan Singkong-APP, suhu yang terukur mencapai 46 °C, sedangkan pada media yang menggunakan air tercatat 117,5 °C.

Pemantauan setelah pemadaman selama 60 menit menunjukkan bahwa tidak ditemukan titik api pada pengujian Singkong-APP. Sebaliknya, pada media yang menggunakan air masih ditemukan enam titik api. Pengamatan lanjutan juga tidak menunjukkan adanya asap atau nyala pada material Singkong-APP yang diperiksa, sementara pembakaran masih teramati pada media yang menggunakan air.

Temuan awal tersebut menunjukkan potensi Singkong-APP sebagai pendekatan alternatif untuk membantu mengendalikan pembakaran residual pada media simulasi kebakaran gambut. Meski demikian, hasil pengujian tersebut belum dapat langsung digeneralisasi untuk kondisi kebakaran gambut di lapangan karena pengujian masih dilakukan pada skala simulasi.

Julinton menyampaikan bahwa pengembangan selanjutnya perlu diarahkan pada produksi skala percontohan atau pilot scale serta pengujian dalam skala yang lebih besar. Langkah tersebut diperlukan untuk mengevaluasi kesiapan formulasi dalam menjawab kebutuhan penanganan kebakaran di area yang lebih luas.

“Permasalahan berikutnya adalah bagaimana melakukan produksi secara pilot untuk menjawab kebutuhan nasional, terutama untuk pembakaran di lahan yang lebih besar,” ujar Julinton.

Selain peningkatan skala produksi, ketersediaan bahan baku APP juga menjadi tantangan dalam pengembangan teknologi tersebut. Julinton menjelaskan bahwa material APP belum tersedia di Indonesia sehingga tim melakukan sintesis secara mandiri dengan melibatkan asam fosfat dan urea. Proses ini menghasilkan amonia yang bersifat beracun sehingga membutuhkan reaktor yang memadai serta penerapan prosedur keselamatan yang ketat bagi peneliti.

Ke depan, pengembangan Singkong-APP akan difokuskan pada peningkatan skala produksi, evaluasi kinerja, serta penyempurnaan formulasi agar dapat diaplikasikan melalui penyemprotan dan menjangkau bagian bawah media yang terbakar. Pengujian lanjutan pada skala yang lebih besar diperlukan untuk menilai efektivitas, kebutuhan aplikasi, dan kemungkinan penerapannya dalam penanganan kebakaran lahan gambut.

Melalui pengembangan ini, BRIN berupaya mengeksplorasi pendekatan berbasis sains dan rekayasa material untuk mendukung penanganan kebakaran gambut. Namun, penerapan Singkong-APP di lapangan masih memerlukan validasi lebih lanjut sebelum efektivitasnya dapat dipastikan pada kondisi kebakaran yang sesungguhnya.