INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Penguatan ketahanan pangan nasional terus menjadi salah satu fokus pemerintah dalam dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Berbagai langkah pembenahan di sektor pertanian dilakukan, mulai dari penyederhanaan regulasi pupuk bersubsidi, peningkatan kesejahteraan petani, hingga penguatan kapasitas produksi pangan dalam negeri.
Melansir Badan Komunikasi Republik Indonesia (Bakom RI), Indonesia disebut berhasil mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan dalam waktu satu tahun, lebih cepat dari target awal empat tahun. Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian pangan nasional, dengan proyeksi surplus pada delapan komoditas pangan utama sepanjang 2026.
Percepatan tersebut tidak terlepas dari pembenahan kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan petani. Pemerintah menyederhanakan tata kelola pupuk bersubsidi melalui pemangkasan 145 aturan, pencabutan 2.232 izin pengecer dan distributor, serta penurunan harga eceran tertinggi (HET) pupuk sebesar 20 persen.
Penyederhanaan regulasi ini menjadi salah satu langkah untuk memperbaiki akses petani terhadap sarana produksi. Dengan dukungan kebijakan yang lebih sederhana, penguatan sektor pertanian diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan menopang peningkatan produksi pangan nasional.
Selain pembenahan tata kelola, perkembangan sektor pertanian juga tercermin dari indikator kesejahteraan petani. Pada September 2026, nilai tukar petani (NTP) tercatat sebesar 131,11, disertai kenaikan indeks harga yang diterima petani sebesar 1,93 persen.
Sementara itu, secara kumulatif selama Januari hingga September 2026, NTP mencapai 127,03 atau meningkat 3,44 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator yang menggambarkan perubahan kondisi ekonomi petani di tengah upaya penguatan sektor pertanian.
Di sisi produksi, proyeksi pangan 2026 menunjukkan potensi surplus pada delapan komoditas utama. Beras diperkirakan mencatat surplus sebesar 3,56 juta ton, sedangkan jagung mencapai 1,40 juta ton.
Surplus juga diproyeksikan terjadi pada komoditas hortikultura, meliputi bawang merah sebesar 54.000 ton, cabai besar 592.000 ton, dan cabai rawit 584.000 ton.
Pada sektor peternakan dan gula konsumsi, produksi daging ayam ras diproyeksikan surplus 863.000 ton, telur ayam ras 711.000 ton, serta gula konsumsi sebesar 191.000 ton.
Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa penguatan ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada ketersediaan beras, tetapi juga mencakup beragam komoditas yang berperan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
Memasuki dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo, agenda penguatan pangan nasional diarahkan pada pembenahan dari hulu hingga hilir. Penyederhanaan aturan pupuk, peningkatan kesejahteraan petani, dan penguatan produksi menjadi bagian dari fondasi untuk mendorong kemandirian pangan.
Swasembada pangan pada akhirnya bukan semata-mata tentang memenuhi kebutuhan konsumsi dalam jangka pendek. Lebih dari itu, kemandirian pangan mencerminkan kemampuan negara untuk mengandalkan produksi dalam negeri, memperkuat posisi petani, serta menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat secara berkelanjutan.
Dengan fondasi pertanian yang terus diperkuat, proyeksi surplus berbagai komoditas pada 2026 menjadi salah satu gambaran arah pembangunan pangan nasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan produksi tersebut berjalan beriringan dengan kesejahteraan petani, distribusi yang efektif, dan keterjangkauan pangan bagi masyarakat.