INDUSTRY.co.id - Jakarta — PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) atau Askrindo, anggota Holding Asuransi dan Penjaminan, Indonesia Financial Group (IFG) dan bagian dari Danantara Indonesia, terus memperkuat kualitas layanan kepada nasabah dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui Transformasi Operating Model yang berfokus pada penyempurnaan model operasional baru untuk penciptaan nilai.
Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah Sentralisasi Tiga Fungsi operasional Kantor Cabang, yaitu Keuangan & Akuntansi, Underwriting, dan Klaim.
Acara Seremoni Implementasi Sentralisasi yang berlangsung di Graha Askrindo ini dihadiri oleh Plt. Direktur Peningkatan Nilai Badan Usaha Milik Negara Keuangan, Telekomunikasi dan Jasa BP BUMN, Widia Jessti dan Direktur Keuangan IFG, Heru Handayanto serta seluruh Direksi Askrindo.
Transformasi Operating Model ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dan ditujukan untuk menciptakan proses layanan yang lebih cepat, terstandar, dan mudah dimonitor, sekaligus memperkuat akuntabilitas perusahaan.
Bagi ekosistem KUR, langkah tersebut diharapkan memberikan kepastian yang lebih baik dalam penyelesaian klaim bagi debitur serta meningkatkan konsistensi layanan bagi mitra perbankan.
Direktur Utama Askrindo, R. Mahelan Prabantarikso, menegaskan bahwa sentralisasi ini merupakan bagian dari agenda besar transformasi perusahaan untuk membangun Askrindo yang lebih kuat, efisien, dan berdaya saing.
"Askrindo harus terus bertransformasi agar dapat menjawab kebutuhan nasabah dan ekosistem bisnis yang berkembang semakin cepat. Sentralisasi fungsi operasional ini adalah langkah konkret untuk memastikan bahwa layanan bagi UMKM dan penerima KUR dari kami dapat dihadirkan dengan lebih cepat, lebih pasti, dan dengan standar yang sama di seluruh Indonesia," ujar Mahelan.
Direktur Keuangan Askrindo, Leonardo Henry Gavaza, menambahkan bahwa secara teknis, transformasi tersebut dilakukan untuk menjawab tantangan proses bisnis yang sebelumnya masih tersebar di kantor cabang dan dalam sejumlah proses masih dilakukan secara manual.
"Kami melihat adanya kebutuhan untuk menyederhanakan dan menstandarkan proses namun tetap menjaga kualitas agar layanan kepada nasabah dapat diberikan dengan lebih cepat dan konsisten. Dengan sentralisasi, pengendalian menjadi lebih kuat dan kualitas layanan semakin seragam di seluruh Indonesia," ujar Leonardo.
Program transformasi tersebut telah berjalan sejak awal tahun 2025 dan dilakukan secara bertahap melalui empat tahapan, yaitu kajian, piloting, evaluasi, dan implementasi nasional.
Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan proses, sistem, dan sumber daya manusia sebelum diterapkan secara lebih luas.
"Pada Keuangan & Akuntansi, proses transaksi dan pencatatan dipusatkan agar pelaporan lebih terstandar. Pada Underwriting Asuransi Umum, kami memperkuat standardisasi analisis risiko dan spesialisasi underwriter untuk menjaga konsistensi perlindungan. Sementara pada Klaim, kami mengintegrasikan proses dengan dukungan teknologi, termasuk microsite Klaim KUR yang memungkinkan perkembangan klaim dipantau secara transparan," lanjut Leonardo.
Proses sentralisasi ini juga membantu perusahaan dalam mempercepat SLA pembayaran keuangan serta meningkatkan produktivitas pegawai. "Dalam hasil uji coba sentralisasi menunjukkan SLA pembayaran yang lebih cepat dari 8 hari menjadi 2 hari saja, serta produktivitas underwriting mencapai 3,5x akseptasi perharinya. Ini membuktikan bahwa sentralisasi menjadi langkah transformasi yang tepat saat ini," jelas Leo.
Sentralisasi Keuangan & Akuntansi sebelumnya telah diuji coba di Kantor Cabang Bandung, Surabaya, dan Jakarta. Underwriting Asuransi Umum di Kantor Cabang Makassar, Surabaya, dan Bandung. Sementara Klaim KUR BRI di wilayah Jakarta.
Per September 2026, sentralisasi Keuangan & Akuntansi serta Underwriting Asuransi Umum telah memasuki tahap implementasi nasional. Sentralisasi Klaim KUR BRI ditargetkan memasuki implementasi pada kuartal IV 2026.
Sentralisasi tersebut juga sejalan dengan Aspirasi Pemegang Saham melalui RKAP 2026 yang mendorong kelanjutan sentralisasi fungsi operasional asuransi di kantor cabang, sekaligus menjadi bagian dari komitmen Askrindo dalam memperkuat tata kelola melalui mekanisme pengendalian dan akuntabilitas yang lebih terukur.
Hal ini juga ditegaskan oleh BP BUMN selaku Pemegang Saham Seri A yang turut mendukung proses sentralisasi sebagai bagian dari transformasi perusahaan untuk mendukung efektifitas konsolidasi yang tengah berlangsung.
"Dengan fondasi operasional yang semakin kuat, kami ingin memastikan Askrindo dapat terus memberikan pelindungan yang semakin baik bagi seluruh nasabah, serta memberikan kepastian layanan kepada mitra perbankan. Transformasi ini adalah bagian dari upaya kami membangun Askrindo yang semakin adaptif dan siap mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan," tutup Mahelan.