INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Kenaikan harga properti dan semakin beratnya akses terhadap hunian membuat Gen Z dan Milenial di kota-kota besar semakin realistis dalam menentukan tempat tinggal. Hunian sewa seperti co-living menjadi salah satu pilihan, tetapi bukan berarti generasi muda mengabaikan faktor biaya.
Riset Cove bersama platform riset Jakpat menunjukkan harga sewa yang sesuai dengan anggaran menjadi pertimbangan utama Gen Z dan Milenial di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya dalam memilih hunian co-living. Sebanyak 69% responden menempatkan kesesuaian harga sewa dengan anggaran sebagai faktor terpenting.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa keputusan menyewa hunian kini semakin erat dengan kemampuan mengelola pengeluaran bulanan. Bahkan, kecenderungan tersebut tidak hanya terjadi pada kelompok berpendapatan lebih rendah.
Country Director of Growth Cove Dian Paskalis mengatakan, responden dengan anggaran hidup menengah ke atas, yakni lebih dari Rp7,5 juta per bulan, tetap menjadikan harga sewa sesuai anggaran sebagai pertimbangan terbesar dalam mencari co-living.
“Gen Z dan Milenial hari ini sangat cermat dalam berhitung, tapi memiliki kompromi yang rendah terkait kenyamanan, termasuk dalam urusan pemilihan hunian sewa,” kata Dian dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).
Menurut dia, perilaku tersebut tidak semata-mata dipengaruhi besaran anggaran, tetapi juga karakter generasi muda yang semakin memperhitungkan nilai yang diperoleh dari pengeluaran mereka.
“Riset terbaru kami menunjukkan bahwa di kalangan responden dengan anggaran hidup menengah ke atas, yaitu di atas Rp7,5 juta per bulan, harga sewa yang sesuai anggaran tetap menjadi pertimbangan terbesar ketika mencari co-living, sama seperti kelompok lain dengan anggaran hidup di bawah angka tersebut,” ujarnya.
Selain harga, lokasi menjadi faktor penting dalam keputusan menyewa. Sebanyak 58% responden mempertimbangkan lokasi co-living yang strategis. Faktor ini lebih kuat di kalangan Milenial dengan proporsi 64%, dibandingkan Gen Z sebesar 51%.
Perbedaan tersebut mencerminkan kebutuhan mobilitas yang berbeda. Gen Z yang masih banyak berada pada fase pendidikan atau awal karier cenderung memiliki aktivitas yang lebih fleksibel. Sementara itu, Milenial yang umumnya telah memasuki tahap karier lebih mapan memiliki rutinitas kerja dan mobilitas yang lebih terstruktur.
Dengan demikian, lokasi hunian tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan, tetapi juga menjadi bagian dari kalkulasi biaya hidup. Hunian yang lebih dekat dengan pusat aktivitas berpotensi memangkas ongkos transportasi sekaligus waktu perjalanan.
Menariknya, sensitivitas terhadap harga tidak serta-merta membuat Gen Z dan Milenial memilih hunian dengan standar fasilitas paling rendah. Riset tersebut menunjukkan 55% responden mempertimbangkan co-living yang telah memasukkan biaya listrik, air, dan internet dalam harga sewa.
Pola ini menunjukkan pergeseran cara konsumen muda menilai keterjangkauan. Mereka tidak sekadar mencari harga sewa murah, tetapi lebih membutuhkan kepastian mengenai total biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan.
Setelah harga, lokasi, serta biaya utilitas yang sudah termasuk dalam sewa, faktor keamanan, kelengkapan fasilitas, dan kenyamanan kamar turut menjadi pertimbangan utama. Artinya, konsumen muda cenderung mencari konsep hunian yang memberikan keseimbangan antara biaya, lokasi, dan kualitas hidup.
Dian menilai struktur biaya hunian di Indonesia membuat kebutuhan tersebut semakin relevan. Harga hunian yang berada di lokasi strategis biasanya diikuti biaya yang lebih tinggi, terutama ketika dilengkapi berbagai fasilitas.
“Lokasi dan besaran harga sewa maupun jual merupakan hal yang amat berkaitan di pasar hunian Indonesia. Semakin strategis suatu hunian, maka akan semakin tinggi biayanya. Biaya ini juga umumnya semakin bertambah seiring kelengkapan fasilitas, seperti ketersediaan perabot kamar, security 24 jam, atau area komunal,” jelas Dian.
Dalam kondisi tersebut, co-living dinilai memiliki ruang untuk mengambil ceruk pasar yang membutuhkan hunian di kawasan perkotaan tanpa harus menanggung biaya awal dan komponen pengeluaran tambahan seperti pada skema hunian konvensional.
“Oleh karena itu, co-living hadir sebagai solusi bagi Gen Z dan Milenial: hunian di pusat perkotaan yang berfasilitas lengkap, dengan skema kontrak yang lebih fleksibel mulai dari hitungan mingguan, sehingga memungkinkan mereka tinggal di hunian ideal tanpa harus banyak berkompromi,” tutup Dian.
Temuan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pasar hunian generasi muda tidak semata-mata bergerak dari kepemilikan menuju penyewaan. Lebih dari itu, terjadi perubahan dalam cara konsumen menghitung biaya tempat tinggal.
Bagi Gen Z dan Milenial, hunian sewa harus memberikan kepastian pengeluaran sekaligus tetap memenuhi standar kenyamanan. Kondisi ini membuka peluang bagi model co-living untuk berkembang di tengah tingginya harga properti perkotaan, terutama jika mampu menawarkan lokasi strategis, biaya yang transparan, serta fasilitas yang sebanding dengan harga sewa.