INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kinerja positif ekspor industri kecil dan menengah (IKM) kerajinan. Pada triwulan II 2026, nilai ekspor industri kerajinan mencapai 223,1 juta dollar AS atau setara Rp 3,6 triliun, meningkat 28,59 persen secara tahunan dibandingkan periode sama 2025 sebesar 173,5 juta dollar AS.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan, kekayaan budaya dan kreativitas lokal menjadi modal besar IKM kriya untuk menembus pasar global.
“Industri fesyen dan kriya memiliki potensi besar untuk terus berkembang karena didukung kekayaan budaya, kreativitas, dan keragaman sumber daya lokal Indonesia. Pemerintah terus mendorong potensi tersebut agar dapat diterjemahkan menjadi produk bernilai tambah yang mampu diterima pasar nasional maupun internasional,” ujar Reni di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Komoditas ekspor tersebut antara lain barang anyaman dari rotan dan bambu, kerajinan ukiran kayu bukan mebel, alat dapur berbahan kayu, rotan, dan bambu, produk keramik, serta berbagai produk industri kerajinan lainnya.
Berdasarkan data Trade Map Januari-Juni 2026, Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor terbesar produk kerajinan Indonesia dengan pangsa 28 persen, disusul Taiwan, Tiongkok, Jepang, dan Belanda. Produk kerajinan Indonesia juga telah menjangkau Inggris, Jerman, Prancis, Australia, Spanyol, Malaysia, Korea Selatan, Belgia, Italia, dan India.
Salah satu upaya mendorong pasar dilakukan lewat Pameran Kerajinan Nusantara (Kriyanusa) 2026 yang digelar Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) pada 26-30 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC). Mengusung tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”, pameran diikuti 257 peserta dengan 410 stan.
Pada ajang tersebut, Ditjen IKMA memfasilitasi delapan IKM kerajinan binaan yang menampilkan produk fesyen, aksesori, kerajinan tangan, tenun, dan produk kriya lainnya. Selama lima hari, delapan IKM tersebut membukukan total transaksi Rp 313 juta.
“Melalui kegiatan ini, para perajin dan pelaku IKM memperoleh ruang untuk menampilkan karya terbaiknya, memperluas jejaring usaha, sekaligus memperkenalkan nilai budaya yang terkandung dalam setiap produk yang dihasilkan,” ungkap Reni.
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin Budi Setiawan menambahkan, konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan fungsi produk, tetapi juga desain, estetika, inovasi, dan kemasan ramah lingkungan.
“Konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan fungsi produk, tetapi juga memperhatikan desain, estetika, inovasi, dan kemasan yang ramah lingkungan. Karena itu, perajin harus terus kreatif dan mampu membaca tren pasar,” ujar Budi.
Ke depan, Kemenperin akan terus memperkuat sinergi dengan Dekranas, Dekranasda, pemda, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas untuk mengembangkan industri kerajinan nasional.
“Kolaborasi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya sekaligus mendorong lahirnya produk kerajinan yang semakin inovatif, berkualitas, bernilai tambah, dan mampu bersaing di pasar nasional maupun global,” pungkas Budi.