INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Ada yang datang untuk menerima santunan. Ada yang datang untuk bertemu teman-teman. Ada pula yang datang sekadar ingin kembali merasakan suasana kekeluargaan yang selama bertahun-tahun tumbuh di Yayasan Al Qohhar.
Minggu, 4 Oktober 2026, Masjid Al Qohhar, Sawangan, Depok, kembali dipenuhi anak-anak binaan Yayasan Al Qohhar. Sebanyak ratusan anak yatim dan yatim piatu mengikuti pertemuan rutin bulanan yang tidak hanya diisi dengan penyerahan santunan, tetapi juga tausiah, silaturahmi, hiburan dan berbagai aktivitas yang disiapkan untuk mereka.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pembina Yayasan Al Qohhar, Haji Robert bersama keluarga besarnya, Ketua Yayasan Al Qohhar Kartono Wirogogung, jajaran pengurus, tokoh masyarakat Depok serta sejumlah undangan.
Di hadapan anak-anak binaannya, Haji Robert berpesan agar mereka tidak melupakan dua hal sederhana yang menjadi bekal dalam menjalani kehidupan: berdzikir dan bersyukur kepada Allah SWT.
Bagi Haji Robert, keduanya bukan sekadar ucapan yang diulang dalam keseharian. Dzikir dan syukur merupakan bagian penting dari kehidupan seorang hamba karena di dalamnya terdapat harapan agar keberkahan senantiasa menyertai setiap langkah.
Pesan itu berjalan beriringan dengan komitmen yang selama ini dijalankan Haji Robert bersama Yayasan Al Qohhar. Perhatian kepada anak-anak yatim dan yatim piatu tidak berhenti pada pemberian santunan setiap bulan.
Ada pendidikan yang harus dipikirkan. Ada kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi. Ada kesehatan yang harus dijaga. Dan ketika seorang anak sakit, perhatian itu berubah menjadi upaya untuk mencari pengobatan terbaik.
Salah satu kisahnya datang dari Wildan, anak binaan yang mengalami gangguan penglihatan hingga hampir kehilangan kemampuan melihat. Wildan kemudian diberangkatkan untuk mendapatkan pengobatan di sebuah rumah sakit di Singapura. Setelah menjalani penanganan, penglihatannya berangsur membaik hingga akhirnya dapat kembali melihat.
Kisah lain datang dari seorang anak binaan yang menderita kanker darah dan sempat mengalami kelumpuhan. Setelah memperoleh penanganan medis, kondisinya berangsur membaik hingga kembali mampu berjalan.
Untuk memperkuat pendampingan kesehatan, Yayasan Al Qohhar juga menyiapkan dokter berpengalaman. Bahkan, Haji Robert memiliki rencana membangun rumah sakit agar kebutuhan kesehatan anak-anak binaan dapat ditangani dengan lebih cepat dan efisien.
Bukan Sekadar Memberi Santunan
Perjalanan Yayasan Al Qohhar bermula dari sebuah majelis ta'lim.
Setelah guru Haji Robert meninggal dunia, muncul amanat yang kemudian menjadi pijakan perjalanan panjangnya: mengurus anak yatim dan yatim piatu sekaligus memberikan perhatian kepada para lansia.
Amanat itu kemudian diwujudkan melalui pendirian Yayasan Al Qohhar yang secara resmi berdiri pada 9 Juli 2003.
Dua puluh tiga tahun kemudian, kegiatan yang awalnya sederhana tersebut berkembang menjadi program sosial dengan cakupan yang jauh lebih luas.
Ketua Yayasan Al Qohhar, Kartono Wirogogung, menegaskan bahwa sejak awal yayasan memang tidak pernah dimaksudkan hanya sebagai tempat pembagian santunan.
“Dari awal amanatnya memang untuk mengurus anak yatim dan yatim piatu. Jadi bukan hanya soal memberikan santunan. Anak-anak ini punya banyak kebutuhan. Pendidikan, kesehatan, makanan, tempat tinggal, semuanya harus diperhatikan," ujarnya.
Saat ini, Yayasan Al Qohhar mendampingi sekitar 865 anak yatim dan 387 anak yatim piatu.
Pendampingan diberikan dalam berbagai bentuk. Mulai dari bantuan pendidikan, beasiswa, kebutuhan sekolah, renovasi rumah, hingga pendampingan ketika anak menghadapi persoalan di lingkungan pendidikan.
Di bidang kesehatan, yayasan menyediakan kunjungan rutin psikolog dan tenaga medis, klinik dokter umum serta dokter gigi, hingga akses rumah sakit spesialis bagi anak-anak yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Sejumlah anak bahkan harus menghadapi penyakit serius, seperti jantung bocor, spina bifida, retinal detachment hingga leukemia.
Karena itu, bagi Yayasan Al Qohhar, angka santunan setiap bulan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan pembinaan.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan anak-anak tersebut tetap memiliki kesempatan untuk belajar, tumbuh sehat dan menatap masa depan.
Ketika Yayasan Menjadi Sosok Ayah
Bagi anak-anak binaan, perhatian tersebut memiliki arti yang jauh lebih personal.
Anaya Syakira Abimanyu, 12 tahun, siswi SMP Dharma Karya UT, Pamulang, telah menjadi anak binaan Yayasan Al Qohhar sejak 2024.
Sebagai anak yatim piatu, Anaya mengaku merasakan langsung perhatian yang diberikan yayasan. Baginya, Haji Robert bukan sekadar pembina yayasan.
“Saya sangat bersyukur menjadi anak asuh di bawah Yayasan Al Qohhar, Ayah Robert sangat baik dan benar-benar menjadi sosok ayah bagi kami.”
Perhatian yang diterimanya juga tidak sebatas santunan. Untuk menunjang pendidikan, Anaya memperoleh fasilitas seperti laptop, handphone hingga les bahasa Inggris.
“Ayah Robert banyak mengajarkan kami hal-hal positif, ia selalu memberikan support untuk kami dalam segala hal, untuk kehidupan sehari-hari, kebutuhan pendukung seperti HP, laptop, sepeda listrik, kasur, bahkan memberikan saya fasilitas les bahasa Inggris di EF.”
Anaya berharap perhatian tersebut terus berlanjut sehingga anak-anak binaan memiliki kesempatan lebih besar untuk meraih cita-cita.
“Saya merasa beruntung menjadi anak asuh Yayasan Al Qohhar, saya berharap Yayasan Al Qohhar selalu ada untuk kami, dan Ayah Robert selalu dalam lindungan Allah dan selalu diberikan kesehatan.”
Perasaan serupa dirasakan Zahra, 16 tahun, siswi SMA Negeri 10 Kota Depok. Ia telah menjadi anak binaan sejak duduk di bangku SMP.
Selama menjadi binaan, Zahra menerima santunan bulanan yang membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya. Ia juga memperoleh fasilitas berupa motor dan handphone setelah mengajukan kebutuhannya kepada yayasan.
Bagi Zahra, bantuan tersebut membuat kebutuhan sekolah dan keseharian menjadi lebih ringan.
Sementara itu, Mitsuhana Kazuko Minakoshi, siswi SMA Alhasra, telah menjadi anak binaan sejak 2022.
Sebagai anak yatim, santunan bulanan yang diterimanya membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama sang ibu. Dukungan juga diberikan dalam bentuk kebutuhan sekolah dan kendaraan untuk menunjang aktivitas pendidikan.
Kini, Mitsuhana tengah mengajukan bantuan laptop untuk mendukung kegiatan belajarnya.
Namun, yang membuat pertemuan bulanan Yayasan Al Qohhar selalu dinantikan bukan hanya santunan yang diterima.
Ada tausiah. Ada pertemuan dengan teman-teman. Ada kesempatan untuk berkumpul dan mendapatkan dorongan spiritual.
Bagi Mitsuhana, semua itu membuatnya lebih percaya diri dalam menjalani pendidikan.
Ia pun menyimpan cita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, termasuk berharap dapat menempuh kuliah di IPB dengan dukungan Yayasan Al Qohhar.
Membekali Anak agar Mandiri
Yayasan Al Qohhar juga berusaha memastikan anak-anak binaannya tidak selamanya berada dalam posisi sebagai penerima bantuan.
Mereka diarahkan untuk berkembang sesuai potensi dan memiliki bekal yang cukup untuk menjalani kehidupan secara mandiri.
Untuk itu, yayasan bekerja sama dengan Universitas Binawan serta lembaga pelatihan kerja (LPK) di Lampung guna membuka peluang pendidikan dan pengembangan keterampilan bagi anak-anak binaan.
Prestasi akademik maupun nonakademik juga dipantau. Anak yang menunjukkan perkembangan dan prestasi dapat memperoleh dukungan lebih lanjut sesuai kebutuhannya.
Program pembinaan turut mencakup les Bahasa Inggris, jujutsu, renang dan berbagai fasilitas belajar lainnya.
Bantuan pun diberikan berdasarkan kondisi masing-masing anak. Kebutuhan seperti laptop, handphone hingga kendaraan dapat diajukan dan dipertimbangkan sesuai kebutuhan.
Kartono mengatakan pola tersebut merupakan bagian dari upaya yayasan agar bantuan tidak berhenti sebagai santunan, tetapi berkembang menjadi pendampingan.
“Pak Haji ingin anak-anak ini mendapatkan apa yang memang mereka butuhkan. Jadi bukan sekadar datang memberikan santunan lalu selesai. Kalau ada yang sekolah, kita pikirkan sekolahnya. Kalau ada yang sakit, kita pikirkan pengobatannya. Kebutuhan sehari-hari juga diperhatikan.”
Selama bertahun-tahun, kedekatan antara Haji Robert dan anak-anak binaan pun tumbuh menjadi hubungan kekeluargaan.
“Anak-anak juga sudah menganggap Pak Haji sebagai orang tua. Jadi hubungan yang terbentuk selama bertahun-tahun ini bukan hanya hubungan antara yayasan dan penerima bantuan, tetapi sudah seperti keluarga.”
Meneruskan Amanat Sang Guru
Memasuki usia ke-23 tahun, Yayasan Al Qohhar berusaha menjaga semangat yang menjadi dasar kelahirannya.
Dari sebuah majelis ta'lim, yayasan berkembang menjadi lembaga yang menjalankan berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan dan keagamaan.
Perhatian kepada lansia juga tetap berjalan melalui program pemberian sembako secara rutin. Namun, anak yatim dan yatim piatu tetap menjadi salah satu fokus utama.
Pada akhirnya, bagi anak-anak yang kehilangan orang tua, pendampingan tidak selalu dapat diukur dari berapa rupiah yang diterima setiap bulan.
Ada biaya sekolah yang dibantu. Ada kebutuhan sehari-hari yang dipenuhi. Ada pengobatan ketika mereka sakit. Ada fasilitas belajar ketika mereka membutuhkan. Dan ada seseorang yang hadir ketika mereka membutuhkan nasihat.
Di situlah makna pendampingan menemukan bentuknya.
Selama 23 tahun, Yayasan Al Qohhar berusaha membangun lebih dari sekadar tempat menerima santunan. Ia menjadi ruang untuk tumbuh, belajar, mendapatkan perhatian dan menyiapkan masa depan.
Bagi Haji Robert, meneruskan amanat sang guru berarti memastikan anak-anak yatim dan yatim piatu tidak berjalan sendirian.
Ada kasih sayang yang harus dijaga. Ada pendidikan yang harus diperjuangkan. Ada kesehatan yang harus diperhatikan. Dan yang tak kalah penting, ada kesempatan yang harus diberikan agar mereka kelak mampu berdiri di atas kaki sendiri.