INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Kementerian Perindustrian terus memperkuat ekosistem industri berbasis bambu nasional, terutama dari sisi hulu untuk menjamin ketersediaan bahan baku berkualitas dan berkelanjutan.
Upaya itu diwujudkan lewat penyelenggaraan Akademi Komunitas Bambu (AKB) Tahun Anggaran 2026 di Balai Diklat Industri Denpasar, Bali.
Industri bambu memiliki prospek ekonomi besar seiring meningkatnya kebutuhan material berkelanjutan. Pasar produk berbasis bambu dunia diproyeksikan naik dari 74 miliar dollar AS pada 2024 menjadi 118,3 miliar dollar AS pada 2034, dengan pertumbuhan tahunan 4,8 persen pada 2025-2034. Asia-Pasifik menjadi pasar terbesar dengan nilai 41,5 miliar dollar AS atau pangsa 56,2 persen.
"Potensi pasar global menjadi peluang yang perlu kita manfaatkan untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai pasok industri bambu dunia. Indonesia memiliki sumber daya bambu yang melimpah sehingga perlu diperkuat dengan rantai pasok terintegrasi dari hulu hingga hilir," kata Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika dalam keterangannya, Kamis (1/10/2026).
Penggunaan produk bambu global mencakup furnitur 28 persen, scaffolding 17 persen, engineered bamboo 16 persen, pulp dan kertas 13 persen, charcoal and activated carbon 10 persen, kerajinan 6 persen, tekstil 6 persen, dan lainnya 4 persen.
Di tengah potensi itu, ekspor bambu global masih didominasi China dengan pangsa 74,8 persen, disusul Vietnam 3,2 persen. Indonesia berada di posisi 12 besar dunia dengan pangsa 0,9 persen.
Kondisi itu menunjukkan ruang luas bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing. Penguatan tidak hanya pada industri pengolahan, tetapi juga sisi hulu untuk menjamin bahan baku memenuhi kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan standardisasi.
Momentum program strategis nasional pembangunan 3 juta rumah per tahun juga membuka peluang pemanfaatan bambu. Salah satunya lewat Cement-Bamboo Frame Technology (CBFT) yang prospektif untuk hunian tipe 36 dalam program rumah sederhana atau FLPP Kementerian Perumahan, serta sinergi dengan program konstruksi modular di bawah Kemenko Infrastruktur.
"Teknologi CBFT karakteristiknya ringan, dapat dirakit tanpa alat berat, dan berbasis bahan baku lokal. Pemanfaatannya juga berpeluang memperkuat TKDN dalam ekosistem konstruksi modular nasional," ungkap Putu.
Namun, pengembangan teknologi perlu ditopang ekosistem penyediaan bahan baku berkelanjutan. Tantangannya adalah terbatasnya kelembagaan penyedia bambu berkualitas dan terstandardisasi.
Untuk menjawab tantangan itu, penyelenggaraan AKB 2026 diarahkan menghasilkan SDM industri kompeten sekaligus memperkuat penjaminan mutu.
"Bambu merupakan komoditas strategis yang tumbuh melimpah di Nusantara. Potensi akan optimal apabila didukung SDM andal dalam mengelola rantai pasok. Melalui Training of Trainers AKB, kami mempersiapkan SDM yang mampu mengelola pusat logistik bambu guna memenuhi kebutuhan bahan baku siap pakai yang berkualitas," ujarnya.
Pelaksanaan AKB 2026 telah melalui evaluasi dengan fokus lebih besar pada penguatan hulu. Peserta direkomendasikan oleh offtaker, sehingga mereka merupakan pemasok atau penggiat bambu di sisi hulu yang memiliki akses dan kemampuan memperbaiki tata kelola pusat logistik.
Pelaksanaan tahun ini melanjutkan capaian AKB 2025. Hasilnya antara lain kerja sama pemenuhan bahan baku bambu cendani antara peserta dari Purworejo dan pengusaha di Bandung, pemetaan dan penanaman bambu di Jawa Barat dan Jawa Tengah, pembibitan 200 bibit di Banyuwangi, penanaman 100 batang di Mojokerto, serta pelatihan pengawetan dan pembuatan bambu laminasi di Tasikmalaya.
Program ini diarahkan mencetak Master Bambu yang memiliki kompetensi teknis dan manajerial untuk mendukung pembentukan Pusat Logistik Industri Bambu di sentra Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.
Pusat logistik diharapkan menjadi simpul rantai pasok nasional dengan fungsi pengumpulan, pengolahan, pengawetan, hingga distribusi bahan baku terstandar, awet, tersertifikasi, dan siap pakai untuk industri dalam negeri maupun ekspor.
"Melalui ToT ini, peserta dapat melihat langsung aplikasi teknologi CBFT sebagai alternatif konstruksi yang tangguh. Sinergi dan transfer pengetahuan diharapkan menjadi katalisator untuk mengakselerasi industri perbambuan dalam negeri," pungkas Putu.