INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Pergerakan mayoritas mata uang utama pada perdagangan Kamis (23/7/2026) dipengaruhi kombinasi data ekonomi, ekspektasi kebijakan bank sentral, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Dolar Australia (AUD) menjadi salah satu mata uang dengan penguatan paling menonjol setelah pasar merespons positif data ketenagakerjaan yang jauh lebih baik dari perkiraan.
Pasangan AUD/USD menguat ke kisaran 0,7018 pada sesi Asia. Penguatan tersebut ditopang oleh ketahanan pasar tenaga kerja Australia. Tingkat pengangguran Juni tercatat tetap di level 4,4%, sesuai ekspektasi pasar dan tidak berubah dari bulan sebelumnya.
Yang lebih mencuri perhatian adalah pertumbuhan jumlah tenaga kerja yang mencapai 76,3 ribu pada Juni. Angka ini jauh melampaui kenaikan 44 ribu pada Mei maupun proyeksi pasar sebesar 15 ribu.
"Data tersebut mencerminkan ketahanan pasar tenaga kerja Australia di tengah ketidakpastian ekonomi global dan memberikan sentimen positif terhadap mata uang Australia." tulis Data Ekonomi Harian ICDX.
Kinerja pasar tenaga kerja yang solid juga memperkuat ekspektasi bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) akan mempertahankan kebijakan moneter yang relatif ketat sehingga ruang penurunan suku bunga dinilai semakin terbatas.
Meski demikian, penguatan AUD masih berpotensi tertahan oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Secara teknikal, AUD/USD memiliki support di 0,6975 dan resistance di 0,7050.
Di sisi lain, EUR/USD naik ke kisaran 1,1419 dan mencatat kenaikan selama dua hari berturut-turut. Penguatan euro didorong optimisme menjelang keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB). Pasar memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga fasilitas deposito di level 2,25%, sementara perhatian investor tertuju pada pernyataan Presiden ECB Christine Lagarde mengenai arah kebijakan berikutnya.
Dolar AS berada di bawah tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi, di tengah sinyal perlambatan ekonomi Amerika Serikat.
Meski demikian, permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai akibat memanasnya konflik di Timur Tengah diperkirakan tetap membatasi kenaikan EUR/USD. Support berada di 1,1385 dan resistance di 1,1455.
Pound sterling juga menguat dengan GBP/USD naik ke kisaran 1,3385. Penguatan terjadi meskipun inflasi Inggris melambat. Inflasi tahunan turun menjadi 2,6% pada Juni dari 2,8% pada Mei, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 2,7%, sedangkan inflasi inti bertahan di 2,6%.
Pelaku pasar kini menantikan data penjualan ritel Inggris sebagai petunjuk kondisi ekonomi. Namun, potensi penguatan pound masih dibatasi meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman, sementara pasar memperkirakan Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga di level 3,75%. Support GBP/USD berada di 1,3330 dan resistance di 1,3435.
Sementara itu, NZD/USD menguat ke kisaran 0,5820 setelah inflasi Selandia Baru pada kuartal II tercatat melampaui ekspektasi. Kondisi tersebut meningkatkan keyakinan bahwa Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) berpeluang kembali menaikkan suku bunga.
Namun, penguatan dolar Selandia Baru diperkirakan tetap terbatas karena kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah berpotensi meningkatkan biaya energi bagi Selandia Baru yang masih bergantung pada impor minyak. Support NZD/USD berada di 0,5785 dan resistance di 0,5855.
Berbeda dengan mata uang lainnya, USD/JPY justru melemah ke kisaran 163,07. Pelemahan terjadi setelah Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menegaskan pemerintah siap mengambil langkah di pasar valuta asing apabila diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar yen.
Pernyataan tersebut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan intervensi pemerintah apabila pelemahan yen berlanjut.
Meski demikian, pelemahan USD/JPY diperkirakan terbatas karena prospek kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih ketat tetap menopang dolar AS. Support pasangan ini berada di 162,60 dan resistance di 163,60.
Di pasar lainnya, USD/CHF turun ke 0,8138 karena franc Swiss kembali diburu sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Namun, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS diperkirakan masih menopang dolar sehingga tekanan terhadap USD/CHF diperkirakan terbatas. Support berada di 0,8115 dan resistance di 0,8165.
Adapun USD/CAD melemah ke kisaran 1,4073 seiring penguatan dolar Kanada yang didukung lonjakan harga minyak mentah. Kekhawatiran terganggunya pasokan minyak global akibat konflik Timur Tengah mendorong harga minyak ke level tertinggi sejak 11 Juni.
Meski demikian, pelemahan USDCAD diperkirakan tidak akan berlangsung terlalu dalam. Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve serta kebijakan tarif 50% yang diberlakukan Presiden Donald Trump terhadap produk asal Kanada dinilai masih dapat membatasi penguatan dolar Kanada. Pelaku pasar kini menantikan data penjualan ritel Kanada dan klaim pengangguran mingguan Amerika Serikat sebagai penentu arah pergerakan berikutnya. Support USDCAD berada di 1,4030 dan resistance di 1,4115.