INDUSTRY.co.id - Jakarta- Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyerahkan Rencana Anggaran Tahunan BI (RATBI) 2018 kepada pemimpin legislatif di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin(28/8/2017)

"Perencanaan 2018 sudah kami suguhkan dalam dokumen, kami harapkan nanti kalau anggaran ini bisa dibahas dan disetujui akan membuat BI bekerja dengan baik untuk menjalankan fungsi moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, dan peredaran uang rupiah," kata Agus

Dalam RATBI 2018, Agus mengatakan bahwa dari sisi penerimaan diperkirakan meningkat, sedangkan dari sisi pengeluaran diperkirakan lebih rendah dari prognosa 2017.

Ia juga memperkirakan terdapat surplus operasional sebesar Rp16 triliun dalam RATBI 2018.

"Yang kami jalankan adalah mandat, dan mandat dari BI adalah untuk menstabilkan nilai rupiah yang tercermin dari inflasi dan nilai tukar terhadap mata uang asing," kata Agus.

Mantan Menteri Keuangan tersebut juga sempat berbincang dengan Ketua DPR RI Setya Novanto. Dalam kesempatan audiensi tersebut, Agus melaporkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia dalam keadaan baik.

"Pertumbuhan ekonomi 5,01 persen di kuartal II-2017, kelihatannya sama dengan kuartal-I 2017 tetapi kalau dibandingkan dengan negara 'peers' kita, prestasi 5,01 persen itu baik," ucap dia.

Kemudian, Agus juga menyampaikan bahwa nilai tukar rupiah 2017 juga menunjukkan apresiasi terhadap dolar AS.

"Kinerja rupiah nomor dua terbaik di Asia Pasifik. Dan kami juga menceritakan tentang cadangan devisa, di 2017 ini yang tertinggi mencapai 127,8 miliar dolar AS," kata Agus.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan mengapresiasi tradisi baru dari BI yang menyampaikan secara langsung anggaran tahunan secara rutin.

Ia menilai anggaran tahunan dari BI tersebut dapat menjadi data persandingan untuk pembahasan di Komisi XI dan Badan Anggaran mengenai prospek laju pertumbuhan ekonomi di 2018.

"Sehingga persandingan data ini semakin mempertajam dalam kaitan dengan Komisi XI memberikan akurasi data yang semakin lebih riil manakala itu ditetapkan asumsi-asumsi makroekonomi," kata Taufik.(Ant)