INDUSTRY.co.id - Jakarta, Dalam riuh peringatan Hari Pendidikan Nasional, Bank Mandiri memilih berbicara lewat langkah yang lebih senyap namun berdampak panjang. Ia tidak sekadar hadir sebagai lembaga keuangan, melainkan sebagai penggerak awal—yang membuka bukan hanya rekening, tetapi kemungkinan.
Melalui Tabungan Simpel, benih-benih kebiasaan ditanam. Dari satu rekening pertama, tumbuh disiplin, terbentuk karakter, dan perlahan terbangun cara pandang terhadap masa depan. Apa yang tampak sederhana itu diam-diam menjalar: menyentuh keluarga, bahkan melintasi generasi.
Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista mengatakan, pendekatan ini mencerminkan komitmen Bank Mandiri dalam menghadirkan Sinergi Membangun Negeri. Tidak berdiri sendiri, Tabungan Simpel terhubung dengan program literasi keuangan yang aplikatif, jaringan sekolah mitra di berbagai wilayah Indonesia, serta pendekatan berbasis riset yang memastikan setiap inisiatif berjalan relevan, terukur, dan berkelanjutan.
“Bank Mandiri meyakini bahwa literasi dan inklusi keuangan sejak dini merupakan fondasi penting dalam membentuk generasi yang adaptif dan berdaya saing, sehingga melalui Tabungan Simpel perseroan tidak hanya memperluas akses layanan keuangan bagi pelajar, tetapi juga menanamkan pola pikir finansial secara berkelanjutan sejak dini,” ujar Adhika, dalam siaran pers, Senin (4/5/2026).
Angka-angka pun berbicara. Hingga akhir 2025, hampir satu juta rekening telah terbuka, 928 ribu tepatnya—dengan pertumbuhan yang konsisten dari tahun ke tahun. Memasuki 2026, angka itu mendekati satu juta, seolah menandai bahwa kesadaran menabung bukan lagi wacana, melainkan kebiasaan yang mulai mengakar.
Di balik statistik tersebut, tersimpan cerita yang lebih dalam. Mayoritas pelajar tingkat SMA mendominasi, sebuah fase krusial ketika arah hidup mulai dibentuk. Sementara itu, Jawa Timur muncul sebagai wilayah dengan kontribusi terbesar, memperlihatkan bahwa dampak program ini tidak berhenti di pusat, tetapi menjalar luas ke berbagai daerah.
Apa yang dilakukan Bank Mandiri sejatinya selaras dengan temuan global. Penelitian William Elliott menunjukkan bahwa kepemilikan rekening sejak dini membuka peluang lebih besar bagi anak untuk melanjutkan dan menuntaskan pendidikan tinggi. Menariknya, bukan besar kecilnya saldo yang menentukan, melainkan keberadaan rekening itu sendiri—sebagai simbol dan pemicu orientasi masa depan.
Gagasan ini mengingatkan pada Teori Aset Sherraden (1991): bahwa kepemilikan aset bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal cara seseorang memandang dirinya dan masa depannya.
Sejalan dengan itu, Adhika menegaskan, bahwa akses dan literasi harus berjalan beriringan. “Bank Mandiri percaya bahwa literasi keuangan harus hadir bersama akses nyata. Melalui Mandiri Simpel, kami tidak hanya membuka rekening, kami membangun orientasi masa depan generasi penerus bangsa,” ujarnya.
Langkah ini tidak berhenti pada produk. Edukasi diperluas ke kampus-kampus, menjangkau ribuan mahasiswa. Program “Mandirian Mengajar” tumbuh menjadi gerakan yang menyentuh hampir 10 ribu peserta, dengan peningkatan pemahaman yang terukur—sebuah bukti bahwa edukasi yang konsisten mampu mengubah cara pikir.
Di sisi lain, dukungan nyata hadir dalam bentuk yang lebih kasatmata: renovasi puluhan sekolah, penyediaan fasilitas belajar, hingga hadirnya pojok baca. Semua itu melengkapi ekosistem—bahwa belajar tidak hanya butuh niat, tetapi juga ruang yang layak.
Komitmen tersebut juga menjangkau akses pendidikan melalui beasiswa dan distribusi perlengkapan sekolah. Puluhan ribu tas telah disalurkan, termasuk bagi wilayah terdampak bencana, seakan menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh terhenti oleh keadaan.
Semua inisiatif ini saling terhubung—produk, edukasi, hingga kolaborasi membentuk sebuah kerangka yang utuh. Sebab inklusi keuangan, bagi Bank Mandiri, bukan sekadar membuka akses, tetapi juga membangun kesiapan menghadapi masa depan.
Pada akhirnya, yang dibangun bukan hanya layanan, melainkan fondasi. Sebuah keyakinan bahwa setiap rekening pertama adalah awal dari perjalanan panjang—menuju masa depan yang lebih terarah, lebih mandiri, dan lebih berkelanjutan.