INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Upaya memperluas literasi dan inklusi keuangan nasional kembali mendapatkan dorongan signifikan melalui gelaran Road to Pekan Reksa Dana 2026 yang diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan pelaku industri pasar modal. Program yang digelar di sejumlah kota besar seperti Surabaya, Semarang, Bandung, Medan, hingga Makassar ini dinilai menjadi momentum penting untuk mempercepat penetrasi investasi reksa dana di tengah masyarakat.

Advertisement

Di tengah masih rendahnya tingkat literasi investasi, regulator dan industri kini bergerak lebih agresif membangun pemahaman publik mengenai instrumen yang dinilai aman, mudah diakses, serta relevan untuk perencanaan keuangan jangka panjang. Kampanye seperti #ReksaDanaAja dan PINTAR Reksa Dana menjadi bagian dari strategi untuk menyederhanakan edukasi kepada masyarakat luas.

Sejalan dengan langkah tersebut, platform investasi digital Bibit.id menegaskan posisinya sebagai salah satu motor pertumbuhan investor ritel melalui program Systematic Investment Plan (SIP) atau Nabung Rutin. Strategi ini menekankan investasi berkala dengan nominal tetap, sehingga masyarakat tidak perlu menunggu modal besar untuk mulai membangun aset.

Advertisement

Head of PR & Corporate Communication Bibit.id, William, mengatakan bahwa gerakan yang selama ini diusung perusahaan kini telah berkembang menjadi agenda bersama regulator dan industri.

“Kami senang sekali menyaksikan gerakan yang Bibit dorong sejak lama kini menjadi agenda bersama regulator dan para pelaku industri. Terima kasih kepada OJK, BEI, teman-teman di industri, dan rekan-rekan media. Bersama kita perkuat industri reksa dana dan membantu masyarakat Indonesia membangun masa depan keuangan yang lebih baik,” ujarnya.

Advertisement

Langkah kolaboratif ini dipandang bukan sekadar kampanye jangka pendek, melainkan fondasi untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola keuangan. Fokus utamanya adalah membentuk kebiasaan investasi yang disiplin, terencana, dan sesuai profil risiko.

SIP sendiri merupakan strategi yang menggabungkan prinsip the power of compounding dan dollar cost averaging, di mana investor menyetorkan dana dalam jumlah yang sama secara rutin dalam periode tertentu. Model ini dinilai cocok bagi masyarakat yang memiliki tujuan keuangan jangka panjang, seperti membeli rumah, dana pendidikan, atau persiapan pensiun.

Advertisement

Praktisi perencana investasi sekaligus Ketua Digital Financial Center (DFC) Universitas Indonesia, Dede Suryanto, menilai paradigma masyarakat terhadap aktivitas menabung telah mengalami perubahan mendasar.

“Dulu kita mengartikan menabung adalah investasi yaitu menyisihkan uang secara rutin dan menyimpannya di rekening tabungan atau deposito sebuah bank. Namun dewasa ini fungsi menabung telah bergeser dari sekadar menyimpan uang, yang mana nilai uang kita lama-lama berkurang karena tergerus biaya administrasi, pajak dan tentu saja inflasi, kini beralih dengan menyimpannya dalam bentuk instrumen investasi yang relatif aman dan lebih menguntungkan, misalnya reksa dana,” kata Dede.

Menurutnya, disiplin berinvestasi menjadi faktor utama dalam mencapai target keuangan.

“Systematic Investment Plan pada dasarnya adalah menyisihkan dana secara rutin dalam jangka waktu tertentu, berkomitmen mewujudkan tujuan keuangan, dan di saat yang sama menahan godaan untuk menjual reksa dana sebelum goals kita tercapai,” jelasnya.

Dede menambahkan, esensi SIP bukan mendorong investasi dalam nominal besar, melainkan konsistensi dan diversifikasi portofolio agar risiko dapat dikelola dengan lebih baik.

“SIP merupakan strategi investasi yang aman, terbukti menguntungkan, dan merupakan alternatif investasi untuk jangka panjang,” imbuhnya.

Optimisme terhadap strategi ini juga berkaca pada pengalaman India. Setelah kampanye “Mutual Fund Sahi Hai” diluncurkan pada 2017, industri reksa dana di negara tersebut mencatat pertumbuhan pesat. Rata-rata dana kelolaan (Average Assets Under Management/AAUM) melonjak 33% pada periode Februari 2017 hingga Maret 2019, lalu meningkat dua kali lipat sepanjang akhir 2019 hingga 2023.

Bibit melihat kisah sukses tersebut sebagai referensi kuat bagi pasar Indonesia yang kini tengah mengalami akselerasi jumlah investor.

William mengungkapkan, data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan lonjakan yang sangat signifikan.

“Berkaca dari kisah sukses di India, tentu saja kami optimis kita bersama dapat mencapai kesuksesan yang sama di Indonesia. Terlebih, data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia menunjukkan hal yang menggembirakan: di akhir tahun 2022, jumlah investor reksa dana mencapai 9,6 juta investor, sementara di akhir Januari 2026 angkanya telah naik dua kali lipat lebih mencapai 19,84 juta investor,” tutupnya.

Lonjakan basis investor tersebut menjadi sinyal bahwa digitalisasi layanan investasi, dukungan regulator, dan edukasi masif mulai membuahkan hasil. Ke depan, sinergi antara regulator, industri, dan platform fintech seperti Bibit diproyeksikan menjadi penopang utama pertumbuhan pasar reksa dana nasional sekaligus memperdalam inklusi keuangan Indonesia.