INDUSTRY.co.id - Jakarta – Kompetisi inovasi anak muda terbesar di dunia, L’Oréal Brandstorm, kembali hadir di Indonesia untuk ke-18 kalinya dengan mengusung tema Craft the Future of Luxury Fragrance. Program ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sebagai platform pengembangan talenta muda dalam membangun pola pikir inovatif dan kesiapan karier di industri kecantikan masa depan.
“Sebagai perusahaan kecantikan terbesar di dunia, L’Oréal terus berkomitmen memperkuat industri dan talenta kecantikan masa depan melalui inovasi berkelanjutan. Agar tetap relevan di tengah cepatnya perubahan industri, kami menyadari peran penting inovasi tidak hanya dalam pengembangan produk tetapi juga cara kami menarik dan membimbing talenta muda yang inovatif,” ujar President Director L’Oréal Indonesia, Benjamin Rachow.
Tema Craft the Future of Luxury Fragrance dipilih karena kategori wewangian merupakan salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat di industri kecantikan, dengan nilai pasar mencapai sekitar Rp4 triliun di Indonesia pada 2025.
General Manager L’Oréal Luxe Division Indonesia, Maria Adina, menjelaskan bahwa fragrance kini telah berkembang menjadi bagian dari ekspresi diri dan pengalaman emosional yang semakin personal, berbasis teknologi, dan berkelanjutan.
“Fragrance saat ini tidak lagi sekadar produk, tetapi menjadi pengalaman yang terpersonalisasi. Sebagai pemimpin dalam kategori luxury fragrance secara global, kami ingin mendorong generasi muda untuk menciptakan transformasi masa depan industri ini,” jelasnya.
Partisipasi Peserta Meningkat Signifikan
Antusiasme generasi muda dalam kompetisi Brandstorm tahun ini meningkat pesat. Tercatat sebanyak 11.489 pendaftar dan 7.611 peserta aktif dari seluruh wilayah Indonesia, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya (6.358 pendaftar).
Chief Human Resource Officer L’Oréal Indonesia, Victoria Aswien, menyampaikan bahwa Brandstorm dirancang untuk menantang peserta dalam menciptakan solusi inovatif berbasis kreativitas, teknologi, dan pemahaman konsumen.
“Peserta didorong untuk merancang pengalaman fragrance yang relevan dengan masa depan industri. Top 10 finalis juga mendapatkan mentoring langsung dari para leaders L’Oréal Luxe Division sebelum mempresentasikan ide mereka di hadapan dewan juri,” jelasnya.
Setelah melalui proses seleksi ketat, Tim Moneyfesteam dari Institut Teknologi Bandung berhasil menjadi pemenang nasional melalui inovasi “Azzaro Quintessence”, sebuah konsep teknologi inovasi yang mendefinisikan ulang signature scent melalui ekosistem fragrance yang smart dan personalized.
Tim Moneyfesteam akan mewakili Indonesia pada final global di Paris pada Juni 2026 dan bersaing dengan pemenang dari 63 negara lainnya.

“Kami sangat berterima kasih kepada L’Oréal dan Brandstorm yang sudah memberikan kesempatan bagi kami sebagaimahasiswa untuk belajar, bereksperimen, dan mengembangkan ide yang berdampak. Melalui Azzaro Quintessence, kami ingin menunjukkan bahwa fragrance bisa menjadi lebih dari sekadar produk, tapi sebuah pengalaman yang smart, practical, dan personalized, sesuai berbagai momen dalam keseharian. Konsep ini juga mendorong kami untuk berpikir lebih inklusif dan berkelanjutan dalam menciptakan inovasi,” ujar Tim Moneyfesteam.
Selama 17 tahun terakhir, Indonesia telah meraih berbagai pengakuan di kompetisi Brandstorm global, seperti Top 3 Global Winner (2011), Best Digital Prize (2014), International Winner (2019 dan 2022), serta Global Finalist (2024). Program ini menjadi salah satu jalur utama pengembangan talenta muda L’Oréal Indonesia. Sekitar 25% karyawan muda dalam lima tahun terakhir berasal dari Brandstorm, bahkan pada satu periode mencapai 33,3%.
“Kami mempertimbangkan peserta terbaik ke dalam talent pool dan membuka peluang untuk program internship maupun Management Trainee di L’Oréal Indonesia,” ujar Victoria.
Inovasi Luxury Fragrance: Seni, Teknologi, dan Keberlanjutan
L’Oréal Luxe Division merupakan salah satu pemimpin dalam industri luxury beauty dengan 27 merek global dan #1 di kategori luxury fragrance dunia dengan berbagai produk ikonik seperti YSL Libre dan Le Vestiaire des Parfums, Lancome Idole dan La Vie Est Belle, hingga Armani Acqua di Gio dan Si.
“Bagi kami, menciptakan wewangian yang ikonik adalah gabungan antara art (seni) dan science (sains), dimana kami memiliki keahlian selama lebih dari 60 tahun di luxury fragrance dan didukung oleh lebih dari 100 ahli olfaktif serta kolaborasi dengan perfumer kelas dunia. Untuk menghadirkan sebuah produk ikonik, tidak cukup hanya sekedar mencampur scent, seluruh produk kami telah melalui proses panjang untuk memastikan kualitas dan keamanan produk,” ujar Adina.
Inovasi teknologi juga menjadi bagian penting, salah satunya melalui teknologi Osmobloom™ yang mampu menangkap aroma bunga yang sulit diekstraksi secara tradisional, serta YSL Beauty Scent-Sation yang menggunakan teknologi EEG (elektroensefalografi) untuk merekomendasikan fragrance berdasarkan emosi konsumen.
Komitmen terhadap sustainability juga diwujudkan melalui kemasan refillable yang kini mencakup hampir seluruh fragrance best-seller, serta praktik sourcing bahan baku yang lebih bertanggung jawab, termasuk pemanfaatan bahan baku dari Indonesia dalam rantai pasok global.
Perkembangan industri fragrance juga diikuti perubahan perilaku konsumen yang semakin sophisticated. Konsumen kini memilih parfum berdasarkan karakter seperti longevity, projection, dan sillage, hingga menyesuaikan fragrance dengan berbagai momen seperti konser, hangout, pernikahan, atau liburan.
“One perfume does not suit all. Fragrance kini menjadi ekspresi personal yang menyesuaikan dengan aktivitas dan emosi pengguna,” tutup Adina.