INDUSTRY.co.id, Jakarta – Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran kini jadi momok besar bagi stabilitas ekonomi Indonesia, khususnya APBN.
Pengamat ekonomi Universitas Trisakti, Willy Arafah, menilai ketegangan ini tekan ekonomi RI lewat berbagai saluran. "Konflik AS-Israel-Iran picu lonjakan harga minyak dunia, ancam APBN karena subsidi energi membengkak dan risiko kenaikan BBM domestik," ujar Guru Besar Fakultas Manajemen USAKTI ini kepada wartawan, Rabu (4/3/2026).
Pelemahan Rupiah dan Inflasi MengintaiKetidakpastian geopolitik dorong investor tarik modal ke aset aman, melemahkan Rupiah dan paksa Bank Indonesia pertahankan suku bunga tinggi.
"Dampaknya kumulatif: biaya logistik global naik, impor mahal, bunga kredit tinggi—semua picu inflasi, gerus daya beli masyarakat, dan perlambat pertumbuhan ekonomi," tambah Willy.
Durasi dampak tergantung eskalasi. Jika perang terbuka atau Selat Hormuz tutup, pemulihan rantai pasok energi butuh waktu lama. "Meski konflik reda, ada time lag untuk turunkan inflasi dan suku bunga," jelasnya.
Sebaliknya, konflik sporadis yang diredam diplomasi hanya efek jangka pendek.Iran Kunci Harga BBM Global
"Iran produsen minyak besar dan penguasa Selat Hormuz—jalur vital energi dunia," tegas Willy.
Indonesia sebagai importir minyak bersih langsung kena: harga minyak melonjak akibat kekhawatiran pasokan, bengkak biaya BBM, dan APBN tertekan subsidi lebih besar.
Pemerintah bisa terpaksa naikkan harga BBM jika fiskal ketat.Solusi Jangka Panjang untuk Ketahanan RI.
Willy sarankan reformasi struktural: percepat kemandirian energi via terbarukan dan bio燃料, kurangi impor minyak. Perkuat moneter dengan perdagangan pakai Rupiah, dalami pasar keuangan domestik anti pelarian modal.
"Plus, hilirisasi industri dan kemandirian pangan bangun rantai pasok tangguh. Ekonomi RI tetap kuat walau gejolak global dan logistik mahal," pungkasnya.