INDUSTRY.co.id - Jakarta - Perjalanan ke luar negeri kerap menghadirkan tantangan tak terduga, mulai dari kendala bahasa hingga urusan makanan halal. Hal inilah yang dirasakan para penulis Diamond KBM App saat mengikuti perjalanan inspiratif ke Korea Selatan bersama Isa Alamsyah dan Asma Nadia.
Namun, tantangan itu terasa jauh lebih ringan berkat kehadiran Artificial Intelligence (AI) yang kini menjadi “teman seperjalanan” paling setia.
Deretan penulis Diamond KBM App—Bunga BTP, Dwi Indrawati, Majarani, Ka_Umay, Yazmin_Aisyah, FebriYthi, Julli_Nobasa, dan Lebah Ratih—mengaku AI memberi pengalaman baru dalam berwisata.
Teknologi tak lagi sekadar alat kerja kreatif, tetapi hadir sebagai asisten pribadi yang membantu mereka tetap produktif, aman, dan nyaman selama menjelajah Negeri Ginseng.
Wisata kuliner di Korea Selatan terkenal menggoda. Namun bagi wisatawan Muslim, satu pertanyaan kerap muncul: apakah makanan ini halal? Keraguan sering muncul saat melihat komposisi produk dalam huruf Hangeul yang sulit dipahami.
Dengan bantuan AI, para penulis cukup memotret label komposisi pada kemasan. Teknologi pemindaian teks langsung menerjemahkan isi bahan, bahkan membantu mengidentifikasi kandungan sensitif seperti alkohol, lemak babi, atau turunan gelatin. Praktis, cepat, dan menenangkan—AI seolah menjadi filter digital yang menjaga kenyamanan beribadah selama perjalanan.

Pengalaman lucu kerap terjadi saat wisatawan menghadapi fasilitas umum di Korea, salah satunya bidet dengan puluhan tombol berbahasa Korea. Salah pencet bisa berujung momen tak terduga.
Di momen inilah AI menunjukkan perannya. Fitur terjemahan kamera real-time memungkinkan para penulis memahami fungsi tiap tombol hanya dengan mengarahkan ponsel. Tak perlu lagi menebak-nebak, semua instruksi tampil jelas dalam bahasa Indonesia. Hal sederhana ini membuat adaptasi di negara asing terasa jauh lebih mudah.
Sistem peringatan darurat di Korea Selatan dikenal aktif mengirim notifikasi ke ponsel warga dan wisatawan. Pesan berbahasa Korea yang muncul tiba-tiba sering memicu kepanikan bagi pelancong.
Para penulis KBM App memilih cara praktis: menangkap layar notifikasi tersebut lalu meminta AI menerjemahkannya. Dalam sekejap, mereka tahu apakah pesan itu terkait debu halus, cuaca ekstrem, atau sekadar pengumuman publik. Dengan begitu, setiap informasi penting bisa disikapi dengan tenang dan tepat.
Seoul yang padat dengan jalur transportasi berlapis bisa membingungkan bagi pendatang baru. Namun, aplikasi peta berbasis AI membantu para penulis menentukan rute tercepat, memilih moda transportasi yang efisien, hingga memperkirakan waktu tempuh dan biaya perjalanan.
Teknologi ini membuat mobilitas lebih terencana. AI bukan hanya penunjuk arah, tetapi juga “penasihat perjalanan” yang membantu wisatawan menghemat waktu dan energi di kota besar.
Kisah perjalanan penulis Diamond KBM App di Korea Selatan memperlihatkan wajah baru AI dalam kehidupan sehari-hari. Jika selama ini teknologi dimanfaatkan untuk riset, pengembangan ide, dan penyuntingan naskah, kini AI hadir sebagai partner perjalanan yang memecahkan persoalan nyata di lapangan.
Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi bisa dimanfaatkan untuk menjaga nilai-nilai personal, termasuk kenyamanan beribadah dan rasa aman saat berwisata. Di masa depan, penulis yang adaptif bukan hanya unggul dalam berkarya, tetapi juga cakap memanfaatkan AI untuk membuka jalan di dunia tanpa batas.