INDUSTRY.co.id-BALI – Salah satu komponen terpenting dari intangible asset adalah ekuitas merek. Ini menjadi pembeda utama kekuatan sebuah perusahaan di mata investor dan pasar.

Advertisement

Oleh karena itulah Frontier bersama Majalah Marketing menggelar acara Top Brand Award 2026 di Intercontinental Bali Resort, Jimbaran, Bali. Mengusung tema Respectful Brand, The 1st Top Brand Award Event Fully Hosted by AI MC ini diselenggarakan secara spektakuler dengan menghadirkan TOBA virtual assistant powered by HERA serta Lisa sebagai virtual AI MC.

Handi Irawan D., CEO Frontier sekaligus Founder Top Brand Award, memaparkan materi bertajuk “How much is your brand worth?” yang menyoroti pentingnya nilai valuasi merek dalam menentukan nilai aset tak berwujud (intangible asset) sebuah perusahaan. Ia menjelaskan, nilai sebuah perusahaan tidak lagi hanya ditentukan oleh aset fisik yang terlihat (tangible asset). Data dari bursa menunjukkan fenomena dimana nilai pasar perusahaan sering kali jauh melampaui nilai bukunya, yang mengindikasikan bahwa sebagian besar nilai perusahaan kini berasal dari intangible asset. Salah satu komponen terbesar dan terpenting dari intangible asset tersebut adalah ekuitas merek, yang menjadi pembeda utama kekuatan sebuah perusahaan di mata investor dan pasar. “Dengan memahami nilai sebuah merek, perusahaan dapat memiliki panduan yang jelas dalam mengambil keputusan besar seperti menentukan harga yang wajar dalam proses merger dan akuisisi, menjadi landasan dalam negosiasi lisensi atau joint venture, hingga membantu manajemen dalam menyusun strategi pengembangan merek yang lebih terukur. Melalui valuasi ini, tim pemasaran dan keuangan dapat memiliki bahasa yang sama dalam melihat merek sebagai aset finansial yang mampu menjamin stabilitas permintaan dan arus kas di masa depan,” papar dia.

Advertisement

Dalam presentasinya, Handi membedah lima metode utama untuk menghitung nilai sebuah merek, yaitu Replacement Cost Method (menghitung biaya untuk membangun kembali merek dari nol), Market-Based Approach (menggunakan perbandingan transaksi pasar dari merek sejenis), Price Premium Method (menilai merek berdasarkan selisih harga yang bersedia dibayar konsumen dibanding produk tanpa merek), Income Split Method (menghitung sisa laba operasional yang diatribusikan khusus pada merek), dan Royalty Relief Method (menghitung berapa besar biaya yang dihemat perusahaan karena memiliki merek sendiri tanpa perlu membayar lisensi).

“Merek yang kuat mampu menjaga stabilitas permintaan dan memberikan arus kas di masa depan bagi perusahaan. Diharapkan para pelaku industri tidak hanya fokus pada efisiensi jangka pendek, tetapi mulai melihat merek sebagai aset finansial strategis yang harus terus dikembangkan valuasinya untuk keberlanjutan bisnis,” tegas Handi.

Advertisement