INDUSTRY.co.id - Jakarta – Indonesia Youth Sustainability Forum (IYSF) 2025 berhasil menjadi ajang inspiratif bagi ribuan anak muda Indonesia untuk berperan aktif dalam mewujudkan masa depan berkelanjutan. 

Advertisement

Forum yang berlangsung pada 18 Oktober lalu ini dihadiri lebih dari 5.000 peserta, baik secara langsung maupun daring, dengan antusiasme tinggi terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim.

Mengusung tema “From Passion to Action, Youth Shaping Net Zero Future,” IYSF 2025 menghadirkan lebih dari 15 narasumber yang sebagian besar merupakan generasi muda dengan aksi nyata di bidang keberlanjutan. Acara dibuka oleh Nadia Habibie, Executive Board Secretary The Habibie Center, yang juga didapuk sebagai IYSF Advocate 2025.

Advertisement

“Perjalanan menuju net zero bukan hanya tentang mengurangi emisi, tetapi juga membangun kesejahteraan baru dengan cara yang lebih bersih, adil, dan sustainable,” ujar Nadia Habibie dalam pidatonya.

Salah satu peserta, Anju dari AIESEC Indonesia, mengaku mendapatkan banyak perspektif baru. “IYSF 2025 itu empowering banget, kita bisa berdiskusi, belajar dari berbagai sudut pandang, dan mulai berpikir apa yang bisa kita lakukan untuk mencapai sustainability,” ungkapnya.

Advertisement

Forum ini juga menyajikan empat panel diskusi yang membahas transisi energi, peluang pertumbuhan ekonomi hijau, peran budaya dan kreativitas, hingga aksi nyata menuju gaya hidup berkelanjutan.

Salah satu inspirasi datang dari Chynthia Lestari, inisiator gerakan Lyfe with Less. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak di tengah budaya konsumtif. Melalui konsep bersaling-silang, ia mengajak masyarakat urban menerapkan mindful consumption dengan menukar barang bekas yang masih layak pakai.

Advertisement

“Kita ingin masyarakat bisa merasakan pengalaman berbelanja tanpa uang, tapi pakai barang bekas. Dengan cara ini, masa pakai barang bisa diperpanjang dan gaya hidup berkelanjutan bisa diterapkan secara nyata,” jelas Chynthia.

Sementara itu, Dennis Guido, pendiri Sitoloka Foundation dan kreator di balik akun edukatif @naktekpang, menyoroti pentingnya perubahan pola makan untuk keberlanjutan. Ia memperkenalkan konsep Planetary Health Diet yang menyeimbangkan kebutuhan gizi manusia dan kelestarian lingkungan.

“Melalui planetary health diet, kita diajak kembali ke pangan lokal yang lebih sehat dan rendah emisi. Makanan tradisional Indonesia sebenarnya sangat sesuai dengan konsep ini,” tutur Dennis.

Tak hanya soal konsumsi, gaya hidup ramah lingkungan juga bisa dimulai dari kebiasaan mobilitas. Komunitas Bike2Work Indonesia menjadi salah satu contoh nyata. Program Director-nya, Dimas Gilang Pamungkas, menjelaskan dua kunci utama agar gerakan ini bertahan lama: konsistensi dan integritas.

“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat yang terlalu car-centric. Bersepeda bukan hanya alat mobilitas, tapi juga investasi untuk kesehatan dan lingkungan,” kata Dimas.

Melalui IYSF 2025, para peserta diajak memahami bahwa langkah kecil sehari-hari dapat memberi dampak besar bagi bumi. Forum ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengubah passion menjadi aksi nyata, membangun kesadaran baru menuju Indonesia yang rendah karbon dan berkelanjutan.

Dengan semangat kolaborasi dan perubahan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, IYSF 2025 menegaskan bahwa masa depan Indonesia net zero hanya bisa terwujud bila dimulai dari sekarang—oleh para pemuda.