INDUSTRY.co.id - Jakarta – Baru-baru ini, Kawasan Wisata Budaya Gunung Niushou bersama delegasi pariwisata budaya Kota Nanjing melakukan kunjungan ke Jakarta, Indonesia. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pertukaran budaya dan pariwisata yang bertujuan mempererat hubungan bilateral, sekaligus menjadi jembatan kokoh bagi kerja sama wisata antara Gunung Niushou dan Jakarta, bahkan Indonesia secara lebih luas.

Dalam acara Promosi Pariwisata Budaya Nanjing 2025 dan Promosi Khusus Gunung Niushou, kawasan wisata ini tampil sebagai kartu nama penting pariwisata Nanjing. Melalui penyajian materi visual yang memikat dan penjelasan informatif, Gunung Niushou memperkenalkan kekayaan budaya, kemegahan arsitektur, dan keragaman pengalaman wisata kepada para pelaku industri pariwisata Indonesia. Presentasi ini menarik perhatian luas dan mendorong terjadinya diskusi lanjutan serta minat kerja sama dari sejumlah perusahaan lokal.

Sebagai langkah konkret, Gunung Niushou menandatangani perjanjian kerja sama strategis dengan beberapa agen perjalanan outbound utama Indonesia, seperti Zona Jalan-Jalan Tour & Travel dan PT. Ariesta Pameratama. Kedua pihak melakukan pembahasan mendalam mengenai pertukaran pariwisata Tiongkok–Indonesia dan potensi berbagi sumber daya, dengan harapan terwujudnya kerja sama yang nyata dan saling menguntungkan. Rombongan wisatawan pertama dari hasil kerja sama ini dijadwalkan akan mengunjungi Gunung Niushou pada bulan September.

Kunjungan ini menjadi langkah eksploratif yang bermanfaat dalam memperluas ruang kerja sama dan memperdalam pertukaran budaya. Melalui promosi, kunjungan, dan pertemuan yang dilaksanakan, Gunung Niushou tidak hanya memperkenalkan pesona uniknya, tetapi juga memperkuat konektivitas dengan pasar pariwisata Indonesia.

Gunung Niushou memiliki daya tarik yang kuat berakar dari sejarah panjang dan nilai budaya yang kaya. Dinamai berdasarkan bentuk puncaknya yang menyerupai tanduk sapi, gunung ini dikenal luas dengan ungkapan: “Di antara gunung indah Jinling, Niushou adalah yang terbaik.” Selain panoramanya yang memukau, kawasan ini juga menyimpan warisan sejarah penting seperti Makam Dinasti Selatan Tang, situs perjuangan Yue Fei melawan Dinasti Jin, serta makam Laksamana Cheng Ho pelopor pelayaran dunia yang wafat pada tahun 1433 dan dimakamkan di kawasan ini. Makam dan museumnya masih menyimpan kisah kehidupan agung sang laksamana.

Kilau Gunung Niushou masa kini juga diperkuat oleh nilai spiritual Buddha. Pada tahun 2010, ditemukan kembali Sisa Tulang Uban Buddha Sakyamuni, relik suci yang sangat langka. Untuk memuliakan peninggalan tingkat nasional ini, dibangunlah Istana Puncak Buddha di bekas lokasi tambang, dan pada Oktober 2015, relik tersebut secara resmi diundang untuk dipuja secara permanen, bertepatan dengan dibukanya kawasan wisata.

Kini, Gunung Niushou telah berkembang menjadi destinasi spiritual utama. Istana Puncak Buddha yang meraih Penghargaan Luban dan Zhan Tianyou berdiri megah dengan struktur tiga lantai di atas dan enam lantai di bawah tanah. Di dalamnya terdapat berbagai fasilitas sakral seperti Teater Teratai, Balairung Relik, dan Istana Relik yang menyimpan pusaka suci berusia ribuan tahun, dibuka untuk ziarah publik sebanyak tujuh kali dalam setahun. Sementara itu, Menara Puncak Buddha setinggi 88 meter memungkinkan wisatawan menaiki delapan lantai dan memukul lonceng sebagai doa menyambut Tahun Baru atau Imlek. Di kaki gunung berdiri Kuil Puncak Buddha bergaya Dinasti Tang yang sederhana namun megah. Ketiga bangunan ini menjadi pusat doa dan harapan spiritual.

Lebih dari sekadar tempat berziarah, Gunung Niushou juga menjadi surga seni dan budaya. Di dalam Istana Puncak Buddha terdapat 4.536 titik seni budaya, yang memamerkan puluhan kerajinan warisan budaya takbenda nasional. Wisatawan tidak hanya dapat menyaksikan karya seni bernilai tinggi, tetapi juga mencoba langsung teknik tradisional seperti emas tipis dan **enamel cloisonné. Bagi anak-anak, tersedia kegiatan edukatif seperti membangun dougong dan membuat mural tanah liat gaya Dunhuang, yang memungkinkan mereka belajar budaya sambil bermain.

Sebagai tempat penyembuhan jiwa, kawasan ini juga menghadirkan Taman Depan Puncak Buddha dan Dongchan Spiritual Journey, lengkap dengan jalur hutan bernuansa pedesaan Eropa. Saat malam tiba, Kota Kecil Jinling menyala terang, menghadirkan suasana nostalgia Dinasti Enam. Untuk akomodasi, tersedia Penginapan Mantingfang dan Hotel Hilton Gunung Niushou dengan 381 kamar menghadap pegunungan, serta berbagai pilihan kuliner Tiongkok, Barat, dan vegetarian.

Kini, Gunung Niushou menjadi ikon pariwisata budaya yang memadukan fungsi doa, seni, dan penyembuhan. Dengan jumlah pengunjung lebih dari 6 juta orang per tahun, kawasan ini menjadi destinasi favorit wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Nanjing. Perjalanan promosi ke Jakarta semakin memperkuat citra Gunung Niushou di pasar Asia Tenggara.

Dengan pesona dan potensi yang dimiliki, undangan tulus “Sekali ke Gunung Niushou, hati pun bergembira” menjadi semakin bermakna menanti lebih banyak sahabat dari Indonesia untuk datang dan merasakan keindahannya.