INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menghadapi dunia kerja di era global dan digital saat ini bukanlah hal yang mudah. Tantangan seperti otomatisasi dan robotisasi menuntut generasi muda, termasuk para siswa SMK, untuk beradaptasi dengan cepat. Dalam menghadapi situasi ini, siswa SMK Metland diajak untuk berani, kreatif, dan terus meningkatkan kompetensi diri.

"Saya berpesan untuk kalian para siswa jangan takut menghadapi tantangan ini. Kita tingkatkan kompetensi dengan hard skill juga soft skill disertai dukungan pemerintah atau kementerian terkait" kata Pembina Yayasan Pendidikan Metland (YPM), Wahyu Sulistio, dalam sambutannya pada acara Generasi Cinta Prestasi (GCP) yang diselenggarakan oleh SMK Pariwisata Metland School di Mall Metropolitan Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Senin (1/9/2025).

Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, seperti Kepala SMK Pariwisata Metland School Darmawan, Widyaprada Utama Kemendikdasmen Wardani, Abri D. Prabawa (Direktur Pembinaan Kelembagaan Vokasi Pekerja Migran Indonesia Kementerian P2MI), Surono (anggota TPPN Kemenpar), Sulistio M. Cahyono (Ketua Tim Kerja Peserta Didik Direktorat SMK Kemendikdasmen), Cahya K. Ratih (Direktur Seamolec), serta Komite Sekolah Metland Jelani dan tamu lainnya.

Wahyu Sulistio mengajak seluruh jajaran pimpinan, guru, dan siswa untuk cepat beradaptasi dan berinovasi menghadapi perubahan zaman. Selain itu, ia menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dan komunikasi global, serta perlunya menjalin kolaborasi dengan dunia usaha dan industri (DUDI). "Namun terpenting juga karakter dan integritas harus jadi pijakan kita semua," tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya memiliki visi untuk menjadi pemimpin masa depan yang berjiwa kewirausahaan, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagi keluarga dan lingkungan. "Tanamkan cita-cita kuat menjadi pemimpin yang mampu mengubah lingkungan lebih baik. Tentu kita mulai dari diri sendiri," ujarnya.

Sementara itu, Kepala SMK Pariwisata Metland School, Darmawan, mengungkapkan bahwa selama 11 tahun memimpin sekolah dengan bimbingan YPM, pihaknya berhasil mengubah pandangan masyarakat terhadap pendidikan vokasi. "Dahulu vokasi merupakan pilihan kedua, kini menjadi keberminatan. Sejumlah alumni kami melanjutkan pendidikan ke Singapura, bekerja di negara maju dan lain-lain. Kita ingin membuktikan kita mampu bersaing," ungkap Darmawan.

Tahun ini, sekolah memiliki program internasional berupa pelatihan bahasa Jepang, Jerman, dan Mandarin sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran. "Ini upaya kami memberikan kualitas pembelajaran terbaik bagi siswa kami," kata Darmawan. Ia menyebut bahwa sejumlah alumni telah bekerja di hotel bertaraf internasional, bahkan ada yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Tiongkok.

Menurutnya, capaian tersebut bisa terwujud berkat dukungan Direktorat SMK Kemendikdasmen, Kementerian P2MI, kementerian/lembaga lain, serta kalangan dunia usaha dan industri (DUDI). "Saya bangga menjadi kepala sekolah kalian," ungkap Darmawan.

Salah satu alumni, Gilang Fajar, yang kini bekerja di Ritz Carlton Dubai, turut hadir memberi motivasi kepada adik-adiknya. Ia menekankan pentingnya kemampuan berbahasa asing, terutama Bahasa Inggris, dalam mendukung komunikasi profesional di luar negeri. "Untuk memanfaatkan hasil kerja kita mesti menabung dan membantu orang tua," pesan Gilang.

Kerja Sama Strategis dan Tantangan Global

Pada kesempatan yang sama, Widyaprada Kemendikdasmen Wardani memaparkan tentang transformasi strategis SMK tahun 2025–2026. "SMK Metland merupakan SMK unggulan. Saya apresiasi yang terus berinovasi dengan penyiapan SDM, guru, dan kurikulumnya," ungkapnya.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa terbatasnya lapangan kerja harus diantisipasi dengan kesiapan menghadapi tantangan masa depan yang tidak menentu, seperti digitalisasi, AI, dan robotisasi. Ia juga menyampaikan bahwa terdapat 1,6 juta lowongan kerja di luar negeri yang belum terisi, menjadi peluang besar bagi lulusan SMK.

Selain itu, ia menekankan peran penting guru dalam proses pendidikan. "Guru memiliki jabatan profesional maka mesti bangga dalam mengajar, kreatif, inovatif untuk menjadi guru yang hebat," ujar mantan Direktur SMK Kemendikdasmen tersebut.

Abri D. Prabawa dari Kementerian P2MI menyatakan hal senada, bahwa kesempatan kerja di luar negeri semakin terbuka lebar. Dari 1,6 juta lowongan kerja, baru sekitar 400 ribu yang terisi. Namun, kompetisi tenaga kerja internasional cukup ketat, terutama dari negara seperti Filipina yang unggul dalam kemampuan bahasa.

Abri menyebutkan bahwa Kementerian P2MI mendorong SMK untuk memiliki kelas vokasi khusus migran. Pihaknya berencana berkolaborasi dengan Kemendikdasmen untuk menyiapkan kurikulum, sertifikasi, dan perlindungan pekerja migran yang lebih baik. "Satu lagi yang akan kita dorong seperti yang disampaikan Pak Presiden Prabowo, menginginkan pekerja migran Indonesia itu harus kompeten, perlindungannya harus lebih baik," jelasnya.

Abri juga menambahkan, KP2MI akan bekerja sama dengan 12 kementerian termasuk Direktorat SMK Kemendikdasmen dalam penyiapan SDM unggul untuk pasar tenaga kerja luar negeri. "Maping yang minat itu ada di mana, sekolah ini menjadi salah satu sumber, dalam mengoptimalkan ini, pastinya kita akan menyiapkan sebuah program bersama," pungkasnya.

Surono dari Tim Profesional Pariwisata Nasional (TPPN) Kemenpar turut menjelaskan bahwa untuk mendapat pengakuan internasional, ada empat hal penting yang perlu dimiliki lulusan: sertifikat kompetensi dari BNSP, sertifikat register, ijazah vokasi, dan kredensial mikro berupa sertifikat kompetensi dari lembaga pendidikan selama proses pembelajaran.

Surono menyampaikan bahwa SMK Metland telah mengajukan proposal pilot project, dan diharapkan pada Januari 2025 sudah mulai membuahkan hasil. "Karena ini dari pemerintah, intinya pembinaan, dan SMK ini siap calon pertama untuk menyiapkan diri bahwa kami siap untuk satu SMK ini, siswa ini bisa paling tidak 7 okupasi," pungkasnya.