INDUSTRY.co.id - Jakarta - Melbourne Business School Asia (MBS Asia), bagian regional dari Melbourne Business School, merayakan ulang tahun yang ke-10 sebagai wujud komitmen dalam mengembangkan pemimpin di kawasan Asia-Pasifik. 

Perayaan yang dihadiri oleh para pemimpin terkemuka dari pemerintahan, akademisi, dan industri ini, mempertegas komitmen MBS Asia untuk memperluas kontribusi pendidikan eksekutif di Indonesia. 

Melalui kerja sama dengan BUMN, institusi publik, dan perusahaan swasta, MBS Asia berfokus pada pengembangan pemimpin, transformasi digital, serta keberlanjutan bisnis yang sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

Selama lebih dari satu dekade, MBS Asia telah melatih ribuan pemimpin bisnis dan pemerintahan di Asia, termasuk Indonesia, melalui program pembelajaran eksekutif yang dirancang khusus.

MBS Asia telah bermitra dengan institusi terkemuka seperti PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), Indonesia Financial Group (IFG), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk memperkuat tata kelola, mempercepat transformasi, dan mengembangkan kepemimpinan strategis.

Selain itu, MBS Asia juga telah menghasilkan riset relevan dengan kebutuhan masa kini, termasuk studi tentang trust in AI serta agenda keberlanjutan seperti dekarbonisasi, ekonomi sirkular, dan inklusi sosial.

“Kami tidak hanya hadir untuk mengajar, tetapi untuk benar-benar mengubah cara pemimpin berpikir dan bertindak. Kontribusinya harus nyata, di ruang rapat, di organisasi, dan pada akhirnya dalam pembangunan bangsa,” ungkap Prof. Jenny George, Dean and Board Member, Melbourne Business School pada Malam Perayaan Ulang Tahun ke-10 Melbourne Business School Asia di Jakarta, Kamis (28/8/2025).

MBS Asia menargetkan pertumbuhan berkelanjutan di Indonesia dalam 5–10 tahun mendatang dengan strategi yang jelas. Ekspansi kantor Jakarta akan menjadi prioritas utama, yaitu mengembangkan tim kecil yang ada saat ini menjadi pusat pembelajaran yang mampu melayani ribuan eksekutif setiap tahunnya, meniru keberhasilan model di Kuala Lumpur.

Selain itu, MBS Asia akan merancang program yang selaras dengan prioritas nasional, seperti transformasi digital, keberlanjutan, dan kepemimpinan sistemik, sehingga relevan dengan kebutuhan pembangunan bangsa. 

Di saat yang sama, MBS Asia berkomitmen memperkuat hubungan jangka panjang dengan BUMN dan sektor swasta melalui program customized executive education yang dirancang khusus sesuai tantangan dan tujuan masing-masing organisasi.

“Indonesia menempatkan investasi besar pada inovasi dan human capital. Kami ingin menjadi mitra jangka panjang dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045,” kata Mr. Magnus Gittins, Chief Executive Education Officer, Melbourne Business School.

Membangun Pemimpin untuk Indonesia Emas 2045

Sebagai negara dengan populasi muda terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki peluang luar biasa untuk memanfaatkan bonus demografi. Melbourne Business School meyakini bahwa kuncinya ada pada kepemimpinan transformatif.

“Kami tidak datang hanya membawa ‘cara Barat’. Filosofi kami adalah memadukan yang terbaik dari Timur dan Barat. Di Asia, pelatihan SDM sebagai bagian dari nation building, inilah yang membuat pendekatan di kawasan ini unik dan sangat relevan bagi Indonesia,” ujar Jeffery Soong, Director of Asia, Melbourne Business School.

Dengan pendekatan ini, keberhasilan program MBS Asia diukur bukan hanya dari teori, melainkan dari perubahan nyata dalam kepemimpinan, tata kelola, dan daya saing organisasi Indonesia.

MBS Asia menegaskan dukungan penuh terhadap Visi Indonesia 2045 dengan menempatkan pengembangan sumber daya manusia unggul dan kepemimpinan transformatif sebagai prioritas utama. 

Selain itu, mereka menekankan pentingnya penerapan inovasi digital dan adopsi kecerdasan buatan yang berbasis pada kepercayaan, sehingga teknologi dapat benar-benar dimanfaatkan secara efektif di dunia kerja. 

Dukungan tersebut juga mencakup strategi keberlanjutan dan inklusi sosial yang dipandang sebagai fondasi penting dalam membangun pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang adil dan berdaya saing global.

“Kesempatan Indonesia adalah sekarang. Dengan bonus demografi dan momentum pertumbuhan, pengembangan pemimpin harus dilakukan segera agar hasilnya dapat dirasakan menjelang 2045,” tegas Magnus Gittins.