INDUSTRY.co.id - Jakarta — Dunia industri kreatif digital tengah mengalami lonjakan permintaan terhadap content creator yang tidak hanya kreatif, tetapi juga profesional. Menanggapi fenomena tersebut, GETI Incubator membuka jalur percepatan kompetensi melalui skema Sertifikasi Content Creator berlisensi resmi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sertifikasi ini dirancang agar lulusan tidak hanya piawai membuat konten, tetapi juga siap bekerja di ekosistem industri yang sesungguhnya.

“Setelah lulus, peserta bisa langsung terjun ke industri kreatif sebagai creator profesional,” ujar Rachmat Wirasena Suryo, General Manager Academic GETI Incubator. Dalam wawancara khusus, ia menjelaskan bahwa kebutuhan industri saat ini bukan sekadar kreator konten yang viral, melainkan yang mampu bekerja berdasarkan brief, target performa, dan struktur kerja tim.

Pelatihan disusun dengan acuan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan kebutuhan praktis industri digital masa kini. Peserta mempelajari proses produksi konten dari awal hingga akhir: mulai dari riset audiens, pengembangan naskah kreatif, teknis pengambilan gambar, editing video dan audio, hingga penyusunan strategi distribusi konten di berbagai platform.

Data dari Statista 2025 mencatat bahwa nilai pasar ekonomi kreatif digital Indonesia diproyeksikan mencapai Rp278 triliun, dengan subsektor konten digital seperti video dan media sosial sebagai penyumbang terbesar. Selain itu, laporan dari Indonesia Creator Economy 2025 menyebutkan bahwa lebih dari 60% brand lokal kini lebih memilih bekerja sama dengan kreator independen dibandingkan agensi konvensional karena dinilai lebih cepat, relevan, dan hemat biaya.

Melalui metode TauBisaJago, peserta melewati tahapan belajar yang dimulai dari pemahaman dasar dan praktik teknis (tau dan bisa), lalu dilanjutkan dengan fase inkubasi (jago) selama satu bulan. Dalam masa inkubasi ini, peserta ditantang membuat proyek konten nyata—baik untuk UMKM, institusi, maupun platform publik—dengan bimbingan langsung dari mentor industri. Hasil karya peserta juga dapat dijadikan portofolio profesional yang mendukung karier mereka ke depan.

Program ini telah dijalankan melalui kolaborasi dengan sejumlah kampus mitra seperti UGM, Universitas Raharja, Vokasi UI, UPN, dan Swiss German University. Di beberapa kampus, sertifikasi ini digunakan sebagai bagian dari SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah), memberikan pengakuan formal terhadap kompetensi praktis mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja.

Peserta berasal dari beragam latar belakang, termasuk mahasiswa non-komunikasi, pelaku UMKM, dan pencari kerja muda. Banyak dari mereka setelah menyelesaikan pelatihan langsung berkarier sebagai freelance videografer, content strategist, atau menjadi bagian dari tim media sosial di perusahaan rintisan maupun lembaga publik.

Hingga pertengahan 2025, program ini telah meluluskan lebih dari 1.200 peserta yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Rachmat menyebut bahwa banyak lulusan GETI yang kini terlibat dalam kampanye digital, produksi konten edukatif, hingga kolaborasi promosi dengan kementerian dan korporasi.

“Bagi kami, indikator sukses bukan hanya jumlah sertifikat yang keluar, tapi seberapa cepat peserta diterima di pasar kerja atau mampu menjalankan proyek konten secara mandiri,” jelas Rachmat.

Dengan pendekatan berbasis kompetensi dan praktik langsung, GETI membuktikan bahwa content creator bukan hanya profesi kreatif, tetapi juga jalur karier profesional yang membutuhkan pelatihan, etika, dan kesiapan kerja nyata. Silahkan menghubungi Whatsapp GETI https://s.id/industrycoidxgeti untuk info lanjutannya.