INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kementerian Pariwisata terus mendorong promosi wastra sebagai bagian dari kekuatan pariwisata berbasis budaya. Hari ini, industri Wastra tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga penggerak ekonomi. Dari Desa Wisata di Sumba hingga panggung World Expo Osaka, wastra mempertemukan tradisi dan inovasi, budaya dan pariwisata, serta menjadi sumber penghidupan bagi perempuan-perempuan pengrajin di desa.

Advertisement

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan, di balik setiap motif batik, helai tenun, dan benang songket, tersembunyi narasi panjang tentang jati diri bangsa. Wastra Nusantara bukan hanya karya seni, namun juga warisan budaya yang hidup dan menghubungkan kita dengan sejarah, nilai, dan filosofi dari berbagai penjuru tanah air.

"Karena kami percaya, setiap wastra yang dibuat adalah jendela terhadap kisah tentang Indonesia di mata dunia," ujar Menpar Widiyanti seperti dikutip redaksi INDUSTRY.co.id dari akun Instagram miliknya @widi.wardhana, Sabtu (24/5/2025).

Advertisement

Lebih lanjut dikatakan Menpar Widiyanti, menghidupkan kekayaan melampaui musik dan tarian, Indonesia juga merajut identitasnya dalam wastra seperti batik, tenun, dan songket yang merekam sejarah, nilai, dan identitas setiap daerah.

Selain batik yang memiliki >5.800 motif, wastra lainnya seperti tenun ikat, songket, dan ulos, sarat makna dan filosofi yang mendalam.

Advertisement

Di samping itu, Wastra Nusantara telah mendapat pengakuan dunia:

• Batik

Advertisement

Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2009.

• Kebaya

Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2024.

"Kain-kain tradisional Indonesia seperti batik, tenun, dan songket kini tak hanya jadi simbol budaya, tapi juga menggerakkan roda ekonomi lewat pasar global yang kian menghargai keindahan dan maknanya," tambah Menpar.

Badan Pusat Statistik, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia mencatatkan Nilai ekspor batik (2023) mencapai USD 17,53 juta, sedangkan Nilai ekspor tenun ikat sebesar USD 1,19 juta pada periode yang sama.

Tidak sekadar angka, pencapaian ini turut menguatkan poin bagaimana produksi wastra menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan mendukung perekonomian lokal.

Wastra turut menjadi daya tarik wisata berbasis budaya.

Contoh nyata adalah Desa Wisata Tebara di Sumba Barat, sebuah destinasi wisata budaya unggulan dan penerima Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023.

Kain tenun menjadi salah satu daya tarik utama, di mana wisatawan dapat menyaksikan langsung proses pembuatannya, kemudian kain juga dijual sebagai cinderamata.

Usaha tenun ini menjadi mata pencaharian utama perempuan setempat, sehingga sekaligus berperan sebagai pemberdayaan ekonomi berbasis budaya.

Dalam pavilion Indonesia di World Expo Osaka 2025, Kementerian Pariwisata bersama Cita Tenun Indonesia turut menghadirkan kurasi wastra nusantara bertajuk "Traditional Textiles: Sailing Through Colors" sebagai bentuk promosi pariwisata berbasis budaya.

Pengunjung dapat menikmati keindahan dan kekayaan kain tradisional Indonesia yang mencerminkan ragam budaya nusantara

"Wastra Indonesia bukan sekadar kain, tapi warisan budaya yang hidup. Saat wisatawan mengenakan batik, tenun, atau songket, mereka tidak hanya membawa pulang oleh-oleh, tapi juga cerita, sejarah, dan jiwa bangsa," tandas Menpar Widiyanti.