INDUSTRY.co.id - Jakarta – Tren elektrifikasi pada industri otomotif sering dianggap sebagai satu-satunya cara dalam upaya menciptakan udara bersih dan dekarbonisasi. Namun pada kenyataannya, transisi menuju mobil listrik tidaklah mudah, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Advertisement

Masih minimnya infrastruktur pengisian baterai masih menjadi permasalahan yang sangat krusial, sementara tuntutan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca semakin meningkat.

Sebagai respon, banyak produsen mobil global, termasuk yang beroperasi di Indonesia mulai mengembangkan Hybrid Electric Vehicle (HEV) dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) sebagai langkah awal sebelum beralih sepenuhnya ke mobil listrik, hingga mesin fleksibel.

Advertisement

Cyrillus Harinowo, seorang banker dan ahli moneter, sekaligus penulis buku berjudul “Multi-pathway for Car Electrification mengatakan, langkah tersebut dianggap sebagai solusi dari stagnasi dekarbonisasi jika selalu mengandalkan penetrasi mobil listrik. 

“Terlebih dengan perang dagang sengi tantara Barat versus China yang memicu pengembangan multiteknologi,” kata Cyrillus dalam acara Carbon Neutrality (CN) Mobility Event di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta (14/2).

Advertisement

Menurutnya, pasar mobil listrik secara global masih relatif terbatas. Bukan hanya di Indonesia saja tetapi juga pasar global. “Jadi dari sisi industri mobil di Indonesia tetap dilanjutkan bisnis yang ada saat ini sambil secara bertahap melakukan transisi melalui pengembangan industri mobil yang memiliki pasar yang besar, seperti mobil hybrid,” jelasnya.

Berdasarkan data penjualan mobil di Amerika selama 2023 telah mengkonfirmasi lonjakan signifikan minat masyarakat terhadap mobil hybrid. Kenaikan ini mengindikasikan pergeseran preferensi konsumen menuju kendaraan yang lebih efisien dan ramah lingkungan. 

Advertisement

“Dengan semakin populernya mobil hybrid maka peluang untuk menghadirkan inovasi baru pun semakin terbuka lebar. Bahkan, segmen LCGC yang selama ini identik dengan mobil harga terjangkau, kini berpotensi untuk dihadirkan dalam varian hybrid sehingga menandakan bahwa teknologi ramah lingkungan semakin inklusif dan dapat diakses oleh berbagai kalangan masyarakat,” paparnya.

Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya memahami bahwa teknologi otomotif ramah lingkungan tidak hanya terbatas pada mobil listrik. 

“Secara global, saat ini hampir semua sepakat bahwa teknologi otomotif ramah lingkungan tidak semata mobil listrik. Itu tergantung dari masing-masing negara. Namun, sebaliknya bagi Indonesia justru kondisi saat ini menyajikan banyak pilihan yang sesuai,” kata Cyrillus.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto menyebut bahwa pendekatan multi-pathway yang kami gagas menjadi sangat penting untuk menghadirkan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

“Dari kendaraan elektrik, hybrid hingga kendaraan berbasis hidrogen, sehingga masyarakat bisa memilih yang sesuai referensi masing-masing,” kata Nandi.

Seperti diketahui, industri transportasi menyumbang sekitar 28 persen dari emisi karbon. Menurut Nandi, untuk mengatasi permasalahan tersebut merupakan tantangan besar. 

“Oleh karena itu, untuk mempercepat transisi menuju kendaraaan ramah lingkungan harus memanfaatkan energi terbarukan yang lebih bersih seperti hidrogen,” ungkapnya.

“Namun, semua ini tidak bisa kita capai tanpa bekerja sama, kolaborasi antara pemerintah dan industri, akademisi sangat penting untuk mewujudkan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan untuk generasi mendatang,” tutup Nandi.