INDUSTRY.co.id - Palembang- Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono menyampaikan tiga smelter terhenti operasinya karena alasan keekonomian perusahaan.

Advertisement

"Ketiganya berhenti beroperasi dikarenakan masalah ekonomi perusahaan, terutama akibat pengoperasian peleburan nikel dengan menggunakan teknologi Blast Furnace yang sangat dipengaruhi harga bahan baku, salah satunya adalah kokas," kata Bambang Gatot berdasarkan informasi tertulis yang diterima Antara di Palembang, Kamis (10/8/2017)

Hingga saat ini, tercatat 13 smelter nikel yang telah terbangun, namun tiga diantaranya kini terhenti. Ketiga smelter dimaksud adalah PT Indoferro dan PT Bintang Timur Steel di Cilegon, serta PT Cahaya Modern Metal Industri di Sulawesi Tenggara.

Advertisement

Pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) pada semester I tahun 2017 telah mencapai target. Dari target 4 smelter yang akan dibangun pada 2017, dua smelter telah dibangun hingga tengah tahun 2017.

Sebelumnya, pada paparan capaian sektor Minerba semester I tahun 2017 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (9/8), Dirjen Minerba juga menjelaskan bahwa realisasi ekspor nikel (ore) pada semester I tahun 2017 baru mencapai 403 ribu ton, dari rekomendasi ekspor sebesar 8,16 juta ton.

Advertisement

"Ekspor ore itu diberikan untuk mengetahui dan memberikan insentif kepada yang serius membangun (smelter). Karena kalau dia tidak memenuhi progress, (rekomendasi ekspornya) dicabut. Siapa yang serius, sesuai kapasitas smelter dia akan dapat diberikan ijin ekspor", kata Bambang.

Ia melanjutkan, harga kokas, yang memiliki porsi 40 persen dari total biaya produksi, meningkat dari rata-rata 100 dolar AS per ton pada tahun 2015 menjadi 200-300 dolar AS per ton sejak akhir tahun 2016. Hal inilah yang menjadi penyebab terhentinya kegiatan produksi PT Cahaya Modern Metal Industri.

Advertisement

Sementara itu, operasi PT Indoferro dan PT Bintang Timur Steel sejak awal tidak di desain untuk memurnikan bijih nikel sehingga tingkat keekonomiannya akan berbeda dengan desain awal. PT Indoferro semula memurnikan bijih besi sedangkan PT Bintang Timur Steel semula memurnikan bijih mangan.

PT Indoferro yang memiliki kapasitas output 200.000 ton per tahun berhenti berproduksi sejak 19 Juli 2017. Sementara PT Bintang Timur Steel yang berkapasitas produksi 37.440 ton per tahun sejak commissioning pada Juli 2015 belum beroperasi secara continue.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa hingga saat ini terdapat 10 smelter nikel beroperasi dengan total produksi 1.468.596 ton per tahun. Sementara, 13 smelter nikel lainnya saat ini dalam tahap konstruksi dengan total kapasitas mencapai 1.853.000 ton per tahun apabila ke-13 smelter tersebut sudah berproduksi.