INDUSTRY.co.id - Jakarta-Investor asing akan berinvestasi ke Indonesia jika kondisi makro Indonesia stabil. Indikatornya  pada defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan defisit neraca pembayaran seimbang. Indikator ini, menjadi perhatian dana luar negeri.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, dua indikator tersebut, yang akan dijaga Indonesia. Terjaganya indikator itu, dana luar  pasti melihat, Indonesia layak investasi.

"Dana luar negeri lihat rasio makro, apakah masih sehat didanai. Selalu dilihat investor luar negeri, baik mereka investasi melalui surat berharga negara,obligasi dan kredit luar negeri. Key bagaimana kelola keseimbangan makro, tapi menjaga defisit ekspor impor pada level yang sehat. Ingin ekspor impor enggak defisit," kata dia di Jakarta, Kamis (3/8/2017).

Ia ungkapkan Indonesia masih butuh dana luar negeri. Sebab dana dari dalam negeri belum cukup untuk mendrive pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5% pada tahun ini. Lihat saja dana perbankan kontribusi untuk pembangunan hanya 35% dari  Produk Domestik Bruto (PDB) negara Indonesia pada posisi US$5000.

Sedangkan dana pasar modal, asuransi dan dana pensiun itu sepertiga dari dana perbankan. Likuiditas perbankan mencapai Rp411 triliun yang ditempatkan pada Bank Indonesia (BI) per 4 Mei 2017, dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 22,2 persen per Februari 2017.

Dengan data itu, menurut Mirza, kebutuhan dana luar negri tetap berlanjut. Namun tetap pada koridor menjaga defisit APBN dan neraca pembayaran di bawah 3%.

"Pada era 2001- 20011 saat boom komoditas, neraca pembayaran positif. Setelah komoditi lewat kembali defisit. Sekarang tinggal kelola. Bacmark jangan lebih 3% dari PDB. Ini enggak ada buku teori. Tapi kreditur luar di pakai. Kecuali AS boleh di atas 3%," katanya.