INDUSTRY.co.id - Jakarta- Dalam budaya politik kepemimpinan Jawa disebutkan bahwa kredibilitas seorang pemimpin akan dilihat dari ucapannya. Ibarat seorang raja, ucapan seorang pemimpin adalah sabdo pandito ratu.

Seorang pemimpin yang dipegang adalah omongannya, termasuk konsistensinya dalam memegang teguh satunya kata dengan perbuatan.    Demikian keterangan dari   Alex Palit, jurnalis, penulis buku “2024 Kenapa Harus Prabowo Subianto Notonegoro”

Perihal pemimpin itu sabdo pandito ratu ini juga ditulis Prabowo Subianto di buku "Kepemimpinan Militer 2", di bab "Sabdo Pandito Ratu".

Di bab tersebut dituliskan, berhati-hatilah dalam mengucapkan kata-kata di hadapan masyarakat. Orang lain akan ingat dan akan menuntut segala ucapanmu. Kepercayaan adalah modal utama seorang pemimpin. Jika seorang pemimpin tidak lagi dipercaya, maka ia tidak lagi memiliki kemampuan untuk memimpin. Tulis Prabowo.

Untuk dapat dipercaya, seorang pemimpin tidak boleh bohong atau suka berbohong. Apa yang diucapkan harus sesuai dengan apa yang dilakukan. Satunya kata dengan perbuatan.

Ucapan pemimpin harus bisa dipegang. Jangan jam dua bilang "tahu" jam empat bilang "tempe". Jangan bilang "tidak" ternyata "iya". Lanjut Prabowo.

Di sini mengartikan bahwa ucapan seorang pemimpin tak kena wola wali. Seorang pemimpin yang dipegang adalah omongannya, termasuk konsistensinya dalam memegang teguh ucapannya, satunya kata dengan perbuatan, ora mencla-mencle, isuk tempe sore kedele.

Pasalnya di sini kewibawaan seorang pemimpin dipertaruhkan. Karena dari sini pula kadar kualitas kepemimpinan seorang pemimpin dinilai dan dipertaruhkan di mata rakyat.