INDUSTRY.co.id - Cikarang- Pengembangan pendidikan vokasi dinilai mampu menjadi solusi dalam menghadapi persaingan pasar bebas terutama Masyarakat Ekonomi ASEAN, yang membutuhkan tenaga kerja berkompetensi tinggi.
"Pengembangan industri akan lebih mudah dijalankan karena mempunyai para pekerja yang berbakat (talent pool). Saat ini, pelaksanaan pendidikan vokasi industri semakin populer di dunia," ungkap Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto saat membuka acara peresmian kerjasama pendidikan vokasi antara Kementerian Perindustria dan PT Astra Otoparts di Cikarang, Bekasi, Jum'at (28/7/2017).
Ia menambahkan, saat ini banyak perusahaan lebih tertarik merekrut para lulusan kejuruan yang telah menguasai keahlian praktikal karena dianggap lebih siap bekerja.
"Benefit yang akan didapat dari perusahaan adalah memperoleh tenaga kerja yang sudah terdidik sehingga bisa mengefisienkan costpelatihan karena mereka sudah bisa langsung bekerja di unit-unit produksi. Kedua-duanya mendapat win-win solution," tegas Airlangga.
Dalam program vokasi ini, Kemenperin juga meminta kepada para expertdi industri yang memasuki masa pensiun agar bisa menjadi guru untuk mengajar di SMK. "Di samping itu, kami bersama Kementerian Keuangan serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, telah berkoordinsi untuk mengalokasikan anggaran per SMK bisa mendapat Rp500 juta supaya menambah peralatan praktik yang terbaru," terang Airlangga.
Menperin menyampaikan, program pendidikan vokasi industri ini juga menjadi salah satu loncatan cepat untuk menghadapi Industry 4.0 atau revolusi industri keempat, dengan memanfaatkan antara lain melalui internet of things, advanced robotics, 3D printing, artificial intelligence, virtualand augmented reality. "Karena Industry 4.0, basis utamanya adalah knowledge," tambahnya.
Airlangga berharap, mereka yang terlibat dalam program pendidikan vokasi bisa masuk ke industri strategis nasional dan menjadi entrepreneurdalam membangun industri kecil dan menengah (IKM).