INDUSTRY.co.id - Jakarta, Hanya dalam tempo tiga tahun, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk berhasil memompa jumlah asetnya hingga menembus posisi enam besar bank Indonesia. Pada tahun 2013, bank ini berada di posisi ke-10.
Posisi baru Bank BTN sebagai bank terbesar keenam di Tanah Air dari sisi jumlah aset tadi telah dicapai tahun lalu. Kinerja bisnis yang positif meski dalam kondisi ekonomi nasional & global yang melambat merupakan faktor utama capaian tadi.
Pada sisi lain pertumbuhan kinerja bank-bank lain justru dirundung pelambatan.
Sebagaimana telah dipublikasikan, sepanjang tahun 2016 lalu Bank BTN meraup laba bersih sebesar 2,61 triliun, menunjukan pertumbuhan 41,49 persen dibanding tahun 2015 yang senilai Rp 1,85 triliun.
Perolehan laba tadi disokong oleh capaian pendapatan bunga bersih atau net interest income tumbuh 20,17 persen secara tahunan (yaer on year/yoy) pada 2016 menjadi Rp 8,25 triliun.
Adapun pendapatan operasional tumbuh 32,31 persen (yoy) dari Rp 2,53 triliun pada 2015 menjadi Rp 3,35 triliun pada 2016. Sementara total aset BTN pada tahun 2016 tumbuh 24,66 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp 214,16 triliun.
Tidak puas dengan capaian itu, Bank BTN kini membidik target baru menjadi bank dengan aset terbesar kelima di Indonesia pada akhir tahun 2017. Direktur Utama Bank BTN, Maryono menyatakan optimismenya mencapai target tersebut.
Menurutnya dengan laju kinerja perusahaan saat ini yang berada di atas rata-rata industri perbankan nasional. Perseroan diyakininya mampu mencatatkan nilai aset sekitar Rp253 triiiun pada akhir tahun 2017 nanti.
“Saat ini posisi aset Bank BTN hanya terpaut sekitar Rp 20 triliun dari bank yang berada di posisi kelima, kami yakin dapat mengejarnya sesuai target,” ujarnya belum lama ini kepada redaksi Industry.co.id di Jakarta.
Untuk mencapai posisi aset kelima terbesar di Indonesia, Maryono mengungkapkan pihaknya akan menjaga laju pertumbuhan kredit dan pembiayaan di level sekitar 18% secara tahunan (year-on-yaar/yoy). Kamudian, dari segi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) ditargetkan turnbuh pada kisaran 22%-24% yoy pada tahun ini.
Dalam memacu peningkatan penyaluran kredit dan pembiayaan, Bank BTN menurutnya turut andil dalam meningkatkan ketersediaan rumah.
Berbagai aksi dilakukan mulai dari menciptakan pengembang handal dan bisnis properti berkelanjutan lewat housing Finance Center (HFC), hingga menyalurkan kradit konstruksl. Bank BTN pun tak hanya menyalurkan kredit untuk kepemilikan rumah (KPR/house financing), tapi juga pinjaman untuk kabutuhan rumah tangga (home financing).
“Perseroan juga manyalurkan kredit pemllikan apartemen {KPA) dan kredit konsumsi lainnya,” imbuhnya.
Sementara untuk meningkatkan perolehan DPK, Bank BTN membidik segmen emerging affluent. Kelompok masyarakat yang memiliki penghasilan berkisar Rp 7 juta – Rp 30 juta.
Ini dibidik sebagai sumber pendanaan sekaligus debitur pinjaman. Bank BTN Juga berupaya menghimpun DPK dan berbagai nasabah potensial dalam rantai bisnis di segmen usaha kecil dan menengah (UKM), komersial, dan korporasi.
Berbagai amunisi, lanjut Maryono juga telah disiapkan emiten bersandi saham BBTN ini untuk dapat bersaing dan masuk ke posisi Top Five.
Di antaranya tahun ini perseroan melanjutkan proses transformasi digital yang telah digelar sejak 2015, selain terus memacu kinerja bisnis, infrastruktur, dan sumber daya manusia perseroan.
Maryono memaparkan dari segi bisnis. Bank BTN juga meningkatkan produktivitas cabang serta mengoptimalkan sales service model. Dari sisi SDM, BBTN merampingkan struktur cabang, meningkatkan budaya risiko, serta menciptkan organisasi yang fokus pada segmen nasabah.
Kemudian, di sisi infrastruktur, Bank BTN memoles infrastruktur teknologi infomasi (IT) yang salid, meningkatkan digitalisasi proses bisnis, sarta mengimplementasikan governance, risk, and compliance(GRC) dengan four eyes principles.
Berbagai upaya peningkatan kinerja bisnis tersebut kata Maryono, juga sebagai bentuk komitmen parseroan menjadi integrator Program Sejuta Rumah yang digulirkan pemerintah.
Adapun, sebagai intergartor program tersebut Bank BTN telah menyalurkan kradit untuk 302.231 unit rumah pada penode Januari-April 2017.
Rinciannya untuk segmen KPR sebanyak 61.496 unit rumah dan memberikan kredit kontruksi untuk 240.735 unit rumah.
Hingga April 2017, BBTN juga telah mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 18% yoy menjadi Rp170,45 triliun. Laju kenaikan tersebut berada di atas rata-rata industri perbankan nasonal sebesar 9.3% yoy per April 2017, DPK BBTN pun melesat di level 21,82% yoy atau naik dari Rp129,29 triliun pada April 2016 menjadi Rp157,52 triliun di bulan yang sama tahun ini.
Gaet Mahkamah Agung
Upaya lain yang dilakukan dalam memompa kinerjanya, Bank BTN terus menjalin kerjasama dengan sejumlah lembaga atau instansi untuk pemanfaatkan jasa perbankan. Salah satunya Mahkamah Agung RI (MA). Penandatanganan Memorandum of Understanding atau Nota Kesepahaman tentang Pemanfaatan Jasa dan Layanan Perbankan di Lingkungan Mahkamah Agung Republik Indonesia dilakukan pada awal paruh kedua 2017.
Dalam MoU yang ditandatangi oleh Direktur Utama Bank BTN Maryono dan Sekretaris Mahkamah Agung RI A.S Pudjoharsoyo, dan disaksikan oleh Ketua MA, Hatta Ali, Bank BTN berkomitmen menyediakan sejumlah fasilitas perbankan yang dibutuhkan MA.
Fasilitas tersebut diantaranya adalah manajemen pengelolaan kas (Cash Management System) untuk mempermudah transaksi keuangan secara online, fasilitas KPR Khusus, dan pemanfaatan program pengembangan operasional (PPO) yang berlaku untuk MA, Pengadilan Negari (PN), Pengadilan Agama (PA) maupun Pengadilan Tinggi (PT).
“Dengan fasilitas ini, kami berharap bisa mendukung MA dalam pengelolaan dana agar lebih akuntabel, transparan dan yang terpenting memudahkan pegawai MA, PN, PT maupun PA untuk mengakses KPR,” kata Maryono di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, minggu pertama Juli lalu.
Kerjasama dengan Mahkamah Agung diyakini Maryono dapat mendongkrak dana murah BTN karena potensi dana yang diperoleh tidak hanya dari dana gaji dan tunjangan kinerja pegawai, tapi juga dana lain seperti penempatan dana konsinyasi perkara, dana panjar perkara dan pengelolaan dana operasional.
“Saat ini baru 31 PN dari 957 Pengadilan di bawah MA yang sudah bekerja sama dengan Bank BTN dengan potensi penempatan dana konsinyasi perkara mencapai kurang lebih Rp 1 triliun,” jelas Maryono.
Menurut dia, jika seluruh Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi memanfaatkan fasilitas yang diberikan Bank BTN, maka potensi dana konsinyasi perkara yang bisa diraih bisa mencapai sekitar Rp 5 triliun hingga Rp7 triliun.
Dana dari hasil kerjasama ini akan memupuk dana murah Bank BTN, terutama nilai giro. Adapun per Juni 2017, kontribusi giro terhadap DPK keseluruhan mencapai sekitar 27%, atau kedua terbesar setelah deposito. Kontribusi giro itu masih lebih tinggi dibandingkan tabungan yang hanya di rentang 20-21 % dari total DPK.
“Dilihat dari pertumbuhannya, giro tumbuh paling agresif sekitar 25- 26% per Juni 2017 dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” kata Maryono.
Pertumbuhan giro yang pesat membuat Bank berkode saham BBTN ini berhasil mendongkrak DPK per Juni tahun ini tumbuh sebesar 18-19% dibandingkan Juni 2016.