INDUSTRY.co.id - Pada 2017, minyak sawit Malaysia akan memasuki masa penanaman 100 tahun, sebuah pencapaian luar biasa untuk menempatkan negeri jiran itu di posisi kedua setelah Indonesia sebagai penghasil sawit terbesar dunia.

Advertisement

Dengan perjalanan panjang itu, Malaysia terus berupaya keras agar komoditas ini tak hanya sebagai lumbung uang bagi kemakmuran rakyatnya, melainkan juga baik bagi lingkungan.

Menurut Lembaga Minyak Sawit Malaysia (MPOC), upaya terkini yang dilakukan pemerintah Malaysia untuk menempatkan sawit sebagai komoditas andalan adalah dengan membentuk Malaysian Palm Oil Certification Council (MPOCC), yaitu lembaga sertifikasi minyak sawit.

Advertisement

Informasi yang diperoleh Antara menyebutkan, Lembaga yang dibentuk pada Oktober 2015 itu bertugas membangun kerjasama dengan Malaysian Sustainable Palm Oil Certification (MSPO) untuk membentuk standar regulasi dan penerapan bisnis dalam industri sawit Malaysia.

 

Advertisement

Tujuannya jelas, yaitu untuk memastikan praktik penananaman dan pengolahan lahan sawit yang benar, selain juga praktik berkesinambungan yang selaras standar internasional, yakni MSPO.

Adapun standar sertifikasi MSPO, menurut data MPOC yang diakses, Senin (19/12), adalah upaya untuk mengakui dan menghargai kualitas produk dan pengolahan minyak sawit Malaysia yang sesuai dengan legislasi dan standar internasional.

Advertisement

Sertifikasi ini mencakup seluruh aspek produksi minyak sawit, mulai dari saat panen hingga menjadi produk akhir. (Hrb)