INDUSTRY.co.id - Jakarta - "Salah satu penyebab mal nutrisi adalah karena ketidak tahuan orang tua. Termasuk memberikan kental manis sebagai pengganti susu kepada anak," kata dokter spesialis anak, dr. Agnes Tri Harjaningrum, MsC, S.pA.
Penegasan dr. Agnes tentang kental manis itu diamini Sekjen Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (KOPMAS) Yuli Supriaty, pengamat sosial Devie Rahmawati, dan Ketua DPN Repdem Rusmani Rusli.
Mereka berkumpul dalam Diskusi Media bertajuk "Salah Kaprah Susu, Kesehatan Anak dan Peran Media Sosial yang digelar di Jl. Wijaya, Jakarta Selatan (14/02/2023).
Diskusi media itu menindaklanjuti viralnya video seorang ibu yang memberikan kental manis untuk anaknya yang masih berusia 7 bulan.
Tak hanya netizen dan pakar kesehatan yang mengecam, Presiden Joko Widodo bahkan turut mengingatkan agar seluruh kader Posyandu dan BKKBN lebih gencar memberi penyuluhaan kesehatan kepada masyarakat.
Diskusi ini membahas pentingnya keselarasan antara edukasi dan sosialisasi seputar nutrition fact produk kental manis belum dipahami secara luas oleh masyarakat.
Sebagai organisasi masyarakat yang memiliki jaringan relawan di seluruh wilayah Indonesia, KOPMAS telah mengumpulkan banyak temuan lapangan mengenai kesalahan konsumsi kental manis oleh masyarakat, terutama pada balita dan anak-anak.
Selain alasan harga produk kental manis yang ekonomis serta tersedia dalam kemasan sachet, pada umumnya masyarakat mengaku tidak paham alasan kental manis tidak baik diberikan sebagai susu untuk anak.
Di Parung, Bogor, misalnya, ditemukan anak 3 tahun yang membeli kental manis kemasan sachet di warung sebelum tidur siang. Konsumsi kental manis sebelum tidur siang itu ternyata rutin dilakukan setiap hari.
Atau di Karawaci, ada ibu yang rutin memberikan 5 hingga 6 botol kental manis rasa cokelat pada anaknya yang berusia 3 tahun. Ada juga ibu yang memberikan kental manis pada anak kembar usia 3 tahun sebagai pengganti susu.
Padahal kental manis sendiri sebenarnya peruntukannya adalah sebagai topping, dan berbahaya dikonsumsi secara berlebihan karena kandungan gulanya yang banyak.
Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi dan sosialisasi gizi belum menjangkau masyarakat secara luas. Selain itu, transparansi kandungan gula dalam produk kental manis minim. Produsen juga tidak melakukan edukasi kandungan produk serta marketing dan promosi produk yang hingga saat ini masih kerap menyasar ibu dan balita.
Sekjen KOPMAS, Yuli Supriaty, memaparkan hasil temuan timnya di lapangan seputar konsumsi kental manis sebagai susu pengganti untuk anak.
"Kami menemukan banyak masyarakat terutama orang tua yang masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu untuk anaknya. Hal ini sangat kami sayangkan,dan ini menandakan masih minimnya tingkat edukasi dan literasi di kalangan masyarakat hingga kurangnya akses informasi bagi masyarakat," Jelas Yuli.
Ia pun meminta berbagai pihak terkait berkolaborasi terkait pencanangan peningkatan literasi gizi untuk masyarakat seputar temuan konsumsi kental manis.
"Kedepannya semua pihak dan stakeholder harus satu suara dalam mengedukasi para orang tua mengenai pemberian kental manis bagi anaknya yang ternyata kandungan didalamnya yang lebih banyak gula," Tegasnya.
Dokter spesialis anak, dr. Agnes Tri Harjaningrum, Msc., S.pA., menyampaikan anak yang diberi kental manis secara terus-menerus secara tidak langsung akan memengaruhi tumbuh kembang anak tersebut.
"Kalau bayi atau anak-anak yang mengkonsumsi kental manis ini memang tidak berdampak langsung, tapi melalui proses sehingga pada akhirnya menjadi diabetes," Jelas dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Permata Depok.
Lebih lanjut dokter spesialis anak tersebut menjelaskan berdasarkan data dari World Health Organization, kandungan gula yang harusnya dikonsumsi yaitu dibawah 10% dari total kalori.
"Sedangkan kalau kental manis sendiri, tambahan gulanya sekitar 19 gram, kalau di konversi sekitar 58 persen. Ini sudah sangat jauh dari batasannya," Tutur dr. Agnes.
Senada dengan Yuli, dr. Agnes menjelaskan bahwa kandungan yang terdapat dalam kental manis, bukan merupakan susu, tapi sirup rasa susu.