INDUSTRY.co.id - Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut bahwa dirinya telah berdiskusi dengan sejumlah asosiasi industri untuk menyiapkan beberapa langkah memitigasi tekanan-tekanan efek domino perlambatan global terhadap sektor manufaktur Indonesia.

Advertisement

Menurutnya, ada tiga langkah mitigasi untuk menekan dampak perlambatan ekonomi global yaitu, pertama, pencarian pasar ekspor baru.

"Kita akan membuka atau akan mencoba membuka akses untuk pasar di Amerika latin, Amerika Selatan, Afrika dan juga negara-negara timur tengah dan Asia," kata Menperin Agus saat konferensi pers pertumbuhan ekonomi secara daring, Senin (7/11).

Advertisement

Langkah kedua yaitu dengan memperkuat dan mendorong promosi kerja sama lintas sektor agar Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) bisa semakin tumbuh. 

"Tentunya ini juga akan membawa tumbuh industri itu sendiri," terangnya.

Advertisement

Sementara langkah ketiga adalah penguatan daya saing industri melalui kemudahan akses bahan baku, penguatan ekosistem usaha dan penguatan sisi produksi.

"Nanti kita bisa lihat dengan berbagai instrumen seperti bea masuk ditanggung pemerintah atau bahan baku untuk industri bisa kota relaksasi fiskalnya, dan juga larangan terbatas (lartas)," tutur Agus.

Advertisement

Meski demikian, Menperin Agus menuturkan, industri nonmigas nasional pada kuartal-III tahun 2022 mencetak pertumbuhan lebih tinggi, yaitu 4,88% secara tahunan (year on year/ yoy). Dibandingkan kuartal-II tahun 2022 yang tercatat tumbuh 4,33%.

Jika diklasifikasikan berdasarkan pertumbuhan, katanya, sektor manufaktur nasional saat ini terbagi kedalam tiga klaster yaitu, pertama, industri tumbuh menguat.

"Industri tumbuh menguat ini sebagai contoh industri alat angkut, industri mesin dan perlengkapan, elektronika. Tentu kita bisa melihat dan mempelajari kenapa beberapa sektor atau sub sektor ini tumbuh menguat karena ada beberapa kebijakan yang diambil pemerintah," papar Menperin.

Kedua, industri tumbuh melambat. "Ini kita bisa melihat industri seperti makanan dan minuman (mamin), tumbuh tapi belum sesuai dengan harapan kita. Karena Pre-covid sektor mamin ini tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Ini akan kita kembalikan," katanya.

Klaster ketiga yaitu industri tumbuh negatif. "Contohnya seperti industri kimia dan farmasi, industri bahan galian non logam. Dan salah satu industri yang terpukul itu adalah industri furnitur, karena pelemahan market khususnya di Eropa dan juga tingginya nilai input atau bahan baku," terang Menperin Agus.

Oleh karena itu, terang Agus, pihaknya akan merumuskan sejumlah kebijakan serta instrumen-instrumen lainnya untuk melindungi industri dalam negeri.