INDUSTRY.co.id - Jakarta - Harga makanan di restoran dan mal berpotensi akan mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan kondisi ketidakpastian ekonomi global yang akhirnya berdampak pada sektor energi dan pangan.
Pasalnya dengan kenaikan harga energi, hal itu dirasakan oleh para pelaku usaha makanan seperti restoran atau cafe yang memerlukan sumber energi yaitu gas.
Ketua Umum DPP Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja menjelaskan, sektor tersebut mengalami dampak yang dalam atas kenaikan harga energi.
"Dampak yang paling terasa itu di restoran dan kafe karena menggunakan gas. Jadi, biaya produksi bisa naik dan akhirnya harga naik," kata Alphonsuz Widjaja, Ketua Umum DPP Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), kepada wartawan usai konferensi pers Indonesia Shopping Festival 2022 di Jakarta (8/3/2022).
Dia mengaku para pengusaha kerap berupaya agar tidak melakukan kenaikan harga. Akan tetapi, apabila dampak krisis energi dan pangan terus berlanjut, ada kemungkinan pelaku usaha terpaksa menaikkan harga produk mereka.
"Saya tidak tahu apakah pelaku usaha bisa bertahan terus dengan tidak menaikkan harga. Tetapi sekarang, saya kira sudah ada kecenderungan kenaikan harga," ucap Alphonsuz.
Alphonzus menjelaskan dengan kenaikan harga energi tentu akan meningkatkan biaya produksi yang berdampak pada kenaikan harga produk.
“Jadi barang-barang produksi naik harga produknya juga akan naik,” jelasnya.
Di sisi lain, inflasi yang terjadi di Indonesia, menurutnya tidak membuat dirinya khawatir akan dampak kepada industri ritel, karena inflasi di Indonesia masih single digit dibandingkan beberapa negara lainnya.
Dia pun optimis bahwa pemerintah juga akan berusaha menjaga inflasi dengan baik dan tidak akan terlalu berdampak terhadap kondisi para usaha keseluruhan.
“Kami optimis bahwa kondisi ini akan tetap terjaga sehingga tidak akan terlalu berdampak,” terangnya.
Di sisi lain, dampak perekonomian global juga terasa pada tingkat keterisian mitra usaha di pusat perbelanjaan. Sebab, dampak inflasi global yang memengaruhi biaya energi juga turut mengganggu penjualan di sektor ritel.
Sebelumnya, tingkat keterisian mitra usaha telah terkontraksi sekitar 10% hingga 20% akibat serangan pandemi. Namun kemudian jumlahnya mulai membaik seiring dengan kondisi pandemi yang relatif terjaga.
"Jadi, saya kira sampai akhir tahun 2022 ini [occupancy rate] bisa mencapai 80% secara nasional. Sebenarnya kami optimistis, tapi kita lihat ke depan," tuturnya.