INDUSTRY.co.id - Jakarta- Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah mengharapkan suntikan modal dari induk sebesar Rp1 triliun untuk mengantisipasi berkurangnya rasio kecukupan modal (CAR) karena keperluan ekspansi perseroan.

Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firma Wibowo mengatakan, saat ini CAR BNI Syariah mencapai 14,45 persen. Dengan tambahan modal Rp1 triliun, maka CAR akan meningkat menjadi 16,5 persen.

"Harapan kami sampai akhir tahun dengan melihat ekspansi seperti ini, masih ada sekitar Rp2 triliun lagi kita ekspansi, kemungkinan kita punya CAR bisa turun sampai 2 persen. Tambahan modal tersebut untuk me-maintain tingkat minimum modal sesuai 'risk appetite' kita di kisaran 14 persen. Suntikan modal kita harapkan secepatnya, kalau bisa bulan ini lebih baik," ujar Firman saat jumpa pers di Jakarta, Jumat (16/6/2017)

Modal inti BNI syariah sendiri kini mencapai Rp2,8 triliun. Melalui tambahan modal dari induk, juga akan membantu mengakselerasi upaya BNI Syariah masuk ke kategori bank BUKU III atau bank dengan modal inti minimum Rp5 triliun.

"Setiap kita lakukan ekspansi sebesar Rp1 triliun, CAR kita bisa berkurang 0,3 - 0,4 persen. Sehingga kalau seandainya kita dapat tambahan Rp2 triliun, kita bisa tetap menjaga permodalan kita," katanya.

Firman menuturkan, untuk memacu pertumbuhan bisnis perseroan lebih cepat, memang dibutuhkan strategi anorganik, baik melalui partner strategis ataupun dengan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO).

"Apabila price value kita bagus, kita bisa IPO, tapi kita harus online dan dapat approve dari shareholder kita, yaitu pemilik kita BNI. Untuk IPO sendiri tahun ini baru penjajakan, mungkin tahun depan," ujarnya.

Apabila BNI Syariah telah masuk kategori bank BUKU III, lanjut Firman, maka perseroan dapat melakukan operasi bisnis di luar negeri dan memanfaatkan kantor cabang, perwakilan, dan agensi remiten yang ada.

Oleh karena itu, ia mengharapkan perseroan dapat sesegera mungkin mendapatkan tambahan modal agar bisa masuk ke BUKU III.

"Misalnya modal kita bisa capai modal BUKU III, saat ini modal kita Rp2,8 triliun, kalau kita untung Rp250 miliar per tahun. Untuk capai Rp5 triliun kan butuh waktu delapan tahun, sehingga kita butuh strategi anorganik," kata Firman.