INDUSTRY.co.id, Jakarta - Industri baja Indonesia bergerak dinamis mengikuti kebutuhan dalam negeri dan dunia. Sebagai komponen penting dalam pembangunan infrastruktur dan kebutuhan primer masyarakat untuk membangun sarana hunian di perkotaan, produksi baja memerlukan sumber energi yang berwawasan hijau.
Salah satu figur yang memperhatikan bagaimana industri baja tetap bertumbuh dengan tetap memperhatikan wawasan hijau adalah Liwa Supriyanti, yang berkecimpung di dunia baja ini sebagai direktur di PT Gunung Prisma.
Wawasan Hijau Untuk Industri Berkesinambungan
Dunia industri dewasa ini secara global memberikan perhatian yang besar terhadap upaya-upaya untuk melakukan konservasi dalam setiap tahapan produksinya dan aktivitas sosial atau kemasyarakatan yang bisa memberikan dampak yang baik dalam skala luas maupun mikro terhadap lingkungan sekitarnya, air, tanah dan udara.
Dari bahan bakunya, biji besi merupakan bahan tambang yang digali dari sejumlah lokasi di Indonesia. Melansir dari mining-technology.com, ada 5 lokasi yang merupakan penghasil biji besi terbesar, yaitu Yiwan, Kalimantan Selatan; pulau Gag, Papua; Pomalaa, Sulawesi Tenggara; pulau Pakal, Maluku Utara; dan Nalo Baru, Jambi.
Dari Statista.com memaparkan volume produksi biji besi di Indonesia untuk periode 2014-2020 berada di bawah 4 juta MT secara tahunan, dengan volume sekitar 3,62 MT pada tahun 2020.
Industri baja dengan wawasan hijau dalam pengertian umum adalah untuk baja yang dihasilkan seminim mungkin mengeluarkan jejak dan/atau emisi karbon dalam prosesnya dan ada berbagai penerapan yang bisa dilakukan untuk itu.
Untuk konsumsi energi, pemerintah telah mengeluarkan PP No. 70 Tahun 2009 tentang konservasi energi sebagai pelaksanaan dari Undang-Undang No. 30 Tahun 2007 tentang energi, yang mengatur peran segenap pemangku kepentingan, pemerintah, pengusaha dan masyarakat.
Pemanfaatan energi yang berkesinambungan menekankan perlu adanya penghematan dan efisiensi dengan manajemen energi apakah melalui peran manajer, audit energi maupun penerapan teknologi yang inovatif pada tahap proses yang ada.
Untuk industri yang menggunakan sumber energi minimal 6.000 ton setara minyak per tahun, PP tersebut di atas mempunyai kewajiban untuk melakukan konservasi melalui manajemen energi, dengan bergulirnya program pengurangan emisi CO2 di sector industri, yang dimotori oleh Kementerian Perindustrian.
Pengembangan teknologi yang bisa mengurangi konsumsi batu bara menjadi jalan untuk menapaki era yang lebih cerah bagi industri dan lingkungan.
Dari artikel daring menyebutkan, produksi baja harus menyingkirkan oksigen dari biji besi untuk menghasilkan logam besi murni, dengan memanfaatkan batu baru atau gas alam yang dalam prosesnya melepaskan CO2. Untuk prduksi baja hijau ini artinya hydrogen yang dihasilkan dari energi terbarukan menggantikan bahan bakar fosil.
Untuk menghasilkan baja sebagai produk, salah satu dari tiga proses berikut ini merupakan cara untuk mencapainya.
Saat ini, tanur tinggi (blast furnace) merupakan cara utama di dunia untuk produksi baja. Manfaat batu bara ini diantaranya untuk menghasilkan panas dan membuat CO (karbon monoksida) membawa oksigen lepas dari biji besi.
Hidrogen menjadi pertimbangan untuk alternatifnya, tetapi dengan tantangan bahwa hydrogen harus didapatkan dari sumber yang terbarukan. Menggunakan hydrogen berarti pemanasan lebih tinggi dibandingkan dengan metode batu bara. Ditambah lagi, batu bara padat juga menjadi bagian utama dalam tungku yang tidak bisa digantikan oleh hydrogen, selain biomassa yang katanya dicampurkan dengan batu bara.
Daur ulang baja bekas dengan arch furnace (arch furnace) bertenaga listrik menghasilkan emisi karbon yang lebih sedikit, 0,4 ton CO2 dan akan berkurang lagi jika pembangkit listriknya bersumber dari energi terbarukan.
Kekurangannya adalah daur ulang baja bekas ini ada batas siklus daurnya dan mendapatkan sumbernya juga memberikan tantangan tersendiri karena baja adalah produk dengan daya tahan jangka panjang.
Lalu, ada teknologi yang disebut “Direct reduced iron”, disingkat DRI yang memakai gas methan untuk mendapatkan hidrogen dan karbon monoksida (CO). Walaupun emisi karbon berkurang signifikan, tetapi prosesnya sendiri butuh listrik yang lebih banyak dibandingkan tanur tinggi.
Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana mendapatkan hidrogen ini dari sumber yang sepenuhnya terbarukan merupakan PR yang masih perlu diselesaikan.
Liwa Supriyanti berpandangan bahwa penerapan industri baja yang berwawasan hijau merupakan transisi yang butuh waktu lagi ke depan dan tantangan yang ada cukup berat, memerlukan perubahan pola pikir dan inovasi teknologi.