Dahsyat...LPI Laris Manis! Lembaga Besutan Jokowi Ini Bikin Tiga Negara Lomba-lomba Benamkan Modal Senilai Rp113 Triliun
INDUSTRY.co.id - Jakarta - Lembaga Pengelola Investasi (LPI) yang dibentuk oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus menjadi magnit bagi investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Ya, hal tersebut tercermin dari total perolehan dana yang berasal dari komitmen tiga negara dengan total mencapai Rp113,5 triliun.
Ketiga negara tersebut ialah Amerika Serikat (AS), Jepang dan Kanada.
Menko Martim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan ketiganya akan terlibat masuk dalam sejumlah proyek strategis nasional.
Kesepakatan dengan nama pertama yakni AS, menurut Luhut berasala dari hasil penandatanganan Letter of Interest (LOI).
"Dalam kesepakatan tersebut, melalui perusahaan pembiayaan Amerika Serikat atau The US International Development Finance Corporation (DFC) akan mengucurkan dana investasi ke LPI sebesar USD 2 miliar atau setara Rp 28,3 triliun," terang Luhut dalam keterangannya yang dikutip redaksi Industry.co.id pada Sabtu (19/12).
Selain itu, negara kedua yang turut masuk ke LPI ialah Jepang.
Bahkan, sebut Luhut, Japan Bank for International Cooperation (JBIC) memberikan komitmen investasi dua kali lipat lebih besar dari yang diberikan the US International Development Finance Corporation (DFC), lembaga pembiayaan Amerika.
"JBIC siap mendukung pendanaan SWF Indonesia sebesar USD 4 Miliar (Rp 57 Triliun)," ungkapnya.
Berikutnya, negara ketiga yang akan menggelontorkan dana investasinya ke LPI berasal dari Kanada.
"Kemarin kita dapat tambahan USD 2 miliar dari Kanada. Mereka akan komitmen," jelas Luhut.
Perlu diketahui, rancangan peraturan pemerintah atau RPP terkait keberadaan LPI yang mengelola dana asing ini telah terbentuk dan ditandatangani langsung oleh Presiden Jokowi.
Sejatinya, LPI dibentuk dengan tujuan mengelola pembiayaan proyek di Indonesia yang berasal dari berbagai negara di dunia.
Adapun modal awal dari LPI sendiri berasal langsung dari pemerintah Indonesia yakni sekitar 6 miliar dolar AS.