Rekor Laba Pertamina

Oleh : Arya Mandala | Selasa, 02 Mei 2017 - 09:08 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY co.id - JakartaHarapan kontribusi laba bersih BUMN terbesar tahun ini tampaknya kembali disandarkan pada PT Pertamina (Persero). Wajar melihat capaian laba impresif yang dibukukan BUMN migas tersebut sepanjang 2016. Perolehan laba Pertamina tahun lalu kembali menjadi yang terbesar setelah sempat disalib oleh Bank Rakyat Indonesia di tahun 2015.

Sepanjang 2016, Pertamina berhasil  membukukan laba bersih sebelum audit (unaudited) sebesar US$ 3,14 miliar atau setara Rp 42,3 triliun. Laba bersih sebesar US$ 3,14 miliar tersebut lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan dengan realisasi tahun 2015 yang sebesar US$ 1,42 miliar. Bahkan, jumlah tersebut merupakan rekor tertinggi sejak Pertamina berdiri 59 tahun silam.

Dalam keterangan resminya belum lama ini, Manajemen Pertamina mengungkapkan capaian laba itu merupakan buah dari strategi efisiensi dan ekspansi yang dilakukan perusahaan sepanjang tahun 2016. Angka ini terlihat dari penurunan biaya operasional yang turun 19,97 persen dari angka US$37,84 miliar di tahun 2015 ke angka US$30,28 miliar. "Penekanan biaya dikakukan secara signifikan dibanding tahun 2014 dan 2015. Kali ini, konsekuensi laba operasi menjadi baik,” ujar Manajemen Pertamina.

Ada beberapa upaya efisiensi dan ekspansi bisnis perusahaan yang membuahkan hasil. Pertama, negosiasi kontrak yang eksisting, optimalisasi inventori, maupun sentralisasi material. Hasil efisiensi dari sentralisasi pengadaan di sektor hulu migas mencapai US$ 55 juta. Sedangkan efisiensi dari bisnis pengolahan setelah dikurangi hitungan efisiensi konsolidasi sekitar US$ 56 juta.

Salah satu efisiensi yang dilakukan tahun lalu adalah renegosiasi kontrak bagi hasil (PSC), salah satunya pada Blok WMO. Selain itu, Pertamina mengoptimalkan pemakaian aset hulu migas yang wilayah kerjanya saling berdekatan antara satu dengan yang lain, seperti di wilayah kerja milik Pertamina Hulu Energi (PHE).

Kedua, efisiensi dari pengadaan minyak mentah sebesar US$ 286 juta, efisiensi pengolahan minyak mentah di Irak (CPD Basrah) sekitar US$ 26 juta dan efisiensi pembelian LPG Iran mencapai US$  28,2 juta.  Ketiga, meningkatnya volume penjualan Pertalite dan varian baru solar, yaitu Dexlite, sebesar US$ 349 juta. Selain itu, optimalisasi keterisian kapal dan bunker shipping sebesar US$ 109,4 juta. Ada pula beberapa upaya lain Pertamina untuk menekan kerugian.

Berbagai upaya efisiensi dan ekspansi bisnis itu juga diakumulasikan dengan kinerja Pertamina di sektor hulu migas. Tahun lalu, Pertamina berhasil membukukan produksi  minyak mentah sebesar 278 juta barel minyak per hari (mbopd), meningkat 12,3 persen dari tahun 2015 yang hanya 312 mbopd. Sedangkan produksi gas sebesar 1.961 mmscfd, meningkat 3,1 persen dari tahun 2015 yang sebanyak 1.902 mmscfd.

Hasilnya, Pertamina mencatatkan pendapatan hingga akhir tahun lalu sebesar  US$ 36,45 miliar. Jumlahnya turun sekitar 12,7 persen dibandingkan dengan  pendapatan 2015 yang sebesar US$ 41,76 miliar. Kembali lagi penurunan pendapatan tadi “ditutupi” dengan genjarnya efisiensi yang dilakukan sehingga berujung pada capaian laba bersih yang impresif.

Arya Mandala Lihat semua artikel →